Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia Langkah Mundur Abaikan Potensi Penyebaran oleh Laki-laki Heteroseksual

Data yang menunjukkan kondisi epidemi HIV/AIDS di Indonesia

Edukasi, Terbaru26 Dilihat

 

Tampaknya, penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia mengalami langkah mundur karena mengabaikan penyebaran HIV/AIDS melalui laki-laki heteroseksual.

Data ini bisa menunjukkan kondisi epidemi HIV/AIDS di Indonesia, yaitu jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS secara nasional dari tahun 1987 – Maret 2025 (Sumber: Laporan HIV AIDS PIMS Triwulan I 2025):

  • Jumlah kumulatif HIV/AIDS: 645.796

Yang terdiri atas:

  • Jumlah kasus HIV: 456.898
  • Jumlah kasus AIDS: 188.898

Selain itu perlu juga diperhatikan bahwa Indonesia, negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, juga memiliki jumlah infeksi HIV baru terbesar keempat per tahun. Organisasi Kesehatan Dunia PBB (WHO) memperkirakan bahwa di Indonesia 73.000 kasus infeksi HIV baru per tahun, hanya tertinggal dari China, India, dan Rusia (aidsmap.com, 2018).

Judul-judul berita di media siber yang sensasional dengan aroma bombastis (KBBI: bersifat omong kosong) yang mem-blow up LSL dan gay.

Simak beberapa judul berita media siber di bawah ini:

  • 147 Orang di Kota Serang Terjangkit HIV/AIDS Sepanjang 2025: Mayoritas Gay (kumparan.com, 19/11/2025)
  • Praktik Gay Dominasi Penularan, Ini Data Terbaru Tren Peningkatan HIV/AIDS di Aceh (aceh.tribunnews.com, 12/10/2025)
  • 3.274 Gay di Jawa Barat Positif HIV (detik.com, 27/6/2025)
  • 94 Gay di Subang Positif HIV, Mayoritas Usia di Bawah 30 Tahun (metrotvnews.com, 10/7/2025)
  • Didominasi Pasangan Gay, Kasus HIV di Blitar Naik (detik.com, 2/7/2025)

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait dengan penyebutan gay, yaitu:

Pertama, fakta menunjukkan bawah yang disebut gay ternyata ada yang mempunyai istri dan anak. Itu artinya mereka bukan gay dengan orientasi seksual sebagai homoseksual (secara seksual hanya tertarik kepada sesama jenis).

Maka, mereka itu disebut sebagai laki-laki (heterosesual) dengan perilaku LSL (Lelaki Suka Seks Lelaki). Ini sejalan dengan penjelasan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC-Centers for Disease Control and Prevention) AS menyebut LSL merupakan kelompok yang beragam dalam hal perilaku, identitas, dan kebutuhan perawatan kesehatan. Istilah “LSL” sering digunakan secara klinis untuk merujuk pada perilaku seksual semata, tanpa memandang orientasi seksual (misalnya, seseorang mungkin mengidentifikasi dirinya sebagai heteroseksual tetapi masih diklasifikasikan sebagai LSL) (cdc.gov).

Kedua, kalau memang mereka, warga yang terdeteksi HIV mengaku gay, benar-benar gay sebagai homoseksualitas itu artinya penyebaran HIV/AIDS terkendali karena mereka tidak mempunyai pasangan perempuan sebagai istri (Lihat matriks penyebaran HIV/AIDS oleh heteroseksual dan homoseksual).

Matriks: Penyebaran HIV/AIDS Melalui Laki-laki Heteroseksual/Biseksul Dibanding Gay dan Pelajar. (Foto: Dok/AIDS Watch Indonesia/Syaiful W. Harahap)

Kenyataannya, tidak sedikit ibu-ibu hamil (Bumil) yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS dan sifilis. Simak data ini: Dalam “Laporan Tahunan dan Triwulan HIVPIMS 2024” yang dipublisikan oleh “HIV AIDS PIMS Indonesia” menunjukkan secara nasional dari tahun 2019 – 2024:

  • Ibu hamil (Bumil) terdeteksi HIV-positif: 26.642
  • Ibu hamil (Bumil) terdeteksi positif sifilis: 28.149

Nah, tentulah para Bumil itu tertular HIV/AIDS dan sifilis dari suaminya yang bisa jadi mengaku sebagai gay, padahal mereka heteroseksual dengan perilaku seksual sebagai LSL.

Ketiga, bisa jadi predikat gay hanya diperleh penjangkau melalui ‘wawancara’ yang selintas. Padahal, seperti dikatakan oleh Dede Oetomo, aktivis di GAYa Nusantara, Surabaya, untuk mengetahui apakah seseorang benar-benar gay sebagai homoseksual perlu wawancara yang mendalam.

Memang, Dede juga membenarkan ada saja di antara mereka yang mengaku-ngaku gay benar-benar gay. Tapi, agar lebih objektif, “Lebih tepat disebut sebagai laki-laki dengan perilak LSL,” pinta Dede.

Sebuah studi di Surabaya, Jatim, di tahun 1990-an menunukkan rata-rata pelanggan Waria adalah laki-laki yang mempunyai istri. Mereka melakukan seks anal dengan Waria merasa tidak mengingkari cinta karena penis tidak dipakai ke vagina pada hubungan seksual.

Celakanya, laki-laki beristri pelanggan Waria itu justru jadi ‘jembatan’ penyebaran PIMS (penyakit infeksi menular seksual, seperti sifilis, GO, virus hepatitis B, virus kanker serviks dan lain-lain) atau HIV/AIDS ke masyarakat secara horizontal, dalam hal ini istri atau pasangan seks lain, melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Soalnya, laki-laki pelanggan Waria jadi ‘perempuan’ dengan dianal (ditempong) oleh Waria. Kondisinya kian runyam jika Waria yang menempong tidak memakai kondom sehingga risiko penularan PIMS atau HIV/AIDS atau keduanya sekaligus kian tinggi.

Berita-berita HIV/AIDS di media siber hanya menonjolkan LSL dan gay sehingga potensi laki-laki heteroseksual pelanggan pekerja seks komersial (PSK) terabaikan.

Memang, sejak reformasi tahun 1998 lokalisasi dan Lokres (lokalisasi dan rehabilitas) pelacuran dengan PSK langsung yang kasat mata ditutup yang membuat pelacuran pindah ke media sosial dengan PSK tidak lansung yang tidak kasat mata melalui transaksi Daring (dalam jaringan) melalui Ponsel (telepon selular).

Matriks: Tidak Ada Intervensi Pencegahan Insiden Infeksi HIV Baru di Hulu karena Tidak Terjangkau (Foto: Dok Pribadi/Syaiful W. Harahap)

Transaksi Daring sama sekali tidak bisa dijangkau sehingga yang terjadi adalah hubungan seksual yang berisiko tinggi tertular HIV/AIDS karena laki-laki tidak memakai kondom.

Tanpa program penanggulangan di hulu yaitu menurunkan, sekali lagi hanya bisa menurunkan, insiden infeksi HIV baru terutama pada laki-laki dewasa melalui hubungan seksual dengan PSK langsug atau PSK tidak langsung, maka selama itu pula penyebaran HIV/AIDS akan terus terjadi.

Penyebaran HIV/AIDS di masyarakat ibarat ‘silent disaster’ (bencana terselubung) sebagai ‘bom waktu’ yang kelak bermuara pada ‘ledakan AIDS.’ [Ilustrasi (Sumber: borgenproject.org)] <*>

* Kompasianer ini adalah penulis buku: (1) PERS meliput AIDS, Pustaka Sinar Harapan dan The Ford Foundation, Jakarta, 2000 (ISBN 979-416-627-8); (2) Kapan Anda Harus Tes HIV?, LSM InfoKespro, Jakarta, 2002 (ISBN 979-96905-0-1); (3) AIDS dan Kita, Mengasah Nurani, Menumbuhkan Empati, tim editor, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2014 (ISBN 978-602-231-192-8); (4) Menggugat Peran Media dalam Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia, YPTD, Jakarta, 2022 (ISBN 978-623-5631-25-7); (5) 70 Tahun Syaiful W. Harahap Sepanjang Karir Menggeluti Berita HIV/AIDS (IWP MEDIA PUBLISHING, Jakarta, 2025 – QRCBN 62-6099-2529-730). (Kontak via e-mail: infokespro@yahoo.com). (Sumber: Kompasiana, 3/4/2026).

Tinggalkan Balasan