Imlek hari ke-2

Cuaca cukup bersahabat pada pagi hari ini. Matahari mengintip malu malu dari balik awan yang kelabu menambah syahdu perayaan Imlek hari kedua yang jauh dari keluarga. Akhirnya setelah pergumulan panjang dengan diri sendiri maka diputuskanlah untuk mencuci baju (karena sudah 2 ember dan kalau dibiarkan jadi…. isi sendiri ya). Walau cuaca tergolong cukup mendung tetapi dengan keyakinan teguh langsung segera dieksekusi karena apabila masih dipikirkan nanti keburu hujan…

 

Rupanya langit masih memberkati saya dengan menunjukkan keceriaan matahari yang bersinar terik setelah semua baju selesai digantung di jemuran. Beruntung pula ada asisten kecil yang membantu sehingga cucian ini cepat selesai. Sang Putri sulung sedang dalam masa “Bahagia apabila diberikan tanggung jawab” Hanya dengan meminta tolong untuk menggantung pakaian dia sendiri pada awalnya kemudian bertambah dengan adiknya serta tentu punya bapak dan emaknya 🤭 (emak masih harus berjibaku dengan bungsu yang mulai tumbuh gigi geraham).

Kegiatan mencuci baju ini sebenarnya menjadi favorit saya, karena secara tidak langsung dapat mencontohkan kepada si sulung tentang pelajaran dasar dalam kehidupan. Yaitu kebersihan dan saling menolong. Sebenarnya banyak pelajaran yang tersirat dari hanya mencuci pakaian. Kerja sama antar keluarga di akhir pekan tanpa kehadiran asisten rumah tangga.  Selama pandemi, anak banyak menghabiskan waktu duduk di depan layar komputer dan berkegiatan di dalam rumah saja. Dengan menjemur pakaian, anak akan melangkah ke luar rumah dan mendapatkan sinar matahari langsung. Simpel memang tapi dengan demikian sedikit demi sedikit kita dapat melatih anak untuk hidup mandiri.

Setelah beres dengan cucian rasa kangen rumah pun tak terelakkan. Mulai terpikir hidangan yang dulu biasa ada dirumah. Nah mulai kembali memanfaatkan WAG keluarga untuk bertanya resep ubi goreng ke mami (mama).

Tanya: Mi, dulu mama sering buat ubi goreng yang pakai tepung. Caranya bagaimana? Resepnya apa?

Jawab: ohhh gampang itu. Cukup pakai tepung terigu, ubi, telur. Gitu aja dicampur terus digoreng… oiya jangan lupa dibolak balik biar ga gosong ya….

Tanya: Tepung terigu berapa banyak mi?

Jawab: Secukupnya aja tepungnya. Seperti kalau buat tempe itu loh (santai bin lugas jawabnya)

Tanya: 😭😭😭😭😭 baiklah… akan dicoba pakai ilmu tertinggi yang ada di dataran bumi ini yaitu ilmu kira kira. Semoga tidak berlebihan tepungnya (keblondrok – bahasa jawa yang sangat pas menggambarkan situasi ini).

Akhirnya karena si kecil masih rewel si ubi goreng dengan ilmu pemahaman level dewa tadi belum jadi terlaksana dan malah mami nun jauh disana mengirimkan foto si ubi 🤣.

Apabila situasi sudah mendukung akan dibagi kembali resep si ubi supaya kita bisa sama sama merasakan kearifan lokal yang rasanya yetap dihati.

 

Note: cucian aman sampai sore karena tidak hujan sama sekali. Horeee!!! Terima kasih Tuhan 🥰🤗

Tinggalkan Balasan