8 | Hari Kesembilan Sejak Kematian “Jangan ke sana! Kamu di rumah saja, Rama!” Rama tidak mengindahkan teriakan neneknya yang berusaha mengejarnya. Anak yang masih memakai sarung itu berlari Selengkapnya
Penulis: Sudomo
Titik Balik: Kecimol (Bagian 7)
7 | Menyerah Bukan Berarti Kalah “Rama … Bapak sudah menyerah,” kata Kak Tuan Yusuf pada anaknya di berugak halaman belakang selepas magrib. Wajah lelaki tua itu terlihat kusut Selengkapnya
Titik Balik: Kecimol (Bagian 6)
6 | Tekad Sudah Bulat Suara drum yang ditabuh Ipang Jering bersahutan dengan petikan gitar Rama. Paduan dua suara alat musik itu memantul-mantul di dalam sanggar seni. Nada-nada dari Selengkapnya
Titik Balik: Kecimol (5)
5 | Panggilan untuk Penyelesaian “Atas nama anak saya minta maaf, Pak Kades.” Di depan Kepala Desa, bapak Rama tertunduk. Rama paham benar dengan kondisi yang sedang dihadapi oleh Selengkapnya
Titik Balik : Kecimol (Bagian 4)
4 | Kenyataan Harus Diungkapkan “Kan sudah Bapak kasih tahu. Ndak ngerti-ngerti juga kamu ini, ya!” Di sudut kamarnya yang sempit, Rudi Solong menekuk lututnya dan melipat tangannya sebagai Selengkapnya
Titik Balik: Kecimol (Bagian 3)
3 | Tembakan di Halaman “Tunggu! Jangan lari!” Tanpa mengindahkan panggilan itu, Rama dan Ipang Jering terus berlari. Langkah cepat mereka terlihat menjejak sepanjang pematang sawah di pinggir kali. Selengkapnya
Titik Balik: Kecimol (Bagian 2)
2 | Permintaan Demi Kebaikan “Seharusnya tadi kamu pegang gitar.” Suara pelan itu mampu melembutkan hati Ramadan Yusuf Rinjani; biasa dipanggil Rama Bodak karena berkulit putih berseri. Anak lelaki Selengkapnya
Titik Balik: Kecimol (Bagian 1)
1 | Perkelahian Saat Nyongkolan “Stop, stop! Sudah, sudah! Hentikan!” Teriakan mencari celah agar dapat terdengar dalam keramaian. Diiringi dentum drum dan petikan gitar, teriakan itu berusaha menyusup indra Selengkapnya
Titik Balik: Aku Menyesal Menjadi Anak Ibuku
“Tentang Ibu tak dapat diceritakan dengan kata-kata, bahkan oleh air mata sekalipun” Aku menyesal telah menjadi anak Ibuku. Perasaan ini muncul baru-baru ini setelah sekian lama aku hidup bersamanya. Selengkapnya
Titik Balik: Duh, Ki Rangga!
“Cepat naik! Cepaattt!” Teriakan keras memekakkan telinga. “Ayo! Cepat! Yang sigap!” Teriakan pemompa semangat kembali terdengar. Sesekali diikuti ringkikan kuda. “Bagaimana bisa perang kalau naik kuda saja kamu tidak becus! Selengkapnya
- Sebelumnya
- 1
- …
- 5
- 6
- 7
- 8
- 9
- …
- 12
- Berikutnya
Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.


