18.19 di IGD: Ketika Kurma Harus Menunggu

Terbaru19 Dilihat

“IGD, 18.17 — Menunggu Adzan di Tengah Pasien Penuh”

Sisa dua menit menuju maghrib.

Langit di luar mulai oranye, tapi di dalam IGD waktu tidak pernah terasa sore.
Lampu putih tetap terang.
Pintu otomatis tetap terbuka–tertutup tanpa henti.

Saya sudah berpuasa hampir 13 jam.
Sejak sahur hanya sempat minum air dua gelas.
Seharian belum duduk lebih dari lima menit.

Di meja perawat ada satu plastik kecil:
air mineral, tiga kurma, dan roti yang sudah agak kempes.
Itu rencana buka puasa saya.

Saya bahkan sudah membayangkan tegukan pertama.

Lalu pintu IGD terbuka keras.

Brankar masuk cepat.

“Sesak! Sesak berat!”

Seorang bapak sekitar 60 tahun, napasnya pendek-pendek, dadanya naik turun cepat.
Keluarganya panik, berbicara bersamaan.

Monitor belum terpasang, oksigen belum terhubung, tapi satu hal sudah jelas:
ini tidak bisa menunggu adzan.

Saya memasang oksigen.
Perawat lain menyiapkan nebulizer.
Dokter jaga memeriksa cepat.

Jam dinding: 18.18

Adzan hampir terdengar.

Di ruangan sebelah, seorang anak demam tinggi menangis terus.
Di bed observasi, pasien kecelakaan meringis menahan nyeri.
Kursi tunggu penuh — beberapa pasien bahkan duduk di lantai.

IGD sedang penuh.
Sangat penuh.

Lalu monitor berbunyi lebih cepat.

Saturasi bapak itu turun.

“Naikkan oksigen.”
“Siapkan akses IV.”
“Ambil obat.”

Saya menusukkan jarum infus.
Tangan saya sedikit gemetar — bukan karena lapar, tapi karena waktu terasa menekan.

Dan tepat saat jarum berhasil masuk—

Adzan maghrib berkumandang dari masjid dekat rumah sakit.

Suara itu biasanya menenangkan.
Biasanya hangat.

Tapi di IGD, adzan bukan tanda berhenti.

Adzan hanya suara latar.

Saya melihat meja perawat.
Kurma saya masih utuh.
Air mineral masih tertutup.

Tidak ada yang bergerak ke sana.

Kami masih memegang pasien.

Nebulizer mulai bekerja.
Napas pasien perlahan lebih teratur.
Monitor tidak lagi berbunyi cepat.

Beberapa menit kemudian, kondisinya membaik.

Saya baru sadar tenggorokan saya sangat kering.

Saya kembali ke meja perawat.
Airnya sudah tidak dingin.
Kurma sedikit mengeras.

Saya duduk sebentar, membaca basmalah pelan, lalu minum.

Tegukan pertama terasa sangat sederhana.

Tapi anehnya… bukan rasa haus yang paling terasa.

Yang terasa justru lega.

Di IGD, buka puasa bukan tentang makanan.
Bukan tentang minuman manis.
Kadang bahkan bukan tentang jam adzan.

Buka puasa adalah ketika pasien yang datang dengan napas tersengal akhirnya bisa menarik napas dengan tenang.

Dan setiap Ramadhan saya selalu sadar satu hal:

Sebagian orang berbuka dengan keluarga.
Sebagian orang berbuka dengan teman.

Kami berbuka…
dengan memastikan seseorang tetap hidup sampai malam.

Tinggalkan Balasan