Mungkinkah Cinta (part End)

Cerpen, Fiksiana, KMAB178 Dilihat

Belum juga hilang ngantuku, aku mendengar pintu ruang rawat Ibu di buka seseoroang, dengan malas aku mengalihkan mataku ke arah pintu dan berusaha bagun dari baringku. Badanku terasa lelah setelah tadi pukul 2 pagi aku beristiqarah rasa belum lagi aku memejamkan mata tidur ditempat tidur sebelah Ibu, untung saja di ruang rawat ini hanya Ibu yang dirawat sehingga aku tidak perlu tidur beralaskan tikar di lantai rumah sakit.

Mataku membulat besar, sepagi ini Edwin sudah kemari. Aku melihat jam dipergelangan tanganku. Baru pukul 5 pagi, apa sudah bisa besok. Bukannya jam besok pukul 10 nanti pagi. Edwin menutup pintu dengan hati – hati takut membangunkan aku maupun Ibu. Aku bangun dan menyusul Edwin yang masih dipintu kamar.

“Ada apa pagi – pagi kesini.” Suaraku mengejutkan Edwin yang baru saja menutup pintu kamar rawat inap Ibu

“Bikin kaget saja.” bukannya menjawab pertanyaanku malah Edwin memarahiku karena membuatnya kaget dengan pertanyaanku.

“Habis lari pagi, sekalin mampir lihat calon mertua.” Santai saja Edwin berkata itu, tapi  jantungku yang mau lepas dari tempatnya.

“ Kenapa, tidak suka aku datang atau malah sukakan dengan kedatanganku.”

“Tidak lucu.” Aku menjawab kesal

“Pulang sana Ibu masih tidur, menganggu saja.” aku berusaha mengusir Edwin

“Akukan mau melihat Ibu saja, bukan mau membangunkannya.” Tanpa memperdulikan aku Edwin terus saja berjalan mendekati ranjang Ibu.

“Muka Ibu sudah berseri, berarti ibu baik – baik saja.” seperti dokter saja Edwin berbicara

“Sok tahu.” Ciberku

Hampir saja aku terjatuh, tiba – tiba saja Edwin menarik tanganku dan membawa aku menjauh dari ranjang Ibu.

“Lepas, sakit tahu.” Kataku kepadanya

“Mana yang sakit? Masak segini saja sakit.” Sambil menujukkan tanganku yang ditarik olehnya Edwin mengejekku

Tangan Edwin meraih gagang pintu dan membukanya, dengan terpaksa aku mengikutinya karena tanganku masih dipegangnya

“Mau kemana? Aku masih mengantuk.” Kataku kepada Edwin bukannya melepas tanganku malah sekarang Edwin memegang kedua bahuku sambil berkata

“Put, kamu mau kan? Edwin sengaja memegal kalimatnya membuat aku penasaran

“Mau apa?” Tanyaku

Edwin malah melepas kedua tangannya dari bahuku dan memilih duduk dibangku yang berada tidak jauh dari ruang rawat inap Ibu. Pagi – pagi sudah bikin orang bingung, aku mengikuti Edwin dengan duduk disebelahnya.

Beberapa kali aku menguap karena memang aku kurang tidur, Edwin belum juga berkata – kata

“Kalau tidak ada apa – apa aku kembali kekamar.” Melihat aku berdiri

“Tidur pagi tidak bagus untuk kesehatan.” Komentarnya

“Masak bodoh.” Ucapku dan terus berjalan meninggalkannya

“Kayaknya kamu punya kebiasan menarik orang ya.” Sekali lagi Edwin menarik leganku

“Duduk dulu, ada yang ingin aku sampaikan.”

“Dari tadi kamu diam saja, sekarang aku mau pergi bilang mau bicara. Bicaralah.”  Akhirnya aku duduk kembali disamping Edwin..”

“Ayolah bicara, katanya mau bicara.”

“Put, seandainya aku menjadi calonmu. Kamu mau?” Deg jantung sepertinya mau copot, tapi aku berusaha tenang mendengar perkataan Edwin

“Calon RT, calon Bupati atau presiden?’ aku berusaha melucu, tapi rasanya garing

“Put, aku serius.” Suara Edwin terdengar aneh

“Aku juga serius, kamu itu bicaranya tidak jelas. Sebenarnya kamu mau ngomong apa Win?” aku berusaha menenangkan hatiku walaupun aku berkata meminta Edwin serius sebenar aku takut mendengarkan apa yang akan Edwin katakan.

Ini orang katanya mau ngomong tapi dari tadi hanya diam, aku sudah panas dingin dibuatnya.

“Jadi ngomong tidak?” akhirnya aku bersuara lagi

“Janji kamu tidak akan mengetawakan aku.” Perkataan Edwin malah membuatku tertawa, secepat kilat tawaku berhenti Edwin menatapku tepat di bola mataku, membuatku merinding dengan tatapannya.

“Iya aku janji.” Kataku dengan terbata – bata dan tidak berani menatap mata Edwin

“Jadikan aku calon imammu.” Kata Edwin mantap

Aku menatap Edwin dan berkata dalam hati Mungkinkah?***

Tinggalkan Balasan