Sebingkai Goresan Aksara

    sumber gambar dari Pixabay

    Kau pernah mengatakan bahwa
    Kita berada di negeri yang tenggelam
    Aku mendengar sambil menyeduh teh melati yang harum
    Pagi ini bersama sapa mentari dan mencoba merangkai kalimat-kalimatmu

    Suatu hari kau juga berbisik, di persimpangan menganang nama-nama, setelah itu membaca kisah perjalanan dari perempuan pejalan menuju cahaya
    Aku hanya menganggukkan kepala dan tersenyum
    Ini adalah jalan cerita dari cerita jalan

    Sepintas aku seperti mempunyai teman bicara, di mana aku cukup sebagai pendengar saja, itu bagiku sungguh luar biasa
    Dulu atau sekarang ketika kata-kata menjadi berhala, takkan ada yang bisa merubahnya
    Ini tentang sebuah suara yang menyuruh suara lain melihat cermin

    Menceritakan tentang kita dan hujan sebaiknya jangan biarkan hatimu kemarau
    Angin pagi yang mengabarkan api, luka, juga air mata, akan segera berganti,
    Mungkin seperti peniup bara, ini kisahnya
    dalam goresan aksara

    Tsm, 20092021
    *puisi ke 19
    Ide tulisan dirangkai dari beberapa judul puisi Ayah Tuah

Tinggalkan Balasan