SERPIHAN BULIR PADI

Terbaru389 Dilihat

SERPIHAN PRILAKU

Jengah terasa tak pernah ada sesal dalam prilakunya, merasakan kenyamanan atas penilaian sendiri tanpa menghiraukan kebahagian yang lain atas adanya karunia Yang Maha Kuasa Allah SWT.

Entah prinsip hidup seperti apa yang tersemat dalam alam pikirannya mencoba menyelami saja tak sanggup memahami, dikata tak mengerti tetapi berpendidikan, dikata tak paham tetapi memiliki pengalaman atas kehidupan ini.

Terserak banyak serpihan prilaku yang tak mencerminkan kesahajaan dalam bermasyarakat, dengan gampangya tanpa berpikir akibat dari apa yang diperbuat.

Sampai kapan hal ini terus selalu terulang dan terus berulang. Tak ada perbedaan kenyataannya antara berada dilingkungan gemerlap atau dilingkungan yang masih melekat norma-norma kesahajaan.

Menggunung terkondisikan itu merupakan keharusan demi kenyamanan dan keberlangsungan hidup. Karena kita sendiri bila menyaksikan serpihan busuk akan merasa kehilangan rasa nyaman dan tentram.

Aku sendiri mengakui bukan orang yang paling segalanya tetapi aku belajar berpikir untuk menjaga perasaan atas kenyamanan orang lain dalam hidup bermasyarakat.

Ketika sebuah keharusan tata aturan diterapkan dilingkup masyarakat dimana aku berada, dengan sadar diri mendahului aku lakukan untuk tujuan yang lebih baik.

Sekalipun itu bukan tanggungjawabku atas kewajiban itu tetapi dengan sadar diri demi sesuatu hal yang lebih hakiki aku lakukan.

Tetapi tinggal keheranan yang tersisa dalam proses hasilnya. Justru apa yang aku lakukan sesuatu hal yang baik terabaikan tak menjadikan usaha contoh untuk kemaslahatan bersama.

Tampak didepan mata itu dilakukan seakan tak merasa berdosa sedikitpun apa yang dilakukan. Kuibaratkan bagai bangkai busuk pasti tak mau. Sungguh aneh dan tak dapat aku mengerti. Seperti apa dalam benaknya, apakah itu sesuatu hal yang dianggap biasa atau bagaimana tak bisa nalarku memaknainya.

Tetapi bila akibat muncul padahal dari prilakunya sendiri, merasa resah dan takayal menyalahkan orang lain.

Padahal apa yang dia lakukan selalu berulang-ulang serta tak ada pemikiran akan terjadi akibat  merugikan bagi orang lain.

Tempat yang bukan seharusnya malah dijadikan tempat rutinitas seenak perutnya. Inilah bukti ketidakpedulian rasa, hati tidak lagi menjadi rasa yang menentramkan.

Seakan hidup saat ini hanya diukur dari materi saja seakan hedonisme diagungkan. Segala tata aturan norma yang ada dimasyarakat terkaburkan dengan keegoisan.

Melupakan detik napas terakhir diujung kerongkongan menjadi penentu berbagai hal atas prilaku dalam kehidupan yang fana ini.

Buanglah dengan seenaknya niscaya anak cucu akan merasakan sisa ketidaknyamanan dalam hidup atas berbagai malapetaka murkanya Sang Pencipta. Aku tulisan karena atas kegelisahan hati tanah kelahiranku, dimana aku hidup dan mencari makan.WawlohuAllambisawab.

Salam Literasi 2021

Tinggalkan Balasan