Mengawali Ramadhan

Terbaru3452 Dilihat

Datangnya satu ramadhan merupakan saat yang sangat dinantikan oleh kaum muslim di seluruh belahan dunia termasuk Indonesia.

Di Indonesia yang merupakan negara mayoritas muslim sangat terasa nuansa bulan ramadhan dari awal hingga datangnya satu syawal. Semua bergembira menyambut datangnya bulan suci penuh rahmat dan berkah.

Betapa tidak? Bulan ramadhan yang terdiri dari tiga puluh hari iti terbagi menjadi tiga fase. Sepuluh hari pertama merupakan fase rahmat, sepuluh hari kedua fase ampunan, dan sepuluh hari ketiga merupakan pembebasan dari api neraka. Subhanallah.

 Masyarakat Kaili yang mendiami lembah Palu dan sekitarnya  mayoritas beragama Islam.

Sebagaimana daerah daerah lainnya di Indonesia, di kota Palu khususnya dan Sulawesi Tengah pada umumnya menyambut kedatangan bulan barokah ini dengan segenap kesyukuran.

Masjid masjid yang besar maupun yang kecil penuh dengan jamaah baik tua, muda, dan anak anak. Seolah tak ada yang mau ketinggalan dengan keistimewaan bulan puasa.

Ketika shalat tarwih, subuh, magrib, dan isya kebanyakan masyarakat melakukannya di masjid terdekat. Demikian pula pada saat berbuka puasa, banyak yang datang berbuka di masjid sekaligus shalat magrib berjamaah.

Para  ibu dan dermawan tidak menyianyiakan waktu untuk datang atau mengirim hidangan berbuka berupa teh manis (jenis minuman lain) dan jajanan untuk berbuka.

Sedangkan untuk menu sahur banyak kelompok atau komunitas muslim yang ikhlas menabung kebajikan dengan menyiapkan hidangan sahur dalam bentuk nasi bungkus terutama di masjid masjid besar yang mudah dijangkau oleh para musafir atau mereka yang membutuhkan.

Indahnya berbagi berkah di bulan suci.

Dalam tradisi keluarga suku ‘Kaili’ bulan ramadhan merupakan bulan berkumpul dalam keluarga. Kebiasaan pulang kampung untuk mengawali ramadhan secara bersama sama sudah berlangsung sejak dahulu kala.

Mereka yang mencari penghidupan atau menuntut ilmu  di kota, pasti berusaha pulang kampung pada bulan puasa. Terutama mereka yang masih memiliki keluarga utuh, ada ayah dan ibu. Kerinduan untuk  bersama pasti selalu ada.

Orang Kaili asli pada awal ramadhan senang membuat hidangan sahur dengan nasi ketan dan sayur santan ikan yang sudah dipanggang/diasap (bau tapa dalam bahasa Kaili) atau ayam bakar. Namanya ‘uta dada’. Ini hidangan faforit yang harus ada sebagai pasangan dari ketan yang dimasak seperti nasi. Biasanya  juga dimasak dengan santan. Wah, sedap alias ‘narasa’  dalam bahasa Kaili.

Untuk mereka yang belum mengidap penyakit misalnya kolestrol atau asam urat, maka makanan yang tersebut di atas akan selalu ada sepanjang ramadhan.

Orang Kaili senang makanan yang pedas dan sedikit kecut. Sehingga hampir setiap masakannya diselip dengan asam Jawa walaupun hanya sebutir kecil. Yang  penting aromanya.

Dengan kondisi selera yang seperti ini, orang Kaili yang biasanya pergi mengunjungi keluarga di pulau Jawa, sering membawa bekal ‘sambel lambok atau cabe rawit” sebagai pelengkap makanan.

Berdasarkan pengalaman bila orang Kaili berada di Jakarta atau kota lain di pulau Jawa, maka solusi untuk selera makan ini biasanya diselesaikan di warung Minamg. Selera masakannya  hampir sama, agak pedas dan kental. Waduh, gimana kalau ke luar negeri? bisa repot kalau begini.

Hidangan lain yang mesti ada di hari hari bulan ramadhan adalah ‘sayur kelor’ yang disantan dan ‘ikan palumara’, yakni ikan berkuah kunyit dan asam Jawa kental dengan rasa pedas.

Hidangan seperti ini akan membuat kerinduan para perantau semakin besar untuk segera pulkam ketika ramadhan. Mungkin karena kesibukan, para Kaili perantau di kota kota lain tidak sempat memasak sendiri  (malah ada yang mengatakan kalau masak sendiri justru ‘tidak enak’)

Konon rasa masakan di kampung yang dibuat oleh ahlinya beda dengan hasil masakan anak sekarang meski bahan dan tata cara masaknya sebenarnya sama. Entahlah, apa yang membedakannya.

Inilah situasi dalam  keluarga “Kaili” di bulan ramadhan. Bagaimana dengan daerah lain? pasti juga memiliki kisah unik di bulan suci ramadhan. Mungkin ceritanya lebih seru lagi.

Lain padang lain belalang lain lubuk lain pula ikannya.Demikianlah kata pepatah. Semoga bermanfaat. Wasallam.

Tinggalkan Balasan