“Kami Tidak Bisa Lari: Kisah Perawat Jaga Saat Alarm Kebakaran Berbunyi”

Terbaru6 Dilihat
Jam dinding di nurse station selalu terasa lebih lambat saat jaga malam.

Pukul 02.00 adalah waktu paling berat.

Kopi sudah tidak mempan.

Kelopak mata terasa berat.

Lorong bangsal panjang dan sunyi seperti tidak berujung.

Saya baru saja selesai mengganti cairan infus pasien bed 7.

Monitor berdetak pelan.

Keluarga pasien tidur berselimut jaket tipis di kursi penunggu.

Saya berpikir: sebentar lagi subuh…

Lalu—

Teeeeet… teeeeet… teeeeet…

Alarm kebakaran.

Saya berhenti berjalan.

Bukan langsung lari.

Bukan langsung panik.

Kami semua hanya… diam.

Perawat lain keluar dari ruang obat.

Kami saling menatap dengan ekspresi yang sama: ragu.

“Error kali…”

“Panelnya sering bunyi…”

Beberapa detik berlalu.

Dan justru detik itulah yang kemudian saya ingat terus.

Karena setelah itu saya mencium bau asing.

Tipis.

Pahit.

Seperti kabel listrik yang meleleh.

Bulu kuduk saya berdiri.

Saya keluar ke koridor.

Gedung tampak normal. Lampu tetap terang. Tidak ada api.

Tapi justru itu menakutkan.

Kami dilatih menghadapi pasien henti jantung.

Kami tahu apa yang harus dilakukan saat Code Blue.

Tapi malam itu saya sadar —

kami tidak pernah benar-benar siap untuk Code Red.

Telepon ruangan berdering.

Operator hanya mengatakan dua kata:

“Code Red.”
Tangan saya tiba-tiba dingin.

Saya menoleh ke bangsal.

Ada pasien dengan oksigen.

Ada pasien pasca operasi.

Ada pasien stroke yang bahkan tidak bisa memanggil.

Dan tiba-tiba satu pikiran muncul yang tidak pernah diajarkan di bangku kuliah:

Saya tidak bisa menyuruh mereka lari.

Saya harus memindahkan mereka.

Saya membangunkan keluarga pasien satu per satu.

“Pak… Bu… kita pindah ruangan dulu ya.”

Wajah-wajah bingung berubah jadi takut.

“Kenapa?”

“Ada apa?”

“Bahaya ya, sus?”

Saya ingin menjawab dengan tenang.

Padahal jantung saya berdetak keras.

Kami mulai evakuasi.

Monitor dilepas.

Infus dibawa sambil berjalan.

Oksigen dipindah sambil setengah berlari.

Alarm masih menjerit di langit-langit.

Suara itu seperti mengingatkan: waktu tidak banyak.

Yang paling berat adalah pasien yang tidak sadar.

Saya berdiri di samping tempat tidurnya beberapa detik.

Dia tidak tahu apa yang terjadi.

Dia tidak tahu ruangan ini mungkin berbahaya.

Dia hanya bernapas… karena kami menjaganya.

Kami mengangkat tempat tidur bersama-sama.

Badan saya gemetar — bukan karena berat, tapi karena takut.

Takut salah keputusan.

Takut terlambat.

Takut tidak cukup cepat.

Di ujung koridor mulai terasa udara hangat bercampur bau hangus.

Mata mulai perih.

Keluarga pasien mulai panik.

Ada yang menangis.

Ada yang bertanya berulang-ulang.

Tapi kami tidak boleh terlihat panik.

Karena di ruangan itu,

ketenangan perawat adalah satu-satunya hal yang membuat orang lain percaya mereka akan selamat.

Beberapa menit kemudian tim keamanan memastikan sumber api sudah dipadamkan.

Tidak ada pasien meninggal.

Tidak ada luka.

Namun setelah semuanya tenang, saya baru sadar tangan saya masih gemetar.

Saya duduk di nurse station.

Untuk pertama kalinya saya mengerti sesuatu:

Menjadi perawat bukan hanya tentang memberikan obat, memasang infus, atau mencatat tanda vital.

Kadang…

Menjadi perawat berarti tetap berdiri di dalam gedung yang mungkin berbahaya,

karena di dalamnya ada orang-orang yang tidak bisa menyelamatkan diri.

Dan saat alarm berbunyi pukul 02.17 pagi,

kami bukan orang paling berani di sana.

Kami hanya orang yang tidak punya pilihan selain tetap tinggal.

Tinggalkan Balasan

News Feed