Super Kaya ala Crazy Rich, Gaya Sultan Berakhir di Rutan

Terbaru828 Dilihat

Sedari kecil, kita terbiasa diberi nasehat supaya bekerja keras dan mengutamakan kejujuran. Sebab, kesuksesan yang dicapai dengan perjuangan serta kerja keras akan memberi rasa nyaman. Orang-orang tua dan guru kita tak berhenti mengingatkan, baik dengan ucapan, perbuatan, maupun lewat perumpamaan. Tentu, upaya menanamkan kejujuran dan kerja keras tersebut bertujuan supaya generasi sesudah mereka tetap memiliki karakter mumpuni.

Sering mendengar ocehan bernada miring dari anak-anak muda, “ Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga “. Awalnya saya pikir, kalimat seperti itu hanya milik segelintir orang yang mempunyai mimpi tak terbatas. Namun ternyata, berawal dari mimpi ingin kaya bahkan super kaya tanpa kerja keras, maka banyak yang tergiur dengan apa yang disebut investasi bodong.

Maraknya fenomena yang dikemas dengan istilah trading, juga  memunculkan sosok para “ Grazy rich “. Sebagai affiliator ( Orang yang mempromosikan bisnis digital ), mereka menampilkan gaya super kaya. Membeli sepotong kaus “ cuma seharga 300 juta yang murah banget “, atau membuang lembaran-lembaran uang nominal seratus ribu rupiah, bahkan memberikan souvenir koin emas bagi tamu pesta. Tak urung, gaya hidup seperti ini membuat calon-calon crazy rich baru ramai-ramai “ Menginvestasikan “ uangnya di berbagai platform trading saham.

Siapa yang tidak tergiur dengan iming-iming mendapat keuntungan berlipat ganda, hanya dengan menebak naik atau turunnya pergerakan harga suatu aset?. Ditengah makin sulitnya peluang untuk mendapatkan pekerjaan, dengan jumlah angkatan kerja sebanyak 140 juta lebih, plus 9,1 juta orang pengangguran ( Data 2021 ), maka mimpi untuk kaya dengan cara instant merupakan jalan pintas meski kurang pantas.

Sebenarnya, apa yang tengah terjadi di masyarakat kita, hingga mudah lupa dengan hal-hal seperti ini?. Belum hilang virus aglonema dan monstera yang fenomenal, yang akhirnya ditelantarkan karena tidak lagi memiliki harga. Kembali kita disuguhkan dengan jeritan para penanam saham di platform trading. Berharap untung malah buntung. Semudah itukah percaya dengan berbagai penawaran tak masuk akal dari para affiliator dengan gaya hidup bak Sultan, hingga melabuhkan harapan pada investasi bodong?.

Jika benar ada bisnis yang hanya mengandalkan naluri ( Tebak-tebak buah manggis ), tanpa harus banyak mikir, maka saya juga mulai mikir untuk segera investasi ( Sayangnya belum punya budget ). Siapa sih yang tidak kepingin punya Lambo, jam tangan limited edition buatan Swiss, outfit branded yang harganya cuma seseratusan juta, dan seterusnya. Akankah teori ekonomi, prinsip ekonomi yang selama ini dipahami harus jungkir balik demi mengejar keuntungan luar biasa?. Namun, nyamankah berada pada posisi crazy rich dadakan, yang bisa berakhir mengenaskan?.

Belajar dari berbagai kasus yang menguras energi dan air mata para korban, maka sebaiknya berpikir panjanglah jika ingin mencoba keberuntungan di bidang apapun. Andai keuntungan yang ditawarkan sangat menggiurkan dan melumpuhkan akal sehat, maka kembalilah ke fitrah. Sesuatu yang diraih dengan cara instant, maka kelak endingnya akan mengecewakan. Saya sering menasehati anak didik, jika ada perempuan ( Cewek ) yang kamu taksir, sekali ” Tembak “ langsung jadian, maka waspadalah. Sebab, jika terlalu mudah untuk didapat, menjadi kurang berharga untuk dilepas.

Akan halnya angan-angan saya untuk berinvestasi di trading digital, alhamdulillah sudah saya buang jauh-jauh. Kini, mulai berpikir tentang anjuran untuk berinvestasi emas di salah satu Bank Syariah, yang saya yakini merupakan salah satu alternatif. Semoga impian saya dan teman-teman pegiat nirriba segera terwujud, biiznillah. Semoga tidak ada lagi korban-korban berikutnya dari bisnis abal-abal yang hanya membawa penyesalan tiada akhir. Lebih baik hidup seadanya, makan nasi plus gulai tahu tempe, gawai standar, outfit brand lokal, naik minibus            ( Sejenis angkutan umum ), dan fasilitas lainnya yang membuat tidur kita nyaman. Daripada hidup bergaya bak Sultan namun berakhir di Rutan, plus nama baik pun menghilang. Salam literasi dari bumi Kualuh, basimpul kuat, babontuk elok.

Tinggalkan Balasan