Hidupmu cuma Titipan: Catatan Harian Seorang Penyintas Abses Serebral (1)

Ketika ilmu kedokteran berikhtiar, dan iman belajar berserah.

Terbaru14 Dilihat

Tanggal 03 Februari 2025, pukul 06.00 pagi, aku berangkat menuju sebuah kabupaten yang berjarak enam jam perjalanan darat dari ibu kota provinsi. Tidak ada firasat apa pun pagi itu, selain kelelahan wajar akibat rutinitas. Hingga di tengah perjalanan, rasa nyeri tiba-tiba mencubit pelipis kiri—di regio temporalis. Nyeri tumpul, menetap, lalu perlahan menghilang setelah kupijat. Aku menganggapnya sepele. Tubuh sering berkompromi dengan rasa sakit kecil, pikirku.

Siang hari kulewati dengan istirahat, shalat, dan makan. Pelatihan dimulai pukul 14.30 hingga sore. Menjelang malam, tubuh terasa letih namun masih berfungsi normal. Aku tidur tanpa curiga apa pun.

Namun tengah malam, pelipis kiri kembali berdetak—kali ini lebih tegas. Dalam gelap kamar, aku menghubungi seorang dokter spesialis mata yang kukenal.

“Dok, pelipis kiri saya nyeri,” ujarku.

“Coba dulu analgetik. Kita lihat responsnya,” jawabnya tenang.

Nyeri itu tak segera membawaku tidur nyenyak. Malam terpecah menjadi beberapa fragmen sadar.

[POV ISTRI]

Pagi itu aku melepas kepergiannya seperti biasa. Tidak ada firasat apa pun. Ia terlihat lelah, tapi masih sempat tersenyum dan berpamitan. Aku tidak tahu, itu akan menjadi awal hari-hari terpanjang dalam hidupku—hari-hari menunggu, takut, dan belajar pasrah.

04 Februari 2025, pagi hari, suhu tubuhku meningkat drastis. Demam tinggi. Aku meminta bantuan teman untuk membeli obat di apotek. Menjelang siang, aku menghubungi dokter FKTP agar bisa segera dirujuk dan memutuskan kembali ke ibu kota.

Pemeriksaan mata menyatakan kondisi okular dalam batas normal. Diberikan terapi oral dan anjuran kontrol ulang. Secara klinis, tidak tampak kegawatan. Tetapi perjalanan penyakit ini belum selesai membuka wajah aslinya.

Hari berlalu hingga 10 Februari 2025, muncul rasa tidak nyaman di hidung disertai bau samar yang tidak biasa. Spesialis THT mendiagnosis sinusitis dan memberiku antibiotik.

17 Februari, aku melakukan kontrol ulang mata, dokter menyarankan untuk kembali dilakukan terapi injeksi. Dan pada 20 Februari, dilakukan tindakan ODC. Kemudian  aku diperbolehkan pulang.

22 Februari 2025, pukul 08.50, dunia berhenti sejenak. Aku terjatuh sesaat setelah mendaftar kontrol ulang. Kesadaran menghilang. Gula darah sewaktu tercatat 371 mg/dL.

Saat sedikit tersadar di ruang radiologi, aku melihat samar wajah-wajah yang tak kukenal. Atau mungkin wajah yang tak lagi mampu kuingat.

Pukul 14.40, kesadaran kembali perlahan. Kalimat pertama yang terucap adalah istighfar. Aku meminta shalat, meski kata-kata belum mampu kususun sempurna.

“Kesadarannya fluktuatif,” ujar dokter kepada istriku.

“Suami saya kenapa, Dok?” tanyanya dengan suara bergetar.

“Kami curiga ada gangguan neurologis. Kita rawat inap,” jawab dokter hati-hati.

[POV ISTRI]

“Kesadarannya fluktuatif,” ujar dokter kepadaku.

Kalimat itu terasa seperti dijatuhkan perlahan, tapi menghujam. Aku berdiri di samping ranjangnya, menggenggam tangan yang dingin dan tak merespons. Dalam kepalaku hanya ada satu doa yang berulang: Ya Allah, jangan ambil dia sekarang.

Saat dokter berkata mereka mencurigai gangguan neurologis, lututku terasa lemas. Aku mengangguk, meski sebenarnya aku tidak siap dengan jawaban apa pun.

Dia dirawat hampir satu minggu. Pada 26 Februari, dia diperbolehkan pulang.Dan Ramadhan pun tiba.

Puasa 01 Maret 2025 menjadi awal bulan yang sunyi. Tubuh terasa semakin lemah.

09 Maret, saat tarawih berjamaah di rumah, istriku menegur.

“Suaramu tidak terdengar,” katanya.

“Seperti biasa kok,” jawabku, tanpa menyadari fungsi tubuhku mulai berkurang.

 10 Maret, aku tetap memaksa naik motor ke kantor. Aku merasa berkendara dengan kecepatan normal, tapi saat tiba di kantor dan melihat arloji, ini sudah pukul 08.30.

“Kok bisa lambat sekali ini?” gumamku heran. Aku tak menyadari proses berpikirku sudah melambat.

 11 Maret, aku tak mampu mengenakan pakaian sendiri. Lengan dan tungkai kanan seperti mengalami hemiparesis. Saat sahur, istriku menyuapiku. Ia diam, namun matanya berkaca dan menampakkan kegelisahan.

[POV ISTRI]

Pagi itu aku menyuapinya sahur. Tanganku gemetar, tapi aku berusaha tersenyum. Aku tidak berani menangis di depannya. Aku tahu, jika aku runtuh, ia akan ikut kehilangan pegangan. Di kamar mandi aku menangis pelan, lalu kembali dengan wajah yang kupaksa tenang.

 11 Maret Menjelang siang hari, istriku berinisiatif mengajakku ke IGD, walupun sempat aku tolak. Di IGD, setelah diperiksa aku dirawat inap lagi

12 Maret 2025. Dokter spesialis Saraf masuk ke ruang perawatan dengan wajah serius. Di tangannya tersemat berkas hasil pemeriksaan. Istriku dan aku menatapnya harap-harap cemas.

“Ini hasil EEG-nya. Ada aktivitas epileptiform di temporal kiri. Itu tanda otak Bapak mengalami iritasi listrik yang tidak normal,” jelas dokter Neurologi. “Dan yang lebih mengkhawatirkan adalah hasil MRI Kontras.”

Dokter menunjukkan gambar otakku. “Di sini, di area frontoparietal kiri, ada massa seukuran 3,9 x 3,4 cm yang disertai edema atau bengkak. Ini mendorong otak Bapak ke kanan, kita sebut *midline shift*. Plus, sinusitis Bapak berat di area maksilaris, etmoidalis, dan frontalis kiri-kanan.”

Aku dan istriku terdiam. Sebagai tenaga medis, aku mengerti bahasanya walaupun sekarang aku agak merasakan kebingungan (mungkin karena sakit ini). Ada benda asing di otakku yang mendesak pusat kendali tubuhku.

Menjelang operasi, kesadaranku sering kabur. Wajah-wajah teman-teman, dosen, dan beberapa keluarga silih berganti datang, namun tak semuanya bisa kukenal.

Dokter spesialis bedah syaraf menyarankan tindakan Craniotomy. Aku pasrah ….

To be Continued…

Tinggalkan Balasan