Memberikan Bantuan Hidup Dasar dan Menggunakan AED : Kenapa Masih Sulit di Lapangan?

Terbaru14 Dilihat

Ketika seseorang tiba-tiba jatuh dan tidak bernapas, situasi berubah dalam hitungan detik. Suasana yang semula biasa mendadak dipenuhi kepanikan. Orang-orang berkerumun. Ada yang menangis. Ada yang hanya mematung.

Dan sering kali, tidak ada yang berani bergerak lebih dulu.

Padahal pada momen itulah Bantuan Hidup Dasar (BHD) dibutuhkan.

Meski pelatihan BHD dan penggunaan Automated External Defibrillator (AED) semakin banyak dilakukan, kenyataannya masih ada berbagai tantangan di lapangan. Tantangan ini bukan hanya soal keterampilan, tetapi juga soal mental, fasilitas, dan budaya masyarakat.

1. Rasa Takut Menyentuh Korban

Salah satu hambatan terbesar adalah ketakutan.

Banyak orang ragu mendekat karena khawatir akan memperburuk kondisi korban. Ada rasa takut “bagaimana kalau salah?” atau “bagaimana kalau saya membuatnya cedera?”

Padahal, dalam kondisi henti jantung, risiko terbesar justru adalah tidak melakukan apa-apa.

CPR memang melibatkan penekanan dada yang cukup kuat. Dalam beberapa kasus, tulang rusuk bisa retak. Namun dibandingkan kehilangan nyawa, risiko itu jauh lebih kecil. Prinsip penting dalam pertolongan pertama adalah: tindakan yang tepat, meski tidak sempurna, lebih baik daripada diam karena takut.

2. Takut Salah dan Kurang Percaya Diri

Banyak orang telah mengikuti pelatihan, tetapi ketika dihadapkan pada kejadian nyata, rasa percaya diri mereka goyah.

Materi yang sebelumnya terasa mudah saat praktik di manekin terasa berbeda ketika menghadapi manusia sungguhan. Tekanan psikologis membuat orang lupa urutan tindakan.

Hal ini wajar. Dalam kondisi darurat, adrenalin meningkat dan pikiran bisa terasa kosong.

Karena itu, pelatihan tidak cukup hanya sekali. Pengulangan dan simulasi berkala sangat penting agar keterampilan tertanam sebagai refleks, bukan sekadar ingatan jangka pendek.

3. Kurangnya Akses terhadap AED

Automated External Defibrillator (AED) telah terbukti meningkatkan peluang hidup pada korban henti jantung akibat gangguan irama jantung tertentu. Alat ini dirancang untuk digunakan oleh orang awam dengan panduan suara yang jelas dan sederhana.

Namun tantangannya, masih banyak tempat umum yang belum memiliki AED.

Di beberapa negara maju, AED tersedia di bandara, pusat perbelanjaan, stasiun, sekolah, bahkan gedung perkantoran. Di banyak daerah lainnya, alat ini masih tergolong jarang ditemui.

Tanpa ketersediaan AED, masyarakat hanya bisa mengandalkan CPR manual sampai bantuan medis datang. Padahal, kombinasi CPR cepat dan defibrilasi dini adalah kunci utama peningkatan angka keselamatan korban henti jantung.

4. Minimnya Edukasi Publik

Masih banyak orang yang belum memahami apa itu BHD. Sebagian mengira hanya tenaga medis yang boleh melakukan CPR atau menggunakan AED. Ada pula yang belum mengetahui tanda-tanda henti jantung, sehingga terlambat mengenali kondisi darurat.

Ketidaktahuan ini sering berujung pada keterlambatan pertolongan.

Padahal, konsep BHD sebenarnya sederhana:

  • Kenali korban yang tidak respons dan tidak bernapas normal

  • Panggil bantuan

  • Lakukan kompresi dada segera

  • Gunakan AED bila tersedia

Semakin banyak masyarakat memahami langkah ini, semakin besar peluang korban untuk selamat.

5. Hambatan Hukum dan Budaya

Di beberapa tempat, ada kekhawatiran akan konsekuensi hukum jika terjadi kesalahan dalam memberikan pertolongan. Selain itu, norma sosial tertentu juga membuat orang ragu menyentuh korban, terutama jika berbeda jenis kelamin atau tidak saling mengenal.

Isu-isu ini perlu dijawab dengan edukasi dan regulasi yang jelas agar masyarakat merasa aman saat memberikan pertolongan.


Ketidaktahuan Bukan Lagi Alasan

Meski tantangan masih ada, satu hal menjadi semakin jelas: masyarakat bisa dilatih.

Berbagai program pelatihan menunjukkan bahwa setelah mendapatkan edukasi yang tepat, pengetahuan dan kepercayaan diri peserta meningkat signifikan. Orang yang sebelumnya ragu menjadi lebih siap. Yang sebelumnya takut menjadi lebih berani.

Artinya, hambatan terbesar bukanlah kemampuan — melainkan kesempatan untuk belajar.

Saat seseorang diberi pengetahuan, latihan yang cukup, dan pemahaman bahwa tindakannya dapat menyelamatkan nyawa, ia cenderung siap untuk bertindak.

Henti jantung bisa terjadi pada siapa saja. Di rumah, di sekolah, di kantor, di jalan, bahkan di tempat ibadah. Kita tidak pernah tahu kapan akan menjadi saksi suatu kejadian darurat.

Namun kita bisa memilih untuk tidak lagi menjadi penonton.

Karena pada akhirnya, keberanian untuk melakukan Bantuan Hidup Dasar bukan tentang menjadi tenaga medis.
Melainkan tentang menjadi manusia yang siap menolong sesama.

Dan semakin banyak orang yang terlatih, semakin besar pula harapan bagi setiap detak jantung yang tiba-tiba berhenti. (RD)

Tinggalkan Balasan