Hidupmu cuma Titipan: Catatan Harian Seorang Penyintas Abses Serebral (2)

Ketika ilmu kedokteran berikhtiar, dan iman belajar berserah.

Terbaru9 Dilihat

13 Maret 2025

Pagi itu dokter kembali datang dengan berkas-berkas di tangannya. Aku masih terbaring, tubuh terasa asing, seolah bukan milikku sendiri.

“Alhamdulillah,” ucapnya sambil menatap hasil pemeriksaan, “CT scan kontras thoraks hasilnya baik. Tidak tampak penyebaran ke paru.”

Istriku menghela napas panjang.

“Jadi bukan kanker, Dok?”

Dokter tersenyum tipis.

“Untuk saat ini, tidak ditemukan tanda metastasis. Kekhawatiran kemarin lebih pada kehati-hatian medis. Di otak memang tampak lesi, tapi tidak semua massa adalah keganasan.”

Aku menangkap kata metastasis itu samar-samar. Jujur, aku tak sepenuhnya memahami mengapa istilah itu sempat disebutkan. Yang kutahu, setiap kata dokter kini terasa berat, sekaligus menegangkan.

Beberapa dokter lain bergantian masuk. Ada yang menatapku lama, ada yang saling bertukar pandang.

“Dia tampak baik-baik saja,” bisik salah satu dari mereka.

“Ya, secara klinis kelihatan stabil,” jawab yang lain, heran.

Aku hanya bisa menatap langit-langit ruangan.

Siang itu keputusan besar diambil.

“Bapak kami jadwalkan untuk kraniotomi,” kata dokter bedah saraf akhirnya.

“Tindakan ini untuk mengangkat sumber masalah di otak—baik itu abses maupun jaringan patologis lain. Tapi kami perlu menunggu hasil pemeriksaan lengkap.”

“Operasinya kapan, Dok?” tanya istriku pelan.

“InsyaAllah tanggal sembilan belas Maret,” jawabnya. “Mohon bersabar.”

————————————————————————————

Hari-hari menunggu pun terasa panjang.

Teman, keluarga, dosen, dan senior datang silih berganti. Wajah-wajah yang seharusnya akrab kini terasa asing. Mereka tersenyum, memanggil namaku, menepuk bahuku—namun aku tak mampu mengenali siapa mereka.

“Mas, ini si Fulan,” bisik istriku.

Aku menatap kosong. Tidak ada ingatan yang muncul.

Tangan kananku semakin lemah. Untuk menyuap makan, membersihkan diri, bahkan sekadar menggaruk kepala, aku tak sanggup. Semua harus dibantu.

Di cermin kecil di samping tempat tidur, kulihat wajahku sendiri: kumis dan janggut tumbuh tak beraturan, seperti hidup yang sedang kehilangan kendali.

Dalam kelemahan itu, aku hanya bisa berdoa.

Menunggu.

Dan belajar berserah.

[POV ISTRI]

Melihatnya terbaring dengan wajah yang tak lagi sepenuhnya sadar adalah ujian terbesar. Banyak orang datang, banyak doa dipanjatkan, tapi di tengah keramaian itu aku merasa sangat sendirian. Aku harus kuat, karena hanya aku yang paling sering ia cari dengan tatapan kosong itu.

———————————————————————

18 Maret mejelang malam, aku bertanya pada istriku,

“Aku mau diapain?”

“Kepalamu akan dibuka,” jawabnya jujur.

“Kalau begitu, lakukan yang terbaik.”

[POV ISTRI]

Ketika ia bertanya, “Aku mau diapain?”, dadaku sesak. Aku memilih jujur, meski kata-kata itu terasa kejam di lidah. Malam itu aku shalat lebih lama dari biasanya. Untuk pertama kalinya aku benar-benar paham arti menyerahkan sesuatu yang paling kita cintai kepada Allah.

19 Maret, setelah menggunakan baju operasi, aku shalat dua rakaat, aku memasrahkan diriku sepenuhnya. Jam menunjukkan pukul 08.30 saat aku memasuki ruang operasi. Setelah anestesi bekerja, segalanya gelap.

[POV ISTRI]

Aku menunggu di luar ruang operasi dengan tas kecil berisi mushaf dan tasbih. Jam terasa berjalan lambat. Setiap pintu terbuka, jantungku berdegup kencang. Saat dokter akhirnya keluar dan berkata operasi berjalan baik, kakiku hampir tak sanggup menopang tubuhku karena lega.

Aku terbangun entah hari apa, entah jam berapa. Aku sadar di ruangan yang remang. Reaksi pertamaku instinktif—aku mencabut selang yang menempel di mulut dan dadaku.

“Tenang Pak!” beberapa perawat berlari menenangkanku.

Aku menyadari tanganku terikat di tempat tidur. Panik seketika. Namun, tak lama kemudian seorang petugas datang dan melepaskan ikutanku setelah kondisiku stabil.

“ini hari apa?” tanyaku .

“Hari ini Jumat pak,” ujar perawat.

“Aku sudah boleh minum?” tanyaku kembali.

“Iya, nanti Bapak dibantu istri ya,” jawabnya.

[POV ISTRI]

Di ICU aku melihatnya terikat di ranjang, gelisah, bingung. Aku ingin memeluknya, tapi hanya bisa menggenggam tangannya. Aku berbisik pelan, “Aku di sini.” Dan entah ia sadar atau tidak, genggamannya menguat. Saat itu aku tahu: kami masih diberi kesempatan.

Pagi menjelang beberapa teman kerja datang.

“Kamu mengenali aku?” tanya salah satu mereka.

Mataku memindai wajah mereka satu per satu. Alhamdulillah, seperti puzzle yang terpasang, aku ingat semuanya.

“Aku kenal kalian semua!” seruku riang

Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkanku kembali. Dan setelah aku stabil aku dipindahkan dari ICU  keruang rawat inap biasa

——————————————

Dokter bedah saraf datang.

“Operasi berjalan baik. Yang kami keluarkan bukan tumor, tapi kumpulan infeksi. Abses. Antibiotik harus dilanjutkan lewat infus.”

Aku hanya mengangguk. Pasrah.

Hari-hari selanjutnya adalah kesabaran: antibiotik intravena, evaluasi neurologis, dan menunggu perbaikan.

Satu minggu pasca operasi, aku belum boleh pulang. Dokter bilang antibiotikku harus lewat infus karena infeksi yang terjadi berada dibagian kepala.

“Kita butuh obat yang lebih kuat, Pak. Perbaikannya belum terlalu signifikan,” kata Dokter Saraf yang merawatku. Aku pasrah.

 28 Maret 2025 – Klarifikasi

Sebagai tenaga medis, rasa penasaran profesionalku kembali muncul. Aku membuka lembaran hasil MRI terbaru dan membandingkannya dengan sebelum operasi. Ada benda yang masih terlihat di sana, membuatku cemas.

Dokter Bedah Saraf datang memeriksaku. Aku tunjukkan hasilnya.

“Dok, ini masih ada massanya ya?” tanyaku khawatir.

Dokter tersenyum tenang. “Tidak, Pak. Itu bukan massa atau tumor. Itu sisa lapisan pembungkus cairan yang sengaja kami biarkan demi keamanan pembuluh darah di sekitarnya. Kami sudah ‘bersihkan’ intinya dan membuatkan kantong aman.”

Jawaban beliau mengembalikan ketenanganku.

31 Maret 2025, Hari raya Idul Fitri 1446 H kulewati di rumah sakit.

Ini adalah Idul Fitri pertamaku di rumah sakit.

Aku belajar makna sabar. Izin ku untuk ikut shalat Idul Fitri dihalaman belakang RS ditolak. Ini Hari pertama kemenangan, namun aku harus merayakannya di ranjang rumah sakit. Tapi rasa sedih itu sirna saat keluarga besar bergantian membesuk. Ruangan itu penuh canda tawa, mengusir kebosanan.

 

04 April 2025, evaluasi THT memastikan pansinusitis bilateral—maksilaris, etmoidalis, frontalis—sebagai sumber infeksi primer.

“Jika tidak dituntaskan, abses bisa berulang,” jelas dokter.

Operasi Functional Endoscopic Sinus Surgery direncanakan. Sempat tertunda karena ketersediaan alat, hingga akhirnya dilakukan. Dengan bantuan endoskop, mukosa terinfeksi dibersihkan, sekret purulen dievakuasi, dan jalur drainase sinus dipulihkan.

“Operasi berjalan lancar,” kata dokter saat visite.

Istriku tersenyum lega.

Tanggal 18 April 2025, aku akhirnya aku diperbolehkan pulang.

Kini, hampir satu tahun setelah semua itu, Allah masih memberiku waktu.

Sebagian orang menyebut ini kehidupan kedua. Aku menyebutnya pengingat.

Aku percaya satu hal : hidup ini titipan.

Bahwa ilmu kedokteran adalah ikhtiar, dan kesembuhan adalah izin ;

Untuk bersyukur.

Untuk memperbaiki diri.

Untuk hidup dengan lebih sadar.

[POV ISTRI]

Hari kepulangan itu bukan akhir perjuangan, tapi awal syukur yang baru. Aku melihatnya berjalan pelan, belum sempurna, tapi hidup. Aku belajar bahwa menjadi istri bukan hanya soal mendampingi di bahagia, tetapi bertahan di saat paling rapuh.

Ya Allah, jika hidup adalah titipan, maka ajarilah aku menjaganya. Jika sakit adalah teguran, maka lapangkanlah hatiku untuk memahaminya. Sebab tiada nikmat melebihi iman, dan tiada karunia yang lebih indah dari sehat. Alhamdulillahi Rabbil ’Alamin.

Setiap pagi saat kubuka mata, kusadarkan bahwa nikmat terbesar bukanlah jabatan atau harta, melainkan kesehatan dan kesempatan untuk bertaubat. Aku hanyalah hamba-Nya yang pernah diingatkan lewat sebuah rasa sakit di pelipis, sebuah peringatan bahwa rencana Tuhan lebih indah dari dugaanku.

 

Wallahu a’lam bish shawab. Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kesempatan kedua untuk memperbaiki amal sholeh.

Tinggalkan Balasan