Coretan Tanpa Bekas
Ngobar atau Ngabar
Oleh: Arfianto Wisnugroho
Bertemu teman lama sangat menyenangkan. Apalagi pada hari-hari istimewa, tentunya akan lebih berkesan karena suasana hati yang bahagia. Demikian dialami oleh mas Nyentrik saat diajak salah satu teman, biasa dipanggil Om Brot, dalam acara Ngopi Bareng (Ngobar). Acara yang belum tentu dapat dilaksanakan meskipun hanya setahun sekali. Terakhir mereka melakukannya sudah cukup lama, sekitar empat tahun lalu. Sebelumnya acara Ngobar dapat mereka lakukan hampir setiap bulan. Sehingga Ngobar menjadi acara rutin untuk bertemu, bertukar pikiran atau sekedar curhat bagi beberapa teman.

Acara yang sudah ditunggu itu akhirnya tiba, mas Nyentrik dan temannya datang ke tempat yang sudah ditentukan. Tempat tersebut dipesan oleh salah satu teman sekitar seminggu sebelumnya. Salah satu café di pinggir pantai selatan. Pohon cemara dengan berbagai ukuran memberikan kesejukan café tersebut. Angin sepoi-sepoi menambah suasana makin nyaman bagi pengunjung. Berbagai menu tersedia dengan harga yang tidak begitu mahal. Cukup untuk kantong setiap orang yang datang meski dari background dan pekerjaan yang berbeda.
Singkat cerita mas Nyentrik sudah duduk di salah satu kursi besi bulat berwarna hitam. Dengan secangkir kopi di depan meja, ia menatap ke arah matahari terbenam. Terlihat lautan luas dengan kerlap-kerlip air karena memantulkan sinar matahari. Maklum saja, saat itu masih pukul setengah dua siang sehingga matahari masih terik.
“Ya, tentu saja.. temanku itu semakin sibuk!” Ucap mas Nyentrik dalam hati melihat Om Brot yang sedang saling sapa dengan teman-temannya.
Terasa sekali acara hari itu tidak seperti yang dibayangkan. Keadaan tidak terkondisikan seperti acara yang dulu pernah mereka selenggarakan. Mungkin karena memang yang dipikirkan masing-masing orang berbeda. Begitu juga kegiatan harian mereka, ada beberapa sudah berkepala tiga. Bahkan ada yang sudah berkepala empat. Tentu saja empat tahun memang waktu yang cukup untuk itu semua. Meski acara tidak seperti yang diberitahukan sebelumnya, mas Nyentrik menikmati kegiatan tersebut.
Sehari sebelum acara, om Brot memberitahukan kalau acara itu aka nada sharing pengalaman. Tentunya berbagai pengalaman masing-masing teman om Brot yang sudah banyak makan garam kehidupan. Tetapi kenyataannya tidak demikian, banyak dari mereka yang malah memberitahukan seberapa sukses mereka sekarang. Hal itu sangat terlihat jelas, ada seorang wanita dengan dua anak memberitahukan kalau bulan lalu ia telah membeli satu unit Pajero secara cast. Ada juga laki-laki dengan pakaian serba biru memberitahukan kalau ia sudah naik pangkat lagi, “Ya otomatis gajinya naik,” ucapannya kepada teman lain. Atau laki-laki dengan tubuh gempal yang memberitahukan kalau ia baru saja mendapatkan 12 ha perkebunan dari orang tuanya. Selain itu masih banyak lagi teman om Brot yang menyampaikan hal serupa, yang semua terkait harta dan kekayaan.
Tentu saja hal seperti itu tidak sesuai dengan pribadi om Brot yang santai, tidak lagi bernafsu untuk urusan dunia yang bersifat materi. Om Brot mengajak mas Nyentrik dengan harapan dapat memberikan suguhan spesial berupa sharing ilmu pengetahuan. Namun hari itu om Brot terlihat sedikit malu dengan mas Nyentrik. Suatu reuni teman lama yang begitu memalukan, paling tidak dari sudut pandang om Brot. Om Brot tidak pernah berpikir sedikitpun kalau teman-temannya sangat mengagungkan materi. Paling tidak ya secara tidak langsung. Tapi hari itu mereka memamerkannya dengan terang-terangan. Hampir semua yang diajak bicara om Brot memiliki sikap yang sama. Mungkin ada yang tidak demikian, yaitu mereka yang tidak hadir.
Ngobar yang dinantikan tidak menjadi acara istimewa lagi bagi om Brot. Karena didalamnya hanya berisi cerita orang-orang yang memberitahukan kalau ia sekarang baik-baik saja. Ia sekarang telah menjadi orang hebat. Pokoknya segala hal terkait keunggulan masing-masing mereka sampaikan tanpa mempedulikan bagaimana perasaan lawan bicara. Hampir seperti cerita sinetron yang biasa tampil di stasiun televisi saat itu.
Mas Nyentrik yang melihat dan menyaksikan semua itu berpura-pura tidak peduli. Bahkan bersikap seolah-olah tidak tahu apa yang terjadi. Tentunya demi om Brot yang saat itu terlihat kecewa. Tentu saja, acara Ngobar tapi isinya hanya memberitahukan keadaan seseorang. Mengabarkan dengan sengaja agar semua orang mengetahui.
“Haduw-haduw…..!” Ucap mas Nyentrik dengan pelan sambil geleng-geleng kepala, menggeser salah satu kursi kosong mendekat padanya.
Hari semakin sore, matahari semakin condong ke laut. Om Brot menuju dimana mas Nyentrik sedang duduk dengan ragu. Meski pada akhirnya ia meletakkan pantatnya di kursi dekat mas Nyentrik. Dengan sedikit kaku om Brot berniat membuka percakapan. Namun mas Nyentrik mendahului percakapan dengan pura-pura kaget.
“Oi….!’ Teriak mas Nyentrik dengan memasang wajah kaget.
Mas Nyentrik tidak ingin temannya memperlihatkan kekecewaannya tersebut. Ia tidak ingin temannya memikirkan acara hari itu. Bagi mas Nyentrik, itu bukanlah Ngobar, tapi acara seseorang menjelaskan keadaan atau kabar mereka saja, alias Ngabar. Tidak peduli Ngobar atau Ngabar, mas Nyentrik sengaja menyenggol bahu temannya dengan harapan akan dibalas. Seperti yang diharapkan, akhirnya mereka saling menyenggol layaknya anak-anak SD yang sedang perang-perangan. Untuk membawa om Brot keluar dari zona yang tidak menyenangkan tersebut Mas Nyentrik keluar dari café sambil teriak “Kabur…!”
Mereka berlari menuju matahari terbenam.













