Donyaning Bocah_ Nget, pemula yang akhirnya belajar

Terbaru381 Dilihat

(Donyaning Bocah)

Nget, Pemula yang Akhirnya Belajar

Penulis : Arfianto Wisnugroho

 

Ia lari dari kawanannya. Bukan untuk pergi selamanya. Melainkan hanya tidak suka dengan keramaian seperti itu. Meskipun keramaian itu adalah kegiatan tahunan yang diadakan oleh semua masyarakat kunang-kunang. Lebih suka menikmati waktunya sendiri. Tidak peduli dengan apa yang terjadi pada sekitarnya. Demikian yang selalu dilakukan Nget, anak kunang-kunang penyendiri.

            Suatu ketika Nget diminta Ibunya untuk datang datang ke acara yang dihadiri oleh keluarga besar Ayahnya. Namun dengan tegas, Nget menolak permintaan tersebut. Ibu Nget berulang kali meminta dan membujuk supaya Nget mau datang ke acara tersebut, tapi semuanya berakhir sia-sia.

“Berangkatlah Nget, meski hanya sebentar,” pinta Ibu Nget untuk terakhir kalinya di hari itu. Namun Nget tidak peduli,”Tidak Bu, Nget ada urusan lain yang harus dikerjakan.”

Nget keluar dari rumah, terbang ke arah yang tak tentu. Semua dilakukan untuk menghindar dari permintaan ibunya, menghadiri acara keluarga. Beberapa saat setelah Nget terbang tiba-tiba hujan turun. Nget tidak peduli meski hujan semakin deras, ia tetap terbang ke arah yang tak tentu. Nget tidak menyadari kalau keadaan sekitar sudah menjadi sangat gelap. Cahaya Nget tidak mampu menerangi jalan yang dilaluinya. Karena panik, Nget menabrak pohon besar di depannya.

“Brakkk… !” Nget jatuh.. terperosok ke tanah berlumpur. Nget merasa pusing, ia tak mampu untuk kembali terbang. Tidak sampai di situ saja, tiba-tiba air mulai menggenangi tanah di sekitar Nget. Rasa tidak berdaya merasuki pikirannya. Nget merasa tidak bisa melakukan apa-apa.

Nget tidak ingat apa yang terjadi, sekarang ia merasa sedang dibawa terbang ke suatu tempat. Nget samar-samar mulai bisa melihat. Terlihat cahaya terang di sekitarnya. Akhirnya ia diturunkan pada suatu tumpukan seperti dedaunan. Nget merasa lebih nyaman. Saat ia mulai melihat dengan jelas, ia telah berada di sebuah rumah. Hingga suatu sosok menghampirinya.

“Sudah sadar?”suara itu terdengar jelas.

“Hanya sedikit pusing,” jawab Nget dengan suara lemah.

“Namaku Tup, aku adalah anak dari dari adik ayahmu.” Nget jadi ingat kalau Ayahnya pernah bercerita tentang keponakan yang pandai terbang. Mungkin inilah keponakan yang dimaksud ayahnya.

Tup kembali berkata,”Hujan sudah mulai reda, jika sudah baikan pergilah ke acara keluarga.” Tidak sempat Nget mengucapkan terimakasih, Tup sudah terbang meninggalkan tempat itu sambil mengatakan kalau tempat ini adalah rumah yang tidak berpenghuni.

Nget mulai menyadari kesalahannya. Ia ingat bahwa ibunya pernah mengatakan kalau dalam pertemuan keluarga akan ada yang mengajarkan pada pemula seperti Nget tentang banyak hal terkait kehidupan kunang-kunang. Salah satunya adalah cara terbang yang baik saat turun hujan.

Mulai saat itu Nget selalu hadir dalam pertemuan keluarga. Nget belajar banyak hal dari saudara-saudaranya. Nget menjadi lebih terampil dan hebat dalam terbang.

Pesan moral :

Patuhi kedua orang tua. Semua yang mereka lakukan tidak lain adalah untuk kebaikan kita.

Tinggalkan Balasan