Lima Menit di Antara Dua Panggilan

Terbaru35 Dilihat

Jam di dinding IGD menunjuk pukul 18.07.
Suara monitor jantung berdetak ritmis—beep… beep… beep… —menjadi latar musik yang tak pernah benar-benar berhenti di ruang itu.

Rina, perawat jaga sore, baru saja membasuh tangan dari bekas memasang infus pasien anak ketika suara adzan Maghrib mulai terdengar samar dari masjid rumah sakit.
Suara itu masuk melalui pintu otomatis IGD yang sesekali terbuka—bercampur dengan suara tandu, tangisan keluarga pasien, dan perintah dokter yang cepat.

“Allahu akbar… Allahu akbar…”

Rina melirik jam lagi.

Sudah masuk waktu.

Ia menelan ludah. Sejak siang ia belum sempat shalat Ashar karena lonjakan pasien kecelakaan beruntun di jalan lintas. Di saku seragamnya ada mukena kecil lipat—ia selalu membawanya. Bukan karena IGD tenang, justru karena IGD hampir tidak pernah tenang.

“Rin, kamu duluan shalat. Aku cover,” kata Siska, rekannya, sambil menulis status pasien.

Rina mengangguk kecil. Ia tahu kesempatan di IGD bukan soal luang, tapi soal celah.
Ia melangkah cepat ke mushola kecil di pojok koridor.

Baru saja ia berdiri menghadap kiblat dan mengangkat tangan untuk takbiratul ihram—

“BRANKAAAAR!!! HENTI NAPAS!!!”

Teriakan satpam menggema dari arah pintu IGD.

Refleks.

Mukena itu langsung ia lipat kembali. Tak ada kalimat yang diucapkan, tapi ia tahu—shalatnya harus menunggu.
Ia berlari.


Seorang pria sekitar lima puluh tahun dibawa masuk. Wajahnya pucat keabu-abuan. Istri dan anaknya menangis di belakang tandu.

“Riwayat nyeri dada di rumah, tiba-tiba kolaps di mobil!” teriak petugas.

Dokter jaga langsung:
“Rina, monitor! Siska, akses IV! Siapkan crash cart!”

Rina menempelkan elektroda. Garis di monitor hampir datar.

Asystole.

Detak jantung nihil.

“Mulai RJP!”

Ia langsung naik ke sisi tempat tidur. Kedua tangannya bertumpu di tengah dada pasien.

Satu… dua… tiga… empat…

Kompressi dada dimulai. Tubuhnya naik turun mengikuti ritme 100–120 kali per menit.
Keringat mulai mengalir dari pelipisnya. Adzan Maghrib masih terdengar jauh di luar, kini bercampur suara ventilasi bagging.

“Allahu akbar…”

Dalam hati Rina ikut menjawab. Bukan dengan suara, tapi dengan tekanan tangan di dada pasien.

Ya Allah, hidupkan dia…

“Adrenalin 1 mg!”
“Masuk, Dok!”
“Lanjut kompresi!”

Dua menit terasa seperti setengah jam.
Tangannya mulai pegal, tapi ia tidak berhenti.

Ia tiba-tiba teringat satu kalimat dosen keperawatannya dulu:

Di IGD, kadang kamu menolong orang untuk kembali ke dunia… kadang kamu hanya menemani mereka menuju akhirat. Tapi keduanya adalah ibadah.

“Stop kompresi. Cek nadi.”

Semua hening.

Monitor masih garis datar.

Istri pasien di luar menangis keras.

Rina menahan napas.


“Lanjut RJP!”

Ia kembali menekan dada pasien.
Kali ini ia tidak hanya bekerja sebagai perawat. Ia merasa sedang berpacu dengan sesuatu yang tak terlihat—waktu, takdir, dan kematian.

Ya Allah, aku belum sempat shalat… tapi aku sedang menjaga nyawa hamba-Mu…

Air matanya hampir jatuh, tapi ia tetap menghitung.

28… 29… 30…

“Shockable rhythm! VF!”

“Siapkan defibrillator!”

Gel diaplikasikan. Paddle ditempelkan.

“Clear!”

DUARR!

Tubuh pasien terangkat sedikit.

Monitor masih bergetar.

Rina memegang sisi tempat tidur. Tangannya gemetar.

“Cek nadi…”

Dokter terdiam.

Satu detik.
Dua detik.

“ADA NADI!”

Monitor berubah — beep… beep… beep…

Detak jantung kembali.

Rina tak sadar napasnya bergetar. Untuk pertama kalinya sejak awal tindakan, ia berhenti bergerak.

Istri pasien jatuh terduduk di lantai sambil menangis,
“Terima kasih… Ya Allah… terima kasih…”

Rina menunduk.

Bukan karena lelah.
Tapi karena dadanya tiba-tiba penuh.


Jam menunjukkan 18.32.

Pasien sudah stabil dan dipindahkan ke ICU. IGD kembali ke ritme biasanya — tidak pernah sepi, tapi tidak lagi panik.

Siska menepuk bahunya.
“Sekarang… shalatlah.”

Rina berjalan pelan ke mushola. Kali ini pintunya tertutup tenang. Tidak ada teriakan. Tidak ada alarm.

Ia berdiri menghadap kiblat.

Takbir.

“Allahu akbar…”

Baru di rakaat pertama, air matanya jatuh.

Ia sadar sesuatu:
tadi ia tidak meninggalkan shalat.

Ia hanya melaksanakannya dengan cara yang berbeda.

Ketika ia rukuk, yang teringat bukan bacaan panjang—
melainkan wajah pasien yang kembali berwarna, suara monitor yang berdetak, dan tangan yang kembali hangat.

Di sujud terakhir ia berdoa lama:

Ya Allah… jika tadi Engkau menerima lelahku sebagai ibadah… maka terimalah juga shalatku yang terlambat ini.

Di luar mushola, monitor IGD kembali berbunyi.
Hidup dan mati masih bergantian datang.

Dan Rina tahu, setiap jaga bukan hanya tugas profesi.

Kadang, itu adalah lima menit di antara dua panggilan:
panggilan manusia…
dan panggilan Tuhan.

Tinggalkan Balasan