Aku adalah seorang anak yang dilahirkan di sebuah pulau yang terletak di sebelah timur Indonesia. Tempat itu dikenal dengan nama pulau Sulawesi yang bentuknya hampir mirip dengan huruf ‘k’. Lokasi tempat tinggal saya tepat berada di tengah pulau yakni kota Palu provinsi Sulawesi Tengah.
Terjadinya gempa dahsyat yang disertai tsunami dan likuifaksi membuat kota ini menjadi terkenal di seluruh dunia. Fenomena alam yang jarang terjadi membuat dunia memberi perhatian khusus terhadap kota Palu dan daerah sekitarnya yang terdampak langsung. Bantuan kemanusiaan dari dalam dan luar negeri adalah sesuatu yang tidak bisa kami lupakan. Terus terang kami warga Palu tidak bisa membalasnya. Hanya doa dan harapan sebagai imbalannya, agar daerah lain insha Allah tidak mengalami hal serupa.
Dua tahun telah berlalu kejadian itu. Tanggal 28 September 2018 merupakan masa ujian berat bagi kami. Kini waktu terus bergulir. Seiring dengan itu perbaikan dan pembangunan kembali berbagai sarana dan fasilitas terus dilakukan demi berjalannya irama kehidupan normal seperti sediakala.
Sebagai salah satu putra bangsa yang terlahir dari ‘Tanah Kaili”, penulis tertarik untuk menuliskan sedikit tentang keberadaan suku asli yang mendiami lembah Palu dan sekitarnya tersebut. Namanya adalah ‘Suku Kaili”. Mereka menggunakan bahasa daerah Kaili sebagai bahasa asli yang terdiri dari beragam dialek, misalnya dialek Ledo, Rai, Da’a, Tara, Ado, Edo, Do,i dan masih banyak yang lain. Namun dari semua dialek tersebut memiliki persamaan arti yakni “tidak”. Rai artinya tidak, Ledo artinya tidak, Tara artinya tidak dan seterusnya.
Suku Kaili bila dilihat dari sejarah keberadaannya, sebenarnya berasal dari Sulawesi Selatan. Sebab pada awalnya lembah Palu itu adalah lautan tak bertepi. Penduduk aslinya tinggal di pegunungan yang menelilingi lembah. Seiring dengan proses alam, maka lembah Palu lambat laun sebagian besar berubah menjadi daratan dan didiami oleh penduduk.
Hal ini bisa dibenarkan dengan adanya legenda Saweri Gading yang perahunya terdampar di tepi pantai. Namun bila dilihat kembali tempat tersebut ternyata jaraknya puluhan kilo meter dari tepi pantai teluk Palu saat ini.
Dalam kesehariannya, masyarakat “Tanah Kaili’ hidup dari bertani di sawah atau bercocok tanam di kebun. Bagi mereka yang tinggal di pesisir pantai, maka mata pencahariannya adalah sebagai nelayan. Sedangkan yang lain bekerja sebagai tukang, pedagang, dan pegawai.
Tatanan kehidupan masyarakatnya masih mengutamakan persaudaraan yang sangat erat. Bila mengadakan sebuah pesta atau hajatan, maka semua saudara dekat ataupun jauh pasti diundang. Mereka akan berkumpul di tempat hajatan jauh hari sebelum acara diadakan guna melakukan persiapan pesta bersama – sama.
Kehidupan gotong royong sudah menjadi sebuah tradisi turun temurun yang tidak bisa hilang hingga saat ini. Saling membantu dan memenuhi kebutuhan bagi yang lain sudah menjadi tata aturan yang berlaku sejak zaman kakek nenek terdahulu.
Prinsip yang digenggam erat adalah “hari ini kita punya maka harus membantu yang lain. Esok lusa kita butuh maka orang lain pun pasti akan membantu kita”
Semoga gambaran singkat yang sempat penulis paparkan pada kesempatan ini bermanfaat bagi pembaca khususnya mereka yang ingin menambah pengetahuan tentang keragaman budaya daerah di Indonesia. Wasalam
Bersambung






Kritik dan saran yang berguna untuk perbaikan isi tulisan sangat diharapkan. Terima kasih yang sebesar besarnya penulis haturkan untuk mentor H. Thamrin Dahlan yang sudah memberikan kesempatan bagi para guru untuk berkarya. Semoga berkah