Coretan Tanpa Bekas
Keberuntungan Mereka Belum Seperti Alvin
Oleh: Arfianto Wisnugroho
Handphone berbunyi, bergetar, menandakan satu pesan masuk. Ini pesan yang sudah ditunggu Mrs. Brilliant, pesan dari Alvin. Sudah hampir dua minggu Alvin tidak datang untuk belajar. Biasanya ia akan datang setiap hari senin untuk belajar bahasa inggris. Sesekali mata pelajaran lain jika ada pekerjaan rumah yang ia rasa sulit. Alvin akan minta Mrs. Brilliant mengajarinya. Alvin merupakan pelajar kelas VII di salah satu sekolah yang berlatar islami. Di sekolahnya saat ini Alvin merasa lemah memahami pelajaran bahasa inggris. Ia merasa tidak dapat mengimbangi teman sekelasnya. Maklum saja, Alvin belum lama pindah ke kota Jogja. Sebelumnya ia tinggal di salah satu daerah pelosok. Ia tinggal disana lantaran kedua orang tuanya yang harus mengurus kebun disana.
Kedua orang tua Alvin memiliki kebun sawit yang luasnya lebih dari 2 Ha. Menurut cerita Alvin, rata-rata masyarakat disana memiliki lahan sawit 2 Ha sampai 13 Ha. Keadaan yang demikian mempengaruhi tempat tinggal masyarakat. Jarak rumah paling dekat satu dengan rumah yang lain sekitar 30 m. Hampir tidak ada ruang kosong tersisa kecuali pohon sawit yang mengisinya. Salah satu tempat yang agak ramai adalah di area pemerintahan desa yaitu kelurahan. Namun jarak dari rumah ke kelurahan cukup jauh, sekitar 10 km. jarak itu belum seberapa dibanding dengan jarak dari rumah ke kecamatan yakni sekitar 30 km.
Keadaan alam yang demikian mempengaruhi jarak rumah sampai ke sekolah. Untuk sekolah dasar (SD) Alvin menempuh jarak sekitar 1 km. Untung rumah Alvin masih menjangkau sekolah tingkat SD. Namun untuk meneruskan ke tingkat sekolah menengah pertama (SMP), Alvin harus melakukan perjalanan yang berat. Ia harus berjalan kaki dilanjutkan menyeberang sungai untuk bisa ke sekolah. Untuk menyeberang sungai Alvin harus naik perahu karena tidak ada jembatan yang menghubungkan kedua sisi sungai. Adapun perahu yang ia pakai merupakan perahu sewaan yang harus dibayar setiap sebulan sekali. Meski SMP tersebut masih dapat ditempuh, keamanannya belum terjamin. Sewaktu-waktu air dapat meluap dan melahap semua yang ada di sekitarnya. Dengan berbagai pertimbangan, orang tua Alvin berinisiatif mengirim Alvin ke Jogja untuk melanjutkan sekolah.
Jogja yang merupakan kota kelahiran orang tua Alvin memberikan suasana tersendiri. Ia dengan mudah dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Di kota ini Alvin mengikuti berbagai kegiatan diluar waktu sekolah seperti bergabung dengan salah satu klub sepakbola. Ia juga bergabung dengan organisasi remaja masjid.
“Lalu dengan siapa Alvin tinggal?” Tanya mas Nyentrik memastikan.
Sebenarnya mas Nyentrik sudah tahu kalau Alvin tinggal di rumah neneknya. Ibu Alvin yang awalnya hanya mengantar saja akhirnya juga menemani tinggal di Jogja. Lingkungan sekitar rumah rumah yang mereka tempati saat ini sangat nyaman. Terlebih rumah kerabat Ibu Alvin tidak jauh, hanya berjarak beberapa meter saja. Begitu juga jarak rumah Mrs. Brilliant, dapat ditempuh hanya dengan satu menit dengan berjalan kaki. Dengan belajar bersama Mrs. Brilliant, Alvin mampu mengembangkan berbagai potensi yang ia miliki.
Dapat diketahui seperti saat pertama kali Alvin belajar bahasa inggris. Menurut Mrs. Brilliant, Alvin begitu kurang mengerti berbagai kata yang bersifat umum dalam bahasa inggris. Namun setelah beberapa kali pertemuan, Alvin sudah menguasai banyak kata dalam bahasa inggris sehingga ia mampu mengejar ketertinggalannya. Kekurangan Alvin sebelumnya dalam bahasa inggris disebabkan karena ia belum familiar saja. Mrs. Brilliant menambahkan kalau Alvin sangat pintar dalam perhitungan. Dapat dilihat ketika belajar matematika Alvin sangat cepat memahami konsep-konsep dalam matematika.
Semua hal terkait perkembangan Alvin tersebut membuat hati orang tuanya senang. Ternyata Alvin tidak benar-benar tertinggal meski selama ini tinggal didaerah yang jauh dari pendidikan. Dengan sekolah di kota Jogja, orang tua Alvin berharap ia memperoleh pendidikan yang lebih baik. Berharap Alvin dapat mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi.
Mungkin kisah Alvin adalah satu dari sekian anak di Indonesia. Alvin masih beruntung karena memiliki kerabat yang masih tinggal di kota Jogja. Sehingga Alvin dapat menikmati pendidikan yang lebih bagus. Namun bagaimana dengan anak yang tidak beruntung seperti Alvin? Bagaimana jika mereka tidak memiliki kesempatan tersebut? Bagaimana kalau karena suatu alasan mereka harus tetap berada di tempat tinggalnya yang berada di pelosok? Bukankah ada kemungkinan anak-anak yang tinggal di pelosok adalah anak jenius?
“Yah.. lagi-lagi…dan lagi…!” Ucap mas Nyentrik sambil memperhatikan anak-anak yang asyik belajar.
Tetap saja mas Nyentrik hanya bisa memikirkan dan merasakan. Ia tidak memiliki kekuasaan atau hal lain yang dapat merubah suatu kebijakan. Karena itu untuk mengubah segala hal terkait pendidikan di negara adalah keniscayaan bagi mas Nyentrik. Ia hanya berdoa, semoga yang di pelosok sana lebih diperhatikan oleh Siapa.











