Coretan Tanpa Bekas
Ternyata Mbah Bejo Lebih Nyentrik
Oleh: Arfianto Wisnugroho
Hujan memberikan kesejukan, tidak hanya pada ilalang, tetapi juga pada orang di sekitarnya. Hujan akan memberikan keberkahan pada semua makhluk. Ya tentunya hujan tersebut harus sesuai dengan kaarnya. Paling tidak itulah yang diyakini oleh Sur, seorang pemuda desa yang sangat rajin. Ia juga seorang pekerja keras, ulet, tekun, dan pantang menyerah. Terlahir dari keluarga kurang mampu tidak membuat Sur rendah diri. Semua itu justru menjadikan motivasi bagi dirinya untuk terus berusaha membahagiakan orang tua.

Hari itu hujan turun begitu deras. Meski tidak mengakibatkan banjir, hujan membuat padi yang sudah ditanam mengalami masalah. Air menggenang setinggi paha orang dewasa. Angin yang kencang menambah keadaan semakin genting. Rencana Sur untuk panen bulan depan batal. Hal tersebut dikarenakan lebih dari setengah tanaman roboh. Akhirnya padi mengalami gagal panen. Karena air menggenang selama lebih dari seminggu, sisa padi yang sebelumnya tegak akhirnya roboh juga.
“Hmmm, untung keberkahan selalu ada!” Gumam Sur ketika melihat sawahnya.
Sur mulai menggarap lagi sawahnya setelah air sudah surut. Perlu tenaga dan waktu lebih untuk membuat lahan siap ditanami kembali. Bagi Sur itu bukan masalah, ini pernah terjadi sebelumnya. Sehingga tidak masalah bagi Sur untuk menangani hal serupa. Terlebih ia pernah belajar banyak hal terkait teknik pertanian. Tentu saja, Sur memulai bertani tidak dengan modal dengkul. Sur sudah mengetahui banyak hal dari pekerjaan terdahulu. Ia pernah bekerja di suatu perusahaan asing selama tujuh tahun. Sur memutuskan resign karena ingin membangun usaha sendiri. Setahun setelah mengundurkan diri dari perusahaan, Sur membuka usaha di bidang pertanian.
Tentunya berbagai kegagalan telah membuat Sur menjadi lebih profesional. Saat ini Sur sudah mengetahui berbagai kemungkinan yang akan menyebabkan kegagalan panen. Sehingga menyiapkan rencana untuk menangani kemungkinan masalah adalah hal yang sudah biasa dilakukan. Hal demikian berlaku untuk segala jenis tanaman yang digarapnya.
“Lho.. sebenarnya Sur ini menanam apa?” tanya mas Nyentrik penasaran.
Meski kelihatan agak aneh, Sur itu seorang sarjana pertanian. Ia memang memilih jurusan itu bukan tanpa alasan. Sur dari dulu ingin mengolah sumber daya alam yang dimiliki. Sehingga bertani adalah hal yang memang ia inginkan. Mengingat lahan di tempat Sur masih sangat alami, belum banyak polusi. Semua Sur lakukan demi mencapai keinginannya, meski dengan lahan warisan orang tua yang ukurannya tidak seberapa. Terkait apa yang ditanam Sur, itu bukan yang utama. Karena Sur akan menanam apa saja yang memungkinkan mendatangkan keuntungan.
Hal demikianlah yang menjadikan Sur memiliki tantangan besar. ia merupakan bahan ejekan dari tetangga. Banyak ucapan tetangga yang selalu menyinggung akan ketidak jelasan dari Sur. Mereka tidak terbiasa dengan metode yang diterapkan Sur dalam pertanian. Bagi Sur, menjelaskan kepada mereka adalah hal yang sering dilakukan. Tentu saja, karena Sur sudah menjadi petani yang luar biasa sukses. Banyak hasil pertanian yang mampu ia dapatkan dari lahannya. Jika dihitung selisih keuntungan dengan modal yang dikeluarkan membuat petani lain berguru pada Sur.
Mas Nyentrik geleng-geleng, berpikir kalau dari tadi apa yang sebenarnya sedang ia lakukan. Mendengar celoteh dari mbah Bejo dengan serius tidak membuatnya paham akan isi cerita. Yang pasti saat itu ia sedang duduk berdua dengan mbah Bejo di salah satu Buk (tempat duduk). Dari Buk tersebut mereka dapat melihat sebuah rumah mewah. Pintu gerbang terlihat berkilau, sinar matahari membuat kilauannya lebih kuat. Mas Nyentrik tidak bisa melihat lebih lama, takut kepingin yang seperti itu.
Tiba-tiba saja Mbah Bejo, menawarkan sesuatu kepada mas Nyentrik.
Mbah Bejo: “Nih, ambil..!” Sambil menyodorkan rokok.
Mas Nyentrik: “Buat apa mbah?” Tanpa mau menyentuh rokok mbah Bejo.
Mbah Bejo:”Ambil saja..!” Masih menyodorkan rokok.
Karena paksaan itu mas Nyentrik mengambil sebatang rokok dari mbah Bejo. Setelah mas Nyentrik mengambil rokok, mbah Bejo pergi begitu saja tanpa melihat mas Nyentrik. Dalam langkahnya yang santai mbah Bejo berkata, “Itu rumahnya Sur..!”
Mas Nyentrik tersenyum melihat tingkah mbah Bejo. Sambil berpikir tentang apa yang sebenarnya ingin mbah Bejo sampaikan. Mas Nyentrik hanya menerka-nerka tanpa kejelasan. Semakin banyak menerka, ia akan memperoleh berbagai kemungkinan jawaban berbeda. Tapi itu bukan hal utama yang menjadikan mas Nyentrik berpikir. Melainkan mas Nyentrik merasakan kalau hari itu ia telah dikalahkan oleh orang yang jauh lebih tua darinya.
“Tapi apa ya…?” Ma Nyentrik bertanya pada diri sendiri.
Setelah menyadari tentang apa yang membuatnya berpikir mas Nyentrik akhirnya juga meninggalkan Buk sambil berkata, “Hmmmm… Hari ini mbah Bejo lebih Nyentrik dariku..!”









