

Hidup sejatinya adalah perjuangan dan pengorbanan. Tidak semua yang kita harapkan akan sama dengan kenyataan. Tidak juga, yang kita mau itu yang kita butuhkan. Jika daun yang jatuh, tak pernah menyalahkan angin. Lantas mengapa saat berpisah, kita harus menyesali adanya pertemuan?
Semakin hari, waktu terus memberikan pelajaran bagi diri untuk lebih berarti. Akan banyak hal yang dialami. Butuh raga yang sehat agar lebih kuat. Butuh hati yang lapang agar lebih bersabar. Tak kalah penting, butuh pemikiran yang matang agar bisa lebih bertahan.
Hidup di tempat yang baru, tentu takkan senyaman dengan tinggal di rumah sendiri. Meski kita sudah mencoba berdamai dengan diri, namun tetap tak mudah untuk menaklukan hati. Kesedihan dan kegalauan tiba-tiba saja hadir tanpa permisi. Saat rasa itu datang. Butiran bening, mengalir begitu saja.
Bulan Juni nanti, genap dua tahun. Kami hijrah bersama, menunaikan tugas negara. Tak pernah terbayangkan bakal dikumpulkan di tempat ini. Di pojok kabupaten baru di propinsi kami. Tak ada yang bisa mengelak saat itu. Meski jauh, akan tetap kami datangi. Pasalnya, konsekuensi dari keputusan kami adalah bersedia untuk ditempatkan di mana saja.
Awalnya, kami laskar pejuang. Berjuang bersama . Melewati semua yang terjadi bersama-sama. Kami memang baru dipertemukan di tempat ini. Tapi kami tidak pernah merasa seperti orang asing satu sama lain. Justru kami merasa seperti saudara satu ibu dan satu bapak. Jika ada satu yang sakit, maka yang lainpun akan otomatis merasakan sakit. Tak jarang, meski saat di tempat kerja kami sudah bersama. Tapi kami tetap, menyempatkan waktu. Setiap hari libur, kami akan mengajak keluarga kami untuk berkumpul. Walaupun pertemuan itu hanya sekedar berbagi secangkir teh dan sepotong roti.
Perjuangan kami di pojok propinsi ini, tak bertahan lama. Rasa tak nyaman, tak bisa berdamai dengan alam, tak tahan jauh dari keluarga dan bahkan tak bisa berdamai dengan hati. Membuat satu persatu, teman seperjuangan ini berbelot arah. Mereka lebih memilih untuk kembali ke zona yang lebih nyaman. Dari sebelas personil laskar pejuang anak bangsa, tinggal terpilih 5 orang yang masih bertahan. Saya adalah salah satunya.
Hijrah di tempat ini bersama keluarga adalah sebuah keputusan yang telah saya dan suami tetapkan. Apapun yang terjadi nanti, jika memang suatu saat tinggal kami yang tetap disini. Kamipun akan tetap berjuang. Berjuang untuk tetap berusaha memberikan yang terbaik bagi anak negeri. Meski di tengah keterbatasan yang ada disini. Saya dan suami percaya, pasti akan ada kemudahan dalam setiap kesulitan yang kami hadapi.
Alhamdulillah, di tengah rasa kesedihan dan kegaulauan hati. Perkara ditinggal teman seperjuangan pergi. Ada secercah sinar kebahagian yang Allah hadirkan. Kebahagian itu adalah saat saya dipertemukan dengan komunitas menulis bersama Om Jay. Hari ini adalah pertemuan ke 13 di kelas menulis yang saya ikuti. Setiap harinya selain menulis untuk menjalankan tugas. Sayapun perlahan mulai mencintai menulis.
Banyak ilmu berarti yang saya dapatkan. Mulai dari ilmu menulis hingga ilmu berbagi. Suntikan motivasi dari para narasumber hebat, mampu membakar semangat diri. Kesedihan dan kegalauan hati mulai memudar. Teringat kata bijak janganlah bersedih karena Allah bersama kita.
Sobat blogger yang hebat
Menulis tidak hanya sekedar menuangkan pikiran dan ide ke dalam tulisan. Menulis juga mampu melibatkan hati dan perasaan kita. Ketika hati kita sudah terlibat dalam tulisan, maka apa yang kita tulisankan akan terasa lebih hidup. Saat pembaca membaca tulisan itu, hatinya pun akan ikut terpaut.
Malam ini adalah awal untuk menetapkan komitmen diri. Komitmen untuk terus menulis dengan penuh konsistensi. Menulis ini akan saya coba lakukan setiap hari. Pertama mungkin ini hanyalah, sebuah usaha untuk menjawab tantangan. Namun, seiring waktu jika ini terus saya lakukan. Kegiatan menulis ini, saya yakin menjadi darah daging saya. Saya akan buktikan, bahwa mantra yang disampaikan Om Jay itu nyata. Mantra itu adalah “menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.”










