Kepada Pagi yang Sunyi

    https://pin.it/6j1TUif

    Kepada Pagi yang Sunyi

    Pagi ini mataku terlambat untuk terbuka
    Kulihat jarum jam di dindung menunjuk angka lima
    aku berusaha menyadarkan diri dan lelap semalam
    mengerjap-ngerjapkan mata berusaha mengingat tentang sebuah hari

    Ada yang hilang
    Di halaman takada suara gesekan sapu. Bukan tersebab tanah lembab. Guguran daun-daun kering. Rumput-rumput sudah dua minggu tak disiangi

    “Ke mana Ibu yang setiap pagi di halaman ini?” seseorang bertanya. Suara itu tak berjawab. Angin pun takingin bercerita tentang sebab, tentang lingkaran mata masih terlihat sembab

    Pintu masih tertutup. Suara-suara: denting piring yang dicuci, desis air yang dimasak; ke mana? “Hey, salat Subuhmu kembali dipanggang matahari!” Suara pengingat itu pun takada

    Kemanakah?
    aku beringsut menatap pekarangan dari jendela
    masih kuingat suara yang kerap kali memanggil namaku
    lalu mengajak bercerita sepanjang hari
    Kini tak kutemui

    Duduk membisu
    Hanya memegangi gelas berisi teh panas dengan kedua telapak tanganku
    sesekali memejamkan mata dan melukiskan dirimu ada di hadapanku
    dan kuceritakan lagi tentang hari yang kulalui tanpa hangatmu bersama untaian embun yang mulai luruh

    Beranda Rindu, 12 Desember 2020
    Ketika aku kehilangan
    (Kolab bersama Ayah Tuah)

    *puisi ke 8 KMAA

Tinggalkan Balasan

1 komentar