Coretan Tanpa Bekas
Warisan Leluhur dan Mbah Harjo
Oleh: Arfianto Wisnugroho
Bapak berbaju hijau itu sangat rajin, semua pekerjaan yang terlihat di depannya beliau libas. Bahkan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan begitu singkat, lebih cepat daripada teman-teman yang lain. Bapak berbaju merah tidak kalah rajin. Beliau berpindah dari tempat satu ke tempat lain dengan cepat. Beliau langsung merapikan tempat yang sudah dibersihkan. Terlihat bapak berbaju merah ini seperti sedang melakukan finishing. Sedangkan bapak berbaju kuning langsung sigap mempersiapkan berbagai kebutuhan konsumsi. Tidak ada satupun warga terlewat untuk menikmati teh hangat saat kerja bakti. Bapak-bapak tersebut merupakan ikon kerja bakti. Ketiganya penyemangat bagi seluruh warga saat berkegiatan.
“Wah kombinasi yang menarik…!” Seru mas Nyentrik saat kerja bakti bulanan.

Kerja bakti warga di tempat mas Nyentrik selalu dilaksanakan sekitar sebulan sekali. Tepatnya setiap selapan atau 35 hari sekali. Itu merupakan kelipatan dari tujuh hari dari kalender masehi dan lima hari kalender jawa. Selapan merupakan waktu yang sering digunakan dalam melaksanakan kegiatan yang bersifat rutin di kampung mas Nyentrik. Penggunaan waktu tersebut sangat membantu warga masyarakat. Mereka tidak bingung kapan kegiatan berikutnya akan dilaksanakan. Sehingga seluruh persiapan dapat dilakukan dengan matang jika ada acara tambahan pada saat itu. Begitulah salah satu sisi kehidupan di tempat tinggal mas Nyentrik. Segala sesuatu yang berhubungan dengan hal klasik masih digunakan meski zaman sudah modern.
Menurut hasil rapat dalam pertemuan besar warga masyarakat, mereka akan tetap melestarikan adat-istiadat lama. Mereka ingin terus memelihara peninggalan leluhur. Tentunya peninggalan yang memberikan efek positif di masyarakat. Sehingga kontrol sosial dalam masyarakat tetap bertahan hingga saat ini. Dengan hal tersebut kerukunan masyarakat masih sangat terjaga. Dapat dilihat ketika ada salah satu warga yang mengalami musibah. Tanpa diminta sedikitpun warga masyarakat akan langsung datang untuk memberikan bantuan. Kebiasaan inilah yang pada akhirnya membentuk ikatan pada masyarakat. Mereka merasakan bahwa keberadaan setiap orang sangat penting. Setiap pribadi memiliki tempat di masyarakat yang semua itu istimewa.
Kalau kita telaah lebih jauh ada peran budaya dalam masyarakat mas Nyentrik ini. Dimana warga masyarakat melakukan sesuatu yang dipengaruhi oleh kebiasaan lama. Kebiasaan tersebut tidak lain adalah warisan turun-temurun. Kebiasaan yang selalu dilakukan oleh pelakunya yang tanpa sadar telah menjadi karakter masyarakat. Hal tersebut juga terjadi di beberapa masyarakat lain. Meski demikian, ada juga masyarakat yang dewasa ini tidak lagi melestarikan kebudayaan leluhur. Sehingga nilai-nilai kebaikan yang ada di masyarakat sudah mulai pudar. Mereka tidak lagi memberikan bantuan kepada warga masyarakat lain karena merasa bertanggung jawab. Mereka tidak lagi memiliki kesadaran untuk saling menjaga sesama warga masyarakat. Sikap abai sudah mulai merebak di masyarakat. Beberapa tempat bahkan sudah tidak tahu lagi budaya leluhur mereka.
“Memang apa benar ada daerah yang seperti itu?” Tanya seorang remaja kepada mas Nyentrik.
“Menurut Mbah Harjo ada dek..!” Jawab mas Nyentrik.
Tentu saja menurut mbah Harjo, tetua kampung yang berusia hampir satu abad. Mbah Harjo sudah hidup melalui berbagai zaman. Berbagai perubahan sudah beliau alami dan rasakan. Sehingga beliau sangat mengerti bagaimana sebuah warisan budaya mulai menghilang dari masyarakat. Yang dirasakan mas Nyentrik saat ini sudah jauh berbeda dengan zaman mbah Harjo dulu. Menurut Mbah Harjo, jika dibandingkan keadaan sekarang dengan dulu adalah sekitar 1:5. Keadaan dulu lebih unggul dari berbagai aspek. Meski mbah Harjo tidak menjelaskan terkait aspek tersebut, mas Nyentrik sangat percaya. Bahwa warisan budaya sudah banyak yang luntur bahkan hilang.
Semakin lama budaya akan tergilas oleh perubahan zaman. Kemajuan tidak akan memberikan toleransi pada tradisi kuno yang masih bertahan. Mau tidak mau hal itu akan terjadi, pelan tapi pasti. “Sebaiknya setiap orang mengerti akan hal itu,” kata mbah Harjo pada mas Nyentrik di suatu tempat.
“Lho, lho, lho….!” Mas Nyentrik dengan sigap mengangkat sapunya, bersiap finishing kerja bakti pagi itu. Mas Nyentrik baru sadar kalau dari tadi ia ketiduran di bawah pohon waru. Ia melihat bapak-bapak berbaju warna-warni sudah meninggalkan tempat kerja bakti. Lingkungan sekitar sudah bersih, tidak ada semak atau sampah yang harus dibersihkan.
“Ayo pulang mas!” Ucap salah satu tetangga.
Mas Nyentrik mengangguk sambil menggeliat, sadar kalau masyarakat di tempat tinggalnya saat ini masih rukun dan damai. Budaya dan nilai-nilai kebaikan masyarakat juga masih dipegang warga masyarakat. Mas Nyentrik juga sangat sadar kalau mbah Harjo sudah tiada sekitar lima tahun lalu.












