
Artikel ke 21
Menggunakan Perumpamaan atau Metafora
Dalam menulis kreatif, penggunaan perumpamaan atau metafora ini sangat dianjurkan. Penggunaan metafora membuat pemilihan frasa dan diksi lebih kaya, sehingga apa yang disampaikan akan mempengaruhi imaji pembaca.
Perumpamaan atau metafora adalah pemakaian kata atau kelompok kata yang bukan arti Sebenarnya, melainkan persamaan atau perbandingan. Metafora adalah majas yang digunakan untuk mengungkapkan sesuatu secara langsung berupa perbandingan analogis dan menghilangkan kata layaknya, bagaikan dan semacamnya. (deepublish.com)
Kalau kita membaca karya sastra yang pada umumnya penuh dengan metafora, itulah bedanya karya sastra dengan karya biasa. Pengayaan kata menjadi sebuah kelompok kata yang mengandung nilai-nilai filosofis, sehingga apa yang disajikan memiliki nilai tersendiri dihati pembaca.
Banyak Quote ditulis dengan menggunakan metafora, sehingga membuat kata-kata yang disampaikan melekat dibenak pembaca. Pada karya-karya Pramoedya Ananta Toer, atau juga Kho Ping Ho, banyak ditemukan metafora, yang sangat menginspirasi dan terus melekat dalam ingatan.
Memang tidak mudah menggunakan metafora, dibutuhkan perbendaharaan kata baru yang tidak biasa. Kalau pun menggunakan perbendaharaan kata yang ada, tentunya dirangkai dengan baik dan filosofis.
Salah satu dialog fenomenal dalam buku Pramoedya Ananta Toer, ada dalam ‘Bumi Manusia’: “Kita telah melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya”. Begitulah Pram meramu, meracik kata-kata, menjelmakannya dalam dialog dan cerita.
Nyai Ontosoroh, Anelis, dan Minke pada akhirnya harus kalah dalam sistem hukum kolonial yang diskriminatif dan menindas. Tapi (tentu saja) mereka telah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.
Dialog-dialog yang dituangkan bukanlah dialog kosong tanpa makna, setiap kata dan dialog disajikan secara apik dan memiliki kedalaman filosofis. Seperti itulah yang dibutuhkan dalam menulis kreatif.
Acuan dalam menulis tentulah pada penulis-penulis terkenal, belajar pada karya-karya mereka, bagaimana meramu sebuah tulisan kreatif agar menarik bagi pembaca. Karya kreatif bukanlah untuk dinikmati sendiri, tapi disajikan untuk memberikan inspirasi pada pembaca, agar memberikan manfaat bagi pembacanya.
Ada salah satu dialog yang juga cukup fenomenal dalam film Penghianatan G 30 S PKI, dialog ini sangat melekat dibenak masyarakat yang menonton film tersebut.
Meski beredar di masyarakat dengan kutipan, “Darah itu merah, Jenderal,” namun itu bukan dialog yang persis diucapkan dalam film. Dialog film yang sebenarnya, adalah “Darah itu warnanya merah, Jenderal. Seperti amarah.”
Kalimat ini ditampilkan dalam adegan penyiksaan, saat sejumlah anggota PKI memaksa para jenderal untuk menandatangani surat yang menyebut keberadaan Dewan Jenderal.
Contoh diatas adalah merupakan penggunaan metafora kata yang begitu pas dan sesuai dalam menulis kreatif, sehingga kata-kata dalam dialog itu begitu melekat dalam benak pembaca atau penonton.
Penggunaan metafora memang dianjurkan, namun juga tidak boleh berlebih-lebihan. Sesuatu yang berlebihan itu akibatnya akan menjadi klise, namun ketika penggunaanya pas, maka dia akan menjadi nyawa sebuah tulisan.
Kunci dari semua itu adalah terus menulis dan mempelajari kesalahan, dengan cara memperbanyak membaca karya-karya sastra, dan karya tulisan kreatif yang baik. Yang dikatakan seorang penulis itu adalah orang yang terus menulis, dan memberikan gagasan, ide melalui karya tulisnya.
Tidak ada yang bisa diraih secara instan, semua harus melalui proses kreatif dan pengayaan batin. Pada artikel selanjutnya akan dibahas beberapa hal yang masih terkait dengan menulis kreatif. Seperti misalnya, bagaimana menggali ide, apa yang dilakukan setelah menulis, dan lain sebagainya.
Ajinatha









Banyak mendapat inspirasi acuan menulis bila membaca tulisan pak aji.terimakasih
Alhamdulillah mas apresiasinya.. Saya berbagi sambil mengamalkan apa yang saya tulis, dengan menuliskannya sy jadi terus belajar.. Terima kasih mas..