
Secara umum, kita lebih suka membaca buku-buku ringan, seperti cerbung, novel kekinian, dan sebagainya. Kening kita akan berkerut ketika dihadapkan pada tulisan ilmiah. Namun sepertinya pendapat saya tersebut dimentahkan oleh DR Hadiyan.
Siapakah DR Hadiyan?, beliau adalah dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Universitas Muhammadiyah Jakarta. Saya bertemu (secara virtual dengan beliau dalam komunitas penulis G20.
Ketika Hadiyan menyelesaikan studi S3, pihak kampus memberikan syarat akhir, yaitu disertasi harus diubah menjadi buku. Maka, sebagai seorang akademisi yang selama ini menekuni literasi, hal itu bukanlah sesuatu yang sulit.
Akhirnya, dengan beberapa perubahan terutama pada daftar isi, terwujud jugalah buku dengan tampilan menarik, yang sejatinya berawal dari sebuah disertasi.
Buku yang diberi judul ‘Tafsir Mu’tazilah’, memuat beberapa hal pokok, yaitu:
1. Tafsir Mu’tazilah
2. Mengenal al-Kashshaf dan al-Zamakhshari
3. I’jaz dan Munasabah Al Qur’an
4. Munasabah Al Qur’an dalam Tafsir al- Kashshaf
5. Pergeseran makna al-I’jaz Al Qur’an dalam Tafsir Mu’tazilah.Dengan bahasa yang sangat mudah dipahami, Hadiyan menjelaskan bab demi bab secara singkat. Sebagai orang yang masih awam dengan ilmu seperti ini, paparan beliau sangat menarik perhatian saya.
Salah satu alasan saya adalah, sebagai pengampu mata pelajaran Ekonomi, maka materi pelajaran tentang Ekonomi Syari’ah sangat mengena dengan materi bedah buku malam ini.
Sebagai pembelajar yang bertahun-tahun mondok di Pesantren, menulis bagi Hadiyan merupakan ‘makanan sehari-hari’.
Bahkan menurut beliau, untuk menuntaskan tulisan beratus-ratus lembar bukanlah merupakan hal yang memberatkan. Nah lho, saya jadi termotivasi, ketika kadangkala muncul badmood untuk menorehkan kalimat demi kalimat.
Ayahanda Thamrin Dahlan, moderator sekaligus owner Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan, tampil bersemangat pada malam hari ini.
Tibalah giliran Prof. Zainun Kamaluddin Fakih, sebagai pembahas. Prof. Zainun adalah dosen dari DR. Hadiyan, maka tak pelak lagi, kegiatan ini bisa disebut sebagai temu kangen virtual antara mahasiswa dan dosen.
Menurut Prof. Zainun, untuk membahas Tafsir Mu’tazilah, dibutuhkan kehati-hatian, agar tidak terjebak pada pragmatisme.
Pemahaman pada Tafsir Mu’tazilah agak berbeda dengan pemahaman secara umum. Misalnya, kalau Tuhan punya sifat, apakah ada perbedaan antara dzat?.
Perbedaan pemahaman ini tidak pernah selesai, maka pemahaman agama harus menggunakan akal.
Allah memberikan petunjuk bagi manusia supaya mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Setiap perbuatan baik akan diganjar dengan kebaikan, sebaliknya keburukan juga akan diganjar dengan keburukan. Janji Allah pasti, maka manusia tinggal memilih apakah menjadi sosok yang ta’at atau ingkar.
Pada bagian akhir, Prof. Zainun menyampaikan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar. Hal ini menjadi landasan Mu’tazilah. Selain itu, kita juga harus memahami hubungan antara Surah, Asbabun Nudzul, yang dapat dipahami dari konteks sosial, budaya, dan politik.
Untuk menjadi ahli tafsir, maka seyogyanyalah kita menguasai bahasa Arab. Sebab Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, ada mantik, logika, dan sebagainya. Mu’jizat Al-Qur’an ada pada bahasa Arab. ilmu Munasabah, kita dapat mengukur seseorang, apa yang diucapkan, pemilihan kata, menunjukkan cerdas tidaknya seseorang.
Alhamdulillah, kegiatan bedah buku yang ke-28 pada malam hari ini berjalan dengan baik. Semoga ilmu yang dicurahkan oleh DR. Hadiyan dan Prof. Zainun memberi keberkahan bagi kita semua. Salam literasi dari bumi Kualuh, basimpul kuat, babontuk elok.









