
Redundant 4: Redundansi Kematian
Oleh Erry Yulia Siahaan
Hari ini hari ketiga saya datang ke rumah duka di mana jenazah seorang jemaat gereja disemayamkan. Almarhum (yang semasa hidup dikenal sebagai figur penting di tengah publik) beserta keluarganya tinggal satu kompleks dengan saya. Beliau meninggal di rumah sakit setelah dirawat cukup lama karena stroke dan satu setengah bulan terakhir bolak-balik masuk ruang rawat intensif (intensive care unit/ICU).
Pagi ini, seorang lagi jemaat meninggal dunia dan disemayamkan di lokasi yang sama, di ruang lain dari tiga kamar yang tersedia. Almarhumah semasa hidup adalah seorang guru aktif. Dia wafat pada usia masih muda. Delapan bulan lalu dia memeriksakan gejala pembesaran di area leher di bawah telinga kanannya dan sejak itu menjalani perawatan kanker kelenjar getah bening, hingga akhirnya menghembuskan napas terakhir di rumah sakit di Jakarta.
Di rumah duka itu pula suami saya yang sudah tergolong lanjut usia (lansia) disemayamkan pada akhir November silam, setelah hampir 20 tahun mengidap diabetes dan hipertensi dan dua tahun terakhir bolak-balik masuk rumah sakit.
Redundansi kematian ini bukanlah suatu kebetulan. Kematian adalah sebuah kepastian. Bukan pilihan. Semua manusia akan kembali kepada Tuhan. Kaya-miskin, tua-muda, siap-tidak siap, pandai-bodoh, berkuasa-lemah, sehat-sakit, semua akan menuju titik yang sama.
Redundansi kematian bukanlah masalah perlu atau tidak perlu, sehingga harus dibiarkan ataukah dihapuskan, seperti halnya ketika kita membahas redundansi secara semantik. Kematian adalah hal yang tak terelakkan jika memang waktunya sudah datang, entah sendirian atau berbarengan.
Parsahutaon
Dalam komunitas Batak, ada yang disebut dengan parsahutaon, yakni kumpulan orang Batak pada satu area pemukiman tertentu. Pada acara-acara duka, parsahutaon mengambil peran sebagai parhobas atau yang ikut repot membantu-bantu, bekerjasama dengan parhobas dari keluarga yang meninggal.
Jadi, sebagai warga satu lingkungan, ada semacam “tugas” bagi saya untuk hadir di sana. Kehadiran parsahutaon diharapkan dapat menghibur keluarga yang berduka, memberikan dukungan dan bantuan, menyuarakan bahwa kami ada untuk mendampingi keluarga yang berduka. Itu sebabnya saya ada di sana beberapa hari ini.
Sebagaimana pernah saya rasakan ketika saya, anak-anak, dan menantu ketika berada pada posisi yang sama, yang ditinggalkan, dan yang dihibur oleh teman, saudara, tetangga, dan kenalan yang datang. Kehadiran para tamu dan keluarga besar sangat menghibur, menguatkan kami bahwa kami ternyata tidak sendirian. Dan, itu sungguh mengharukan.
Kenangan muncul dalam ingatan saya. Tamu-tamu berdatangan, bersalaman, menyampaikan sambutan atau kata-kata ucapan, mengikuti ibadah, bertemu dengan handai taulan dan kenalan, dan sebagainya. Siapa saja yang datang? Saya tak ingat persis, kecuali beberapa orang, tanpa bermaksud mendiskriminasikan. Namun, dari foto-foto kenangan, saya kembali mengenali wajah-wajah yang datang dan memberikan dukungan.
Tak Pandang Bulu
Situasi di rumah duka relatif kontras antara yang satu dengan yang lain. Yang satu mengambil tempat lebih luas dan tentu lebih mahal, dihiasi puluhan karangan bunga papan dan standing flower. Beberapa karangan bunga papan bahkan sampai ditaruh di depan ruangan sebelah. Para tamu banyak yang berkendaraan sendiri. Persemayaman berlangsung tiga hari.
Yang satu lagi, mengambil slot yang relatif lebih kecil dan persemayaman hanya sampai besok (Kamis, 16/2). Hingga tadi saya pulang belum ada karangan bunga. Namun, para tamu cukup ramai, karena teman sesama guru dan sejumlah murid bergantian datang melayat. Lolongan tangis kerap terdengar dari ruangan ini, dari ibu almarhumah yang sudah berusia 81 tahun. Ayah almarhumah (83 tahun) mengelus-elus punggung isterinya itu. Suami dan tiga anak almarhumah menangis di samping jenazah.
Ada persamaan dari situasi di kedua ruang itu. Selain sama-sama orang Batak dan jemaat satu gereja, di masing-masing ruang ada seorang ibu yang menangisi jenazah. Dua ibu ini sudah berusia 83 tahun dan 81 tahun. Memang terasa sangat menyakitkan bahwa seorang ibu harus ditinggal oleh anaknya karena kematian. Tapi itulah kehendak Tuhan.
Peristiwa ini mengingatkan saya bahwa kematian datang bisa kapan saja di mana saja. Kematian tidak pandang bulu. Laki-laki atau perempuan, kaya atau miskin, semua sama pada akhirnya. Oleh karena itu penting bagi kita untuk menyiapkan diri, selalu menjaga relasi dengan Tuhan. Ketika jatuh, jangan biarkan diri malah terjerembab, tapi berusaha bangkit lagi dan tetap percaya bahwa semua ada karena Tuhan mengijinkan semua itu ada. Ketika peristiwa itu datang, yang namanya teman, keluarga, saudara, dan kenalan, tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadap jenazah sekalipun menangis keras-keras. Buat yang meninggal, pertandingan sudah selesai. Maka, tangisan itu kiranya untuk kita yang masih berziarah di bumi.
Bukan Kapan, Tapi Bagaimana
Saya kemudian teringat pada hari-hari mendampingi suami semasa sakitnya. Adik saya selalu mengingatkan saya bahwa yang penting itu bukan kapan kematian itu datang, bukan apakah suami saya akan sembuh dulu atau tidak (meskipun itu yang kami minta), tetapi bagaimana seorang manusia itu ketika mati. Dalam artian, bagaimana kualitas iman, pengharapan, dan kasihnya di dalam Tuhan ketika seseorang harus menghentikan langkahnya di dunia yang fana ini. Hal ini selalu saya ingatkan juga kepada suami saya.
Saya mengerti bagaimana suami saya merasakan sakit di tubuhnya. Tuhan bisa menolong, bisa menyembuhkannya kapan saja Tuhan mau melakukannya. Bahwa itu tidak atau belum terjadi, itu bukanlah karena Tuhan tidak mampu atau tidak peduli. Semua terjadi untuk kebaikan, yang saat itu terjadi mungkin sulit dimengerti tetapi pada saatnya nanti akan kita pahami. Mengucap syukur adalah yang terbaik. Percaya dan berserah pada Tuhan adalah yang terbaik. Berusaha dan tetap menyerahkan semuanya pada Tuhan adalah yang terbaik.
Keluhan dan kesedihan yang berlarut-larut hanya akan membelenggu diri, ibarat rontaan lantaran memikirkan hal yang tidak atau belum dimiliki. Ibarat merasa diri tidak layak mendapatkan kenyataan itu, hingga mengabaikan rencana-rencana baik dari Tuhan yang kita percayai. Ketika kita ikhlas menerima apa yang Tuhan ijinkan terjadi, kita akan bahagia dan penuh sukacita. Sebab, kebahagiaan dan sukacita tidaklah identik dengan “tidak sakit”, “tidak miskin”, “punya pekerjaan”, “punya kekuasaan”, “bebas dari kematian”, “umur yang panjang”, dan “kenyamanan”. Kebahagiaan dan sukacita merupakan muara dari hidup yang berpusat pada Tuhan dan hidup dalam kasih.
Dalam iman Kristen, merujuk pada apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam Filipi 1 ayat 21, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan”. Semasa hidup, kita memuliakan Tuhan melalui kehidupan kita, karya-karya kita, tindakan kita. Artinya, kita hidup dalam Tuhan, bersama Tuhan, dan untuk Tuhan. Kita selalu siap, kapan saja kematian datang. Dengan pertolongan dan kemurahan Tuhan, kita pasti dimampukan.
Semua orang akan mati. Redundansi kematian terjadi setiap hari. Kapan dan di mana kematian itu datang adalah rahasia Ilahi. Semoga kita semua bisa mempersiapkan diri. Amin.***







Wah keren Bu
Terima kasih, Ibu Lesterina.
Kita semua keren. Semangat terus.
keren. salam literasi
Terima kasih, Pak.
Salam literasi.
Semangat.