Guruku Yang Tidak Pernah Ganti Baju

Coretan Tanpa Bekas

 

Guruku Yang Tidak Pernah Ganti Baju

Oleh: Arfianto Wisnugroho

 

Bersolek adalah sesuatu yang wajar untuk dilakukan oleh manusia. Apalagi saat menghadiri acara yang melibatkan orang banyak. Bahkan saat ini banyak orang yang melakukannya saat keluar dari rumah hanya untuk membeli keperluan harian. Kebanyakan yang melakukan hal tersebut adalah kaum hawa. Meskipun saat ini banyak kaum adam juga melakukan hal serupa. Baik remaja maupun dewasa mereka semua memiliki tujuan masing-masing. Ada yang melakukan untuk menarik perhatian, agar tidak dipandang remeh, agar dipandang kaya, mengikuti teman atau sekedar hobi. Apapun tujuannya, semua adalah hak bagi setiap orang yang menginginkannya.

KMAC YPTD

Namun tidak dengan Ibu yang satu ini, Ibu Lastri. Beliau telah mendedikasikan hidupnya dengan mengajari anak-anak mengaji selama lebih dari 30 tahun. Bu Lastri bukan orang yang suka bersolek. Bahkan untuk memakai sedikit parfum saja tidak pernah dilakukan. Paling tidak yang selalu diketahui mas Nyentrik saat bertemu di setiap acara kondangan. Mungkin untuk hal lain seperti lipstik atau make up pernah dilakukan. Tapi tidak tahu hal tersebut berhenti sejak kapan. Karena selama ini mas Nyentrik tidak pernah melihat beliau berdandan. Apalagi menggunakan peralatan rias yang membuat wajah menjadi menor. Mas Nyentrik sendiri sudah mengenal Bu Lastri sejak ia masih kecil. Semua lantaran mas Nyentrik pernah belajar cara membaca al-quran bersama Bu Lastri. Tentu saja hal tersebut sangat wajar jika ia tahu banyak tentang guru ngajinya. 

Salah satu yang diketahui mas Nyentrik tentang keseharian Bu Lastri adalah saat berdandan. Kalau boleh dibilang cara berpakaian Bu Lastri sangat sederhana. Cukup menggunakan baju polos yang dipadukan dengan rok sebagai bawahan. Sedangkan jilbab, beliau selalu mengenakan yang berukuran lebar. Sebenarnya apa saja yang dikenakan Bu Lastri, semua memiliki ukuran besar. Lebih besar dari tubuhnya yang kian lama melemah. Satu lagi yang sangat diketahui mas nyentrik, Bu Lastri selalu mengenakan pakaian yang terbuat dari bahan kaos. Kalau dipikir-pikir semua sesuai, karena beliau adalah orang yang mudah kepanasan saat siang hari. Sehingga pakaian yang lebar dengan bahan kaos sangat cocok dengan beliau.

Meski mas Nyentrik mengerti beberapa hal terkait Bu Lastri. Ada satu hal yang selama ini membuat mas Nyentrik bertanya-tanya. Yakni tentang guru ngajinya yang selalu mengenakan setelan itu-itu saja. Selain itu Bu Lastri tidak pernah membedakan setelan pakaian berdasarkan acara atau kegiatan yang ikuti. Seperti saat mengajar ngaji, pergi acara keluarga, kumpulan kampung, ke pesta nikah atau kondangan lainnya. Setelan baju yang dikenakan dalam acara-acara tersebut tidak banyak variasi. Meskipun dalam suatu acara tertentu yang dihadiri pejabat penting pemerintah.  Bajunya Bu Lastri tidak lebih hanya itu-itu saja. Bu Lastri tergolong orang yang tidak membeda-bedakan pakaian berdasar acara. Sehingga pakaian menurut beliau adalah All in one, satu stel baju dapat digunakan dalam berbagai acara.

“Yah.. namanya Bu Lastri!” Ucap mas Nyentrik dalam hati saat bertemu di suatu acara.

Karena sering bertemu di suatu acara, mas Nyentrik mulai penasaran dengan guru ngajinya tersebut. Mengapa sejak dulu tidak berubah dalam gaya berpakaian. Kalau dipikir Bu Lastri dapat mengenakan berbagai pakaian bagus bahkan mahal. Tentu saja demikian karena saat ini beliau sudah tidak memiliki tanggungan. Semua putra dan putri beliau sudah mentas, sudah bisa mengurus diri mereka sendiri. Selain itu beliau juga memiliki pendapatan dari usahanya. Karena hal tersebut mas Nyentrik mulai berpikir, mencari tahu, dan menyimpulkan. Namanya juga mas Nyentrik, pasti akan berusaha akan hal yang diinginkan. 

Usut punya usut, mas Nyentrik menemukan beberapa hal yang selama ini tidak diketahui. Yang mas Nyentrik yakin adalah kalau Bu Lastri selalu berusaha menyediakan snack untuk anak-anak yang belajar ngaji. Meski demikian, itu tentunya bukan seberapa. Ternyata Bu Lastri memang tidak suka mengenakan pakaian mewah. Sudah beberapa kali beliau dibelikan baju bagus oleh salah satu putra beliau. Baju tersebut lumayan mahal untuk ukuran masyarakat di tempat tinggal beliau. Tetapi baju itu tidak bertahan lama, hanya dalam waktu tidak lebih sebulan baju tersebut sudah tidak ada dirumah. Kejadian serupa sering terjadi saat beliau mendapatkan baju dari keluarga besar beliau.

Saat bertemu dan ngobrol dengan putra putri beliau, mas Nyentrik mengetahui. Bu Lastri sengaja mengenakan pakaian seadanya, tidak mewah yang penting menutup aurat. Menurut beliau pakaian-pakaian yang mewah justru akan menjadi beban di akhirat nanti. Sehingga ia menyumbangkan pakaian yang ia miliki ke orang yang membutuhkan. Bahkan setiap memiliki pakaian baru dari putra atau putrinya, beliau tidak memakainya. Tetapi malah memberikan pada siapa saja yang ditemui, baik kenal atau tidak kenal. Sehingga tidak heran kalau ada tetangga yang memiliki pakaian sama dengan baju keluarga besar beliau.

“Oh begitu ya… !” Ucap mas Nyentrik pelan sambil melihat orang yang baru saja lewat di depannya. Sambil tertawa tipis mas Nyentrik melirik ke salah satu putra Bu Lastri lalu berkata, “Mas, bajunya sama dengan yang baru saja lewat..!” 

Tinggalkan Balasan