
“Tetes hujan yang menguntai bumi tak dapat menjadi teman sepi. Sedang dingin ini, adalah gambaran hati. Maka biarlah jarak yang menjadi saksi terpisahnya dua hati”
***
Sewindu sudah perpisahan itu terjadi. Tepatnya 8 tahun yang lalu, saat usiaku genap sebelas tahun. Meski usia dirasa belia, tapi rasa tak mampu bersandiwara. Hati ini jatuh. Jatuh dikedalaman samudera. Bukan karena tampannya rupa, tutur kata, atau kelembutan jiwa. Tapi lebih kepada pemikiran dan sudut pandang yang berbeda. Setiap kata yang terucap, bagiku penuh dengan makna. Setiap tanya, selalu ada jawabnya. Masa depan masih jauh. Namun, seaakan begitu dekat. Hingga besarnya dunia, seakan yakin dengan mudah dapat kugenggam.
Hari-hari berlalu begitu cepat, usiaku semakin dewasa. Cita-cita untuk dapat berkuliah di kampus ternama seperti yang pernah aku impikan bersamamu hanya tinggal cerita. Keaadaan ekonomi keluarga yang cukup pas-pasan hanya dapat mengantarkan aku berkuliah di kampus ternama di kota ini. Tapi bukan di negeri ini. Dalam hati terdalam tetap aku mensyukuri nikmat ini, aku tak mampu menentang takdir. Aku harus sadar siapalah diri ini.
Bayangan mengukir cita bersamamu di waktu kecil, tak pernah dapat terlupa. Jika malam tiba, sering aku bertanya pada bintang. Apakah kabarnya kau di sana? Akankah saat ini, kau telah berjibaku dengan tumpukan-tumpukan ilmu. Berdialog, berdebat, bertukar wawasan atau apalah semacamnya sambil menikmati udara segar di pelataran kampus ternama itu? seperti yang pernah kau ceritakan di angan-angan kita waktu kecil dulu.
Agh.. manusia hanyalah aktor dari sebuah drama pertunjukan. Sudah ada sutradara, dalam mengatur cerita. Peran telah ditetapkan, kita hanya tinggal melakoni. Akupun cukup sadar diri, mesti dulu waktu kecil kita bersama. Tapi kita dilahirkan dengan latar belakang yang berbeda. Kalaupun, suatu saat nanti berjumpa. Apakah mungkin masih ada rasa yang sama? Apakah mungkin kau masih mengenalku? Akan banyak kau temukan perempuan cantik dan hebat di luar sana. Mungkin mereka tentu lebih pantas untuk mendampingimu.
***
“ Rahmi,” teriakan Lina membuyarkan lamunanku.
“ Kamu udah tahu belum, Kamis bsok kita libur”, ungkap Lina dengan semangat.
“Oh githu”, jawabku sekedarnya.
“ Kok, kamu biasa aj sih. Gak asyik benar lah”
Truss, aku harus gimana Lin? Harus bilang waw githu”
“ Udah lah, kamu gak asyik. Sebel.!!!
Tak kujawab, celotehan Lina. Biasanya kalau sudah begitu, Lina akan merajuk alias ngambek. Tapi gak lama. Paling bsok pagi udah baikan lagi.
Lina adalah tetangga sebelah kamar. Teman satu kampus. Teman satu kampung. Sejak dinyatakan lulus seleksi kampus, kami memutuskan untuk pergi bersama. Mengurus segala urusan kampus bersama. Hingga akhirnya memutuskan, untuk ngekos bersama. Walaupun, kamar yang kami tempati berbeda. Hal ini, karena banyaknya pertimbangan ke depan, agar hubungan baik kami tetap terjaga.
Apalagi aku mengenal Lina, baru saja saat akan masuk kampus ini. Sebelumnya kami memang satu sekolah, tapi tak begitu dekat. Banyak hal yang belum aku pahami tentang Lina, begitupun dengan Lina. Banyak hal yang belum ia pahami tentang ku.
Saat memutuskan untuk kuliah di pojok kota ini. Aku telah memutuskan, untuk berani mandiri. Menerima semua hal dengan segala keterbatasan. Hanya niat, kemauan, dan tekad. Telah mengantarkan aku sampai ke pojok kota ini.
Rahmi, ibu tidak mempunyai uang lagi untuk biaya sekolahmu. Sepetak kebun kopi yang tersisapun sudah taka da. Habis untuk biaya kuliah kakakmu. Ibu tahu, kepala batumu adalah sama dengan ibu sewaktu muda. Pantang menyerah. Sebekum mendaptakan. Jadi, ibu tegaskan kepadamu. Janganlah banyak menuntut. Jangan kau iri dengan kondisi kakakmu dulu. Dulu kondisi ekonomi kita jauh berbeda dengan sekarang. Kau paham Rahmi.
Pemaparan ibu telah dapat aku prediksi sebelumnya. Dalam hati, ada sedikit rasa tidak adil. Tidak lantaran ekonomi keluarga yang tak memungkinkan. Sejak dulu, aku memang sudah diperlakukan agak berbeda dengan kakakku.
Faktor genre, menjadi salah penyebabnya, Ibuku beranggapan, anak laki-laki nanti lebih berguna di masa depan bagi keluarga. Dibanding dengan anak perempuan. Anak laki-laki bisa lebih dibanggakan. Apalagi dikeluargaku. Dari 8 bersudara, hanya ada 2 orang anak laki-laki. Kakak adan adikku. Aku diantara kedua laki-laki itu.
Aku ingat sekali waktu itu. Ketika pertama kali meninggalkan rumah, merantau di pojok kota. Demi sebuah pendidikan. Tak banyak yang dapat ibu berikan sebagai bekal hidup di sana. Apalagi sudah 3 bulan lebih ayah belum pulang merantau. Untuk makan saja sangat dicukupkan. Apalagi untuk yang lain.
Dua potong baju lengan panjang. Beserta rok lebar warna coklat dan Hijau. Rok coklat muda itu, memang bagus bahannya. Hanya saja karena produk luar, modenya pun berbelah pada bagian belakang. Jadi saat aku memakainya, sebagai seorang baru berhijab. Aku harus menutup belahan rok itu dengan cara diberikan peniti di sudut atas hingga tengah dan bawah. Berharap ketika dipakai, auratku bisa terjaga. Walapun, saat dibawa jalan terasa agak sempit. Satu lagi adalah rok warna hijau lumut. Bahan jatuh, nyaman namun sayang roknya menerawang. Ketika di pakai, aku harus memadukan dengan celana panjang yang tebal agar tidak terlihat.
Untuk ke kampus aku juga punya jilbab satu-satunya. Jilbab, pemberian dari teman seperjuangan. Beliau sangat mendukung saat ada teman yang baru mau hijrah.
Untuk bisa berada di masa ini tidaklah mudah. Tak ada alasan untuk mewek dan menangis. Tak ada satupun yang memaksa. Akulah yang berkehendak. Keterbatasan dan kondisi saat ini adalah bentuk awal perjuangan. Perjuangan yang harus aku tuntaskan dan aku buktikan. Tak boleh ada kesedihan. Harusnya aku bahagia, satu pintu menuju impianku telah terbuka. Aku harus lebih semangat. Menapaki satu persatu jalan menuju impian.











