Coretan Tanpa Bekas
Siapa Yang Paling Untung?
Oleh: Arfianto Wisnugroho
Kami belum mampu memikirkan perekonomian di tingkat daerah. Apalagi di tingkat wilayah suatu Negara, kami sungguh belum mampu. Sehingga bahasa sehari-hari kami seputar kampung saja. Mengajarkan bagaimana seharusnya hidup kepada anak-anak, kami masih menggunakan cara tradisional. Saat ini kami sedang berada dalam tahap memperbaiki tutur bahasa kami yang masih jauh dari sopan. Sebagian besar masyarakat kami belum memiliki pemikiran jauh kedepan untuk keberlanjutan generasi kami. Jika ada dari kami yang tidak demikian seperti yang saya sampaikan, itu hanya beberapa orang saja. Merekalah yang kami gadang-gadang agar dapat membangun kampung ini. Menjadikan warga masyarakat yang selalu berorientasi jauh kedepan. Bukan masyarakat yang hanya bangga akan masa lalu. Masa yang kalau diteruskan untuk dipelihara belum tentu sesuai dengan perkembangan saat ini.
Kami harus bekerja keras agar warga masyarakat mampu beradaptasi dengan perkembangan. Orang-orang pilihan kami selalu berusaha meyakinkan warga masyarakat akan ide-ide mereka. Berbagai cara berbeda terus dicoba, tapi berbagai alasan menolak dari warga masyarakat selalu ada. Ide mereka mulai diterima oleh beberapa warga meski memerlukan waktu yang lama. Mau bagaimana lagi, namanya warga pasti memiliki banyak perbedaan. Untuk perbedaan tersebutlah mereka harus berjuang. Meski jika dilihat lebih jauh, masih banyak yang tidak setuju dengan setiap ide tersebut dibanding yang setuju. Meskipun begitu keadaan masyarakat selalu tenteram dan damai. Hingga suatu terjadi perdebatan dalam musyawarah warga yang membuat warga masyarakat berpikir lebih dari biasanya.
Musyawarah warga masyarakat saat itu diadakan pada malam senin. Rumah pak RT kebetulan menjadi tempat berkumpul warga. Musyawarah pada malam itu terbilang cukup alot untuk menghasilkan kesepakatan. Adapun musyawarah saat itu membahas terkait keterlibatan warga masyarakat dalam coblosan, pemilihan wakil rakyat. Apapun kegiatan menyangkut pilih memilih, warga masyarakat akan menamainya coblosan. Nama coblosan seolah sudah menjadi nama otomatis, apapun bentuk kegiatannya seperti memilih ketua RT, Dukuh, Lurah, dan sebagainya. Pokoknya kegiatan yang menyangkut pilihan banyak warga.
“Wah, coblosan ya…!” Seru mas Nyentrik dengan mata berbinar.
Kejadian berawal dari salah satu warga, sebut saja pak Jon, yang tergabung dalam salah satu partai politik (parpol). Atas kepercayaan dari salah satu calon kandidat dari parpol, pak Jon bertugas untuk mengkondisikan suara warga. Sebagai kader parpol tentu saja pak Jon berusaha keras untuk memenuhi tugasnya. Atas dasar hal tersebut pak Jon memberikan usulan dalam musyawarah warga. Usulan tersebut berupa ajakan agar semua warga yang memiliki hak pilih memberikan dukungan pada kandidat dari parpol pak jon saat coblosan nanti. Sebagai imbalan, warga masyarakat boleh minta sesuatu dari calon tersebut. Tentu saja hal itu memicu protes dari sebagian warga.
Pada akhirnya perselisihan tidak dapat dihindari. Beberapa warga berpendapat kalau hal tersebut melanggar demokrasi. Ada juga yang berpendapat perihal coblosan diberikan sepenuhnya kepada warga. Bukankah mereka memiliki pilihan masing-masing? Kita tidak perlu campur tangan. Beberapa warga yang setuju dengan usulan pak Jon memberikan beberapa argumentasi. Bahwa dengan menyetujui untuk memberikan dukungan berarti kita ikut membangun masyarakat.
“Membangun bagaimana?” Tanya salah seorang warga.
Pak Jon langsung menyambung, menjelaskan lebih detail kalau warga dapat meminta barang atau jasa sebagai ganti suara yang diberikan. “Barang atau jasa tersebut tentunya sangat bermanfaat bagi warga,” imbuh pak Jon meyakinkan warga.
Saling adu argumen akhirnya terjadi dalam pertemuan tersebut. Semua memiliki pendapat yang menurut mereka untuk kebaikan warga masyarakat. Namun akhir dari musyawarah tidak memberikan keputusan yang berpihak pada pak Jon. Beberapa warga hanya mengikuti hasil musyawarah, mereka juga tidak bersuara langsung selama musyawarah.
Mas Nyentrik yang sedari tadi duduk di salah satu sudut ruangan berpikir dan merenung. Menurutnya kejadian seperti pada musyawarah yang baru saja terlaksana masih dapat terjadi. Bahkan ada kemungkinan seseorang yang berperan seperti pak Jon dapat meyakinkan warga untuk memberikan dukungan.
“Luar biasa sekali, enak punya duit..!” ucap mas Nyentrik dalam hati sambil merenung yang membuahkan beberapa pertanyaan. Lalu jika nanti kandidat tersebut menang. Apakah ia akan terus memberikan apa yang diinginkan warga? Atau hanya sekali saja saat mau coblosan? Terus, seandainya ia tidak minta dukungan warga tapi menang, apakah ia berusaha terlibat dalam menyelesaikan permasalahan warga? “Ehhh, tunggu-tunggu…! Bukankah kandidat yang terpilih memang menjadi wakil rakyat?” Pikir mas Nyentrik semakin keras sehingga makin banyak pertanyaan muncul.
Dari sekian banyak pertanyaan yang muncul dari pikiran mas Nyentrik, ia akhirnya hanya menyisakan dua pertanyaan. Pertanyaan tersebut terkait siapa yang paling untung dan siapa yang buntung. Yang pasti akan ada kemungkinan terjadinya perpecahan di masyarakat. Hal itulah yang harus dihindari.










