KMAC. 05 Aku dan Kecewaku

Pendidikan, YPTD255 Dilihat

KMAC. 05 Aku dan Kecewaku
Penulis : Theresia Martini, S.Ag., M.M

Kisah perjalanan seorang anak manusia yang berjuang meraih mimpi dan cita, pasti dimiliki setiap orang. Tentu saja dalam kisah dan perspektif yang berbeda satu dengan yang lain. Namun apa yang telah kita lakukan dan kita perjuangkan, semua berakhir pada muara yang sama, yaitu antara SUKSES atau TIDAK SUKSES

Kesuksesan atau ketidaksuksesan seseorang melewati masa penggodokan diri di Kawah Candradimuka, dalam meraih cita-cita, menurut saya, bukanlah merupakan faktor kebetulan. Karena jika kita melakukan kilas balik, ternyata banyak faktor yang menjadi penyebabnya.

Salah satu penulis terkenal Thomas J. Stanley, menuliskan hasil risetnya dalam sebuah buku berjudul “Millionaire Mind” menyatakan bahwa, “Memiliki IQ yang tinggi/ superior, dan sekolah di sekolah favorit atau perguruan tinggi bergengsi, bukan termasuk 10 faktor utama yang menentukan kesuksesan seseorang.”

Kalimat tersebut, juga pernah saya alami di saat saya duduk di kelas 4 SD, yang dinyatakan oleh salah seorang psikiater, yang didatangkan secara sengaja oleh pihak sekolah untuk melakukan tes IQ kepada seluruh peserta didik di sekolah saya kala itu.

Seluruh siswa diwajibkan untuk mengikuti tanpa terkecuali. Singkat cerita hasil tes IQ milikku sungguh mengecewakan buat saya. Dan sayapun masih dapat pesan sponsor dari salah satu, yang menganjurkan saya untuk tidak melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas, dengan alasan saya alasan mengalami kesulitan nantinya, sehingga sebaiknya saya melanjutkan ke sekolah kejuruan saja. Saat itu , saya agak protes dan mengajukan pertanyaan, sambil memberikan bukti hasil belajar saya, pada mata pelajaran yang ada pada hari itu.

Selanjutnya, karena rasa penasaran muncul dihati saya, kala itu, sayapun memberanikan diri bertanya, “Apakah ada penyebab yang mempengaruhi perolehan tinggi rendahnya hasil tes IQ?” Sambil tersenyum, seakan memberikan penguatan kepada saya, beliau menggelengkan kepala, dan mengatakan, “Itu merupakan faktor bawaan dari lahir.”

Tentu saja, pernyataan tersebut membuat saya merasa berkecil hati dan membuat saya merasa ragu serta panik, dengan bayang-bayang hitam yang akan saya temui di masa mendatang nantinya, di saat dewasa dan tua nantinya. “Akankah hidup saya, akan mengalami kemiskinan dan penghinaan selamanya?” Pertanyaan itu, terus muncul dan membayangi hari-hari saya, menimbulkan ketakutan dan kekhawatiran begitu besar, begitu menghantui hidupku.

Hingga akhirnya saya tak sanggup lagi menyimpannya sendirian, karena begitu menyiksa dan membuatku tidak dapat melakukan apa-apa, selain memikirkan pernyataan dan bayangan gelengan kepala bapak yang memvonis saya, tentang hasil tes IQ tersebut. Suatu hari, sepulang dari sekolah dan tiba di rumah, saya bertekad ingin mnceritakan semua tentang peristiwa tersebut, kepada ibuku. Namun entah, mengapa mulutku seakan terkunci dan taksanggup untuk mengatakannya. Saya sungguh-sungguh takmampu membuka dalam satu kepada ibuku.

Saya merasakan kejengkelan yang amat sangat saat itu. Saya benci diriku sendiri, memaki dan mengumpat semua tindakan pengecutku, yang hanya mau cari enaknya sendiri dengan melimpahkan semua beban pikiranku saat itu kepada ibuku.

Tapi untunglah, saya masih sanggup bertahan untuk mengunci mulutku hingga akhirnya kutuang bebanku itu dengan berteriak sekuat mungkin, yang kulakukan di balik pintu kamar tidurku sambil kututup mulutku dengan menggunakan bantal tidurku. Saya menangis dan teriak sepuas-puasnya, dengan suara yang tertahan oleh bantal dengan harapan takada seorangpun yang mendengarkan teriakan dan suara tangisku yang begitu meenyesakkan dan menyakikan jiwaku.

Setelah puas, saya melakukan hal itu, saya buru-buru masuk ke kamar mandi, untuk mandi sore dengan harapan jejak tangis saya, takterbaca oleh bapak, ibu serta saudaraku. Namun ternyata, ibuku mengetahui perubahan itu, dan bertanya, “Thres, kenapa kamu menangis?  Apakah dapat nilai jelek ya? Yah, sesekali dapat nilai jelek itu biasalah, takperlu menangis, yang penting kamu sudah belajar.” Demikian tegur ibuku, saat itu. Aku hanya terdiam dan membisu, dan berfikir, “Akankah kuceritakan pengalaman dan kabar buruk itu kepada ibuku? Akh, tidak!! tidak akan pernah kuceritakan hal ini kepada kalian semua. Cukup diriku saja yang mengetahui rahasia kelemahanku ini.”

Sungguh pengalaman itu menjadi cambuk yang menyakitkan sekali bagi Theresia kecil. Dan sejak saat itu, saya bertekad, takada yang mustahil untuk didapatkan saat kita berusaha dengan keras. Istilah “ Takada Hasil yang Membohongi Proses”  saat itu belum terkenal. Namun telah terpatri dan menjadi stempel panas dalam sanubariku. “Saya harus terus tekun belajar, belajar dan belajar. Dengan belajar, saya pasti akan sukses dan menang.” Dan sejak itu, semangat belajarku semakin menggila, takada waktu tanpa belajar, hampir seluruh waktu bermainku, kupangkas dan kuganti dengan terus membaca buku-buku pelajaran di sekolah, baik itu berupa buku catatan ataupun buku paket yang kumiliki.

Ibuku, sampai kebingungan melihat perubahan cara hidupku, dan mulai merasa jengkel dan ketakutan melihatku, yang seakan kerasukan untuk terus belajar tanpa lelah. Namun saya, takpeduli dengan kebingungan, kejengkelan dan ketakutan ibuku. Saya hanya menjelaskan bahwa saya, tidak ingin tidak naik kelas karena pelajaran semakin hari semakin sulit.

Lambat laun, kedua orangtuaku memaklumi keadaanku, demikian pula dengan ketiga saudaraku dan para tetanggaku, yang mulai nimbrung dengan perubahan hidupku, dan akhirnya memberiku stempel, sebagai anak yang rajin dan tekun belajar, dan selalu dijadikan mascot keteladanan para orangtua untuk anak-anak mereka yang malas belajar, di komplek dimana tempat kami tinggal bersama bagi para pegawai negeri yang bekerja di Kantor Distrik Navigasi Kota Palembang, yang kala itu masih berstatus kelas III. Beda dengan saat ini yang telah naik kelas dan berstatus menjadi kelas I.

Kekecewaan yang begitu mendalam di masa laluku, telah menorehkan luka dan semakin mempersenjatai diriku untuk menang meraih sukses dengan pedang keyakinan dan keteguhan untuk terus berproses, meski keterbatasan itu melekat dalam hidup kita. Karena pada kenyataannya, memang tak ada manusia yang terlahir hanya dengan kelebihan tanpa kekurangan. “ Bukankah kelebihanku adalah kekuranganku, dan kekuranganku adalah kelebihan yang kumiliki?”

Terima kasih Tuhan dalam kekuranganku, Kau biarkan diriku bersandar pada belas kasihanMu, dan dalam kelebihanku, Kau tuntun aku dalam terang cahaya kudusMu. Amin

 

Pangkalpinang, 15 Februari 2023

Tinggalkan Balasan

8 komentar