Pelangi selalu datang ketika hujan turun, dulu sekali aku percaya itu dan aku selalu menanti hujan turun untuk menatap sejenak betapa indahnya pelangi. Waktu berjalan semuanya berubah tapi tidak dengan Selengkapnya
Penulis: Siti Nurbaya AZ
Hal Tatazawajani (2)
Seperti dicucuk hidung aku mengekor di belakang Bang Anwar menuju salah satu sudut yang tidak terlalu ramai. Kami duduk bersebelahan, untung saja di pesta pernikahan jika tidak aku tidak akan Selengkapnya
Hal Tatazawajani (1)
“Sinta, Abdul, Anwar.” Nyaring suaraku mengabsen satu persatu siswa. Menyebut nama Anwar membuatku tersenyum kecil, ada yang mencuit hatiku ketika menyebut namanya. Anwar bin Khalid melayu sekali, sama seperti diriku Selengkapnya
Kabar Cinta (End)
“Bukannya ini Ibu gurunya, Nina.” Ucap Mak Bang Aan membuatku terkejut. Nina adik bungsu Bang Aan memang bersekolah ditempatku mengajaran kepala kepada Mak Bang Aan. “Bukannya ini Ibu gurunya, Nina.” Selengkapnya
Kabar Cinta (1)
Reuni akbar mungkin bukah hal baru, pernak perniknya melebihi masa sekolah dulu, bagaimana tidak waktu putih abu – abu dengan kantong kosong modal dari orang tua saja sudah berani membuat Selengkapnya
Mungkinkah Cinta (part End)
Belum juga hilang ngantuku, aku mendengar pintu ruang rawat Ibu di buka seseoroang, dengan malas aku mengalihkan mataku ke arah pintu dan berusaha bagun dari baringku. Badanku terasa lelah setelah Selengkapnya
Mungkinkah Cinta (part 9)
“Ibu, apa yang Ibu katakana. Bukannya dia yang menabark Ibu?” aku memandang Ibu tak percaya “Untung ada Dia, jika tidak Ibu tidak tahu bagaimana nasib uang kontrakan rumah kita Put.” Selengkapnya
Mungkinkah Cinta (part 8)
“Kamar melati 21.” Bergegas aku mengambil kunci motor bututku tak lupa aku membawa tas sandang yang selalu setia menemani kemanapun aku pergi, tidak banyak isinya yang pasti KTP serta SIM Selengkapnya
Mungkinkah Cinta (part 7)
Part Edwin Aku sengaja mengulur–ulur waktu, mengerjainya tentu saja tidak. Tapi aku ingin lebih lama berdua dengan. Aku melihat wajah kesalnya tapi dia masih terlihat manis. Entah hanya aku yang Selengkapnya
Mungkinkah Cinta (part 6)
“Putri pamit bu.” Aku mencium tangan Ibuku sebelum aku menuju kampus untuk pertemuan selanjutnya bagi membicarakan masalah KKN dengan kelompokku. Walaupun malam tadi mataku sulit untuk dipejamkan dan sekarang aku Selengkapnya
- Sebelumnya
- 1
- …
- 8
- 9
- 10
- 11
- 12
- …
- 69
- Berikutnya
Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.











