Detik yang Tidak Pernah Terduga

Terbaru10 Dilihat

Hujan turun tipis sore itu. Terminal kecil di pinggir kota tampak lebih padat dari biasanya. Orang-orang berteduh sambil menunggu bus, sebagian sibuk dengan ponsel, sebagian lagi hanya melamun memandangi jalanan basah.

Di bangku paling ujung, seorang pria sekitar lima puluh tahun memegang dadanya.

Awalnya tidak ada yang menyadari.

Ia menarik napas berat. Wajahnya pucat. Keringat bercucuran meski udara dingin. Beberapa detik kemudian, tubuhnya roboh ke lantai.

Suara benturan membuat orang-orang menoleh.

“Pak! Pak!” seorang pedagang mendekat dan mengguncang bahunya.

Tidak ada jawaban.

Tubuh pria itu terbaring tak bergerak. Matanya terpejam. Bibirnya kebiruan.

Kerumunan mulai terbentuk. Seperti biasa. Banyak yang melihat, sedikit yang tahu harus berbuat apa.

“Kasih minyak angin!”
“Angkat saja ke kursi!”
“Panggil ambulans!”

Semua terdengar panik.

Di sudut lain terminal, seorang perempuan muda berdiri membeku. Namanya Rani. Ia seorang karyawan bank yang baru pulang kerja. Beberapa bulan lalu, kantornya mengadakan pelatihan Bantuan Hidup Dasar.

Ia hampir tidak ikut waktu itu. Mengira pelatihan tersebut tidak terlalu penting.

Namun kini, di depannya, teori itu berubah menjadi kenyataan.

Jantungnya berdebar keras.

Kalau korban tidak respons dan tidak bernapas, segera mulai CPR.

Suara instruktur teringat jelas.

Rani melangkah maju, meski lututnya terasa lemas.

“Tolong beri ruang!” katanya cukup lantang.

Ia berlutut di samping pria itu. Menepuk bahunya.

“Pak? Bisa dengar saya?”

Tidak ada respons.

Ia mendekatkan telinganya ke mulut pria itu. Tidak ada napas. Dadanya tidak bergerak.

Tangannya mencoba meraba nadi di leher. Ia tak merasakan apa pun.

Waktu seperti berhenti.

Lalu ia berkata dengan suara tegas, meski tangannya gemetar:

“Tolong hubungi ambulans sekarang!”

Ia menempatkan kedua tangannya di tengah dada pria itu. Mengunci jari-jarinya. Memposisikan bahu tepat di atas tangannya.

Dan ia mulai menekan.

Satu.
Dua.
Tiga.

Ia menghitung dalam hati, lalu keras-keras agar ritmenya terjaga.

Tekan kuat.
Tekan cepat.
Jangan berhenti.

Orang-orang di sekelilingnya kini diam. Menonton dengan harapan bercampur cemas.

Tiga puluh kompresi.

Ia memberi dua napas bantuan, lalu kembali menekan.

Tangannya mulai pegal. Napasnya memburu. Pikirannya dipenuhi ketakutan—bagaimana kalau aku salah? bagaimana kalau tidak berhasil?

Namun ia tahu satu hal:

Tidak melakukan apa-apa jauh lebih berbahaya.

Beberapa menit terasa seperti satu jam.

Tiba-tiba pria itu tersentak kecil. Dadanya bergerak pelan. Ia terbatuk lemah.

“Dia bernapas!” seseorang berteriak.

Rani berhenti, mundur sedikit, hampir tak percaya.

Beberapa saat kemudian ambulans datang. Petugas medis memeriksa dan segera membawa pria itu ke rumah sakit.

Saat tandu diangkat, tangan pria itu bergerak lemah. Matanya terbuka sebentar.

Ia hidup.

Rani terduduk di lantai terminal yang dingin. Hujan masih turun, tapi ia hampir tidak merasakannya. Tangannya gemetar, bukan karena takut lagi—melainkan karena ia baru saja melakukan sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Ia baru saja mempertahankan nyawa seseorang.


Lebih dari Sekadar Teknik

Cerita seperti itu bisa terjadi di mana saja.

Di terminal.
Di sekolah.
Di rumah.
Di kantor.
Bahkan di ruang tamu kita sendiri.

Henti jantung sering datang tanpa peringatan. Dalam empat hingga enam menit tanpa oksigen, otak mulai mengalami kerusakan permanen. Ambulans jarang tiba dalam satu atau dua menit pertama. Selalu ada jeda waktu yang sangat menentukan.

Di situlah Bantuan Hidup Dasar menjadi sangat penting.

Bantuan Hidup Dasar adalah serangkaian tindakan sederhana yang dapat dilakukan oleh siapa saja untuk mempertahankan pernapasan dan sirkulasi darah korban sampai bantuan medis datang. Di dalamnya termasuk mengenali henti jantung, meminta pertolongan, melakukan resusitasi jantung paru (CPR), dan menggunakan AED jika tersedia.

CPR bekerja dengan cara menggantikan fungsi jantung sementara—memompa darah secara manual melalui kompresi dada agar oksigen tetap mengalir ke otak dan organ vital.

Setiap kompresi adalah usaha untuk menjaga kehidupan tetap bertahan.
Setiap detik yang diisi tindakan adalah peluang untuk selamat.

Penelitian di berbagai negara menunjukkan bahwa korban henti jantung yang segera mendapatkan CPR dari orang di sekitarnya memiliki peluang hidup jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mendapatkan pertolongan awal.

Artinya, keselamatan seseorang sering kali tidak hanya bergantung pada tenaga medis—tetapi pada orang biasa yang kebetulan berada di tempat kejadian.

Orang biasa seperti Rani.

Orang biasa seperti kita.

Bantuan Hidup Dasar bukan hanya keterampilan teknis.
Ia adalah bentuk kepedulian yang diwujudkan dalam tindakan nyata.

Karena dalam keadaan darurat, keberanian yang didukung pengetahuan bisa menjadi perbedaan antara kehilangan dan harapan.

Dan suatu hari nanti, ketika detik yang tidak pernah terduga itu datang,

semoga kita tidak hanya menjadi saksi—

tetapi menjadi penyelamat.(RD)

Tinggalkan Balasan