Coretan Tanpa Bekas
Memahami Bu Tini, Pemilik Warung Seafoods
Oleh: Arfianto Wisnugroho
Beberapa mobil sudah parkir di depan halaman masjid. Sekitar tujuh mobil memiliki plat nomor yang masih baru. Kemungkinan mereka semua berasal dari keluarga dengan perekonomian menengah. Halaman tersebut lumayan luas. Jika tempat untuk parkir mobil penuh, sewa parkir kurang lebih Rp. 490.000,00 sekali trip. Belum lagi untuk mobil yang keluar masuk serta yang penempatan mobil berada di antara jalan-jalan masuk warung. Belum lagi sepeda motor yang pasti selalu berdatangan setiap waktu. Tambah bis yang jumlahnya sekitar 15 sampai 30 unit memberikan tanda kalau tempat wisata setingkat itu lumayan ramai. Jika dihitung dengan benar pendapatan dari tempat parkir tersebut dapat mencapai rata-rata 5 juta rupiah setiap hari.

Namun bagi Bu Tini, keuntungan dirinya bukan besar pendapatan parkiran atau banyaknya jumlah kendaraan yang keluar masuk objek wisata itu. Melainkan jumlah pengunjung yang membeli setiap menu dari warung makan yang ia bangun. Kalau melihat dari segi geografis, letak warung Bu Tini lumayan bagus. Langsung menghadap ke pantai, tempat parkir juga ada. Bangunan warung tidak terlalu jelek, meski tidak begitu bagus. Paling tidak masih selevel dengan rata-rata bangunan yang ada. Fasilitas dari warung tersebut juga lumayan, yakni memiliki empat kamar mardi yang dapat digunakan oleh pengunjung jika mereka berkenan bermain air pantai setelah atau sebelum menikmati hidangan. Selain itu menu yang ada di warung Bu Tini juga bermacam-macam. Pengunjung dapat meminta berbagai olahan seafoods sesuai dengan keinginan. Baik berupa masakan rica-rica, asam pedas, pedas manis, goreng, dan berbagai jenis olahan lainnya.
Meski demikian masih saja warung Bu Tini kalah bersaing dengan warung lain yang berjumlah puluhan di tempat wisata tersebut. Mungkin karena cara mengelola warung yang masih begitu-begitu saja atau karena hal lain. Bu Tini tidak mau memikirkan hal seperti itu, karena memang cukup berat baginya jika harus mengikuti cara modern yang tidak sesuai dengan gayanya. Sehingga Bu Tini masih selalu melakukan hal yang sama selama bertahun-tahun, seperti yang ia lakukan hari ini. Bu Tini selalu menunggu calon pembeli di parkiran. Ia akan mendatangi pengunjung yang baru turun dari kendaraan. Menawarkan kepada mereka masakan di warungnya dengan menuntun mereka menuju warung.
Mungkin cara demikian terkadang kurang nyaman bagi pengunjung. Beberapa dari mereka terkadang langsung menolak ajakan Bu Tini tersebut. ada juga yang basa-basi dahulu, lantas menolak dengan cara halus. Yang terkadang membuat miris adalah ketika ada pengunjung yang seolah-olah mengikuti Bu Tini, tetapi saat sudah sampai di warung Bu Tini mereka melewatinya begitu saja. Hal tersebut sering terjadi pada Bu Tini, meski Bu Tini sudah ketika sudah menjelaskan panjang lebar selama perjalanan dari tempat parkir ke warungnya kepada pengunjung. Membawa pengunjung sampai di warung bukan perkara mudah. Bu Tini harus pandai-pandai membaca situasi saat itu juga. Meski terkadang ketika Bu Tini sendiri yakin, ternyata pengunjung hanya ingin tahu apa yang akan disampaikan Bu Tini saja.
Namun tidak seperti mas Nyentrik hari itu, ketika ia dan keluarga mengunjungi wisata pantai tersebut. Sebelum mobil berhenti di tempat parkir, mas Nyentrik sudah melihat beberapa Ibu-ibu dan Bapak-bapak yang siap menerima. Bu Tini adalah salah satu diantara mereka. Ketika mobil berhenti, Bu Tini langsung mendatangi mas Nyentrik dan keluarga. Tanpa ragu mas Nyentrik dan keluarga menyambut Bu Tini. Mengikuti Bu Tini yang membawa mereka menuju warung Bu Tini. Disepanjang perjalanan menuju warung Bu Tini menjelaskan berbagai menu yang ada di warungnya. Mas Nyentrik hanya terdiam sambil mengikuti langkah Bu Tini, sekali-kali mengangguk atau mengucapkan kata-kata yang berarti setuju.
Setelah sampai di warung, Bu Tini menyodorkan menu olahan. Mas Nyentrik dan keluarga melihat untuk memilih menu sementara Bu Tini menjelaskan harga setiap jenis masakan. Sementara suami Bu Tini yang dari tadi sudah di sana bersiap membantu berkenaan dengan tempat agar lebih nyaman. Ms Nyentrik dapat melihat kalau tempat tersebut masih bersih. Sepertinya mas Nyentrik sekeluarga adalah pengunjung pertama hingga pukul dua siang itu. Setelah selesai memesan, Bu Tini segera menyiapkan segalanya. Sekitar dua puluh lima menit semua makanan tersebut sudah siap untuk dihidangkan. Mas Nyentrik sekeluarga menikmati hidangan sementara Bu Tini menunggu di depan warung sambil memandang ke pantai. Mas Nyentrik dapat melihat wajah Bu Tini yang sedikit lesu, mungkin karena kecapekan. Jika ada pengunjung yang lewat, dengan ramah Bu Tini mempersilahkan mereka untuk mampir. Namun tidak ada satupun yang mampir selama mas Nyentrik dan keluarga menyantap hidangan.
Hari itu Mas Nyentrik sekeluarga berniat duduk santai setelah menikmati hidangan dari warung Bu Tini. Namun mas Nyentrik sedikit memiliki pertanyaan, mengapa Bu Tini sedari tadi masih duduk di depan warung? Mungkin memang itu kebiasaan saja pikir mas Nyentrik. Sesaat kemudian istri mas Nyentrik mendekati Bu Tini, bertanya berapa tagihan dari hidangan yang sudah mereka nikmati. Setelah Bu Tini menjelaskan total tagihan, Istri mas Nyentrik membayar tagihan tersebut. Selesai mereka melakukan pembayaran, Bu Tini mempersilahkan mas Nyentrik sekeluarga menikmati suasana yang ada. Namun sebelumnya membantu keluarga mas Nyentrik jika ada makanan yang akan di bungkus karena tidak habis. Sesaat kemudian mas Nyentrik tidak lagi melihat Bu Tini di sekitar mereka.
Sekitar satu jam kemudian mas Nyentrik sadar ketika Bu Tini membawa tiga pengunjung ke warung. Saat itu sekitar pukul setengah lima sore. Seketika itu juga mas Nyentrik sadar dan tahu, bagaimana Bu Tini dan suami bertahan dengan warungnya sampai saat ini.







