Mengenang Lembar Ujian

Mengenang Lembar Ujian Tung Widut   Era berubah Lembar kucel yang dulu ada Tertulis dihalaman bersama soal Memilih menjodohkan dan mengisi Sebuah ujian sesungguhnya Menakutkan   Jaman merambat hampir sempurna

Sebatas Waktu

 Sebatas Waktu Tung Widut   Waktu terus berlalu Yang dulu ditimah mentari Datang gelap menina bobokan Semua berjalan baik mimpi Terajut setiap detak jantung   Kelucuan seakan kemarin ada Canda

Flamboyan di Bukit Gersang

  Flamboyan di Bukit Gersang Tung Widut   Bulan raja bagi Flamboyan Daun berguguran bunga merona Menutup kekurangan Memperindah alam   Dikelilingi bukit gundul Semak mengering tak mampu hidup Sejauh

Semangat kembali

  Mari Semangat Kembali Tung Widut   Tumbuh semangat Kembali seperti kemarin Saat badan sehat segar bugar Segala dengan lincah bergerak   Lupakan rasa lesu badan Singkirkan pikiran  negatif yang

Hujan Sore

Hujan Sore Tung Widut   Lama merindu Tetesan air hujan Berharap mendinginkan suasana Yang menyengat setiap saat   Hujan datang tanpa kita Menyapa ramah pada awalnya Perlahan bertubi tanpa ampun

Kasih di Ambang Tangis

  Kasih di Ambang Tangis Tung Widut   Kasih atas duka Menangis tersedu karena rindu Akankah kau lupa janjimu Kan setia menanti Setulus hati   Kasih derai air mata bukan

Canda Si Kecil

  Canda Si Kecil Tung Widut   Canada si kecil Meredam panas terik matahari Jerit mereka menyirnakan rasa panas Tak perduli yang terjadi Berlari bercanda tawa   Dengan riang berteriak

Undangan Pernikahan ke Dua

  Undangan Pernikahan ke Dua Tung Widut   Mahmudi seorang  lelaki yang  membuat Yulainar patah hati.  35 tahun lalu  setiap hari Mahmudi  menjeput dan mengantarnya pulang sekolah.  Bukan rahasia lagi

Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.