
Redundant 7: Silence
Oleh Erry Yulia Siahaan
Lepas magrib, Rabu, 18 Januari 2023. Grup WhatsApp keluarga saya masih saja sepi. Memang, sudah beberapa hari ini WA grup tersebut sepi, setidaknya relatif lebih sepi daripada biasanya.
Rutinitas salam dan doa pagi berjalan normal. Hanya saja, postingan kegiatan, informasi terbaru, dan candaan yang biasanya ramai bersahutan, entah pagi, siang, atau malam, nyata sekali berkurangnya. Sesekali saya pancing dengan berbagi foto dan informasi baru. Tetap sepi. Ada sih satu-dua yang merespon, tetapi tetap saja menurut saya itu tergolong sepi. Tidak biasanya begitu.
Terpikir oleh saya, ada apa ya hari-hari ini. Adakah yang istimewa? Seingat saya, tidak. Biasa saja. Lantas, kenapa sepi. Apakah karena masih suasana tahun baru sehingga banyak pekerjaan tertunda yang harus diselesaikan.
“Sepiiiiii …….,” tulisku.
Karena masih saja sunyi, saya memutuskan untuk menutup WA sementara. Saya mulai berhadapan dengan laptop dan mengetik. Satu setengah jam kemudian saya kembali membuka WA. Masih sepi. Serta-merta saya kirimkan tulisan yang baru saja saya buat.
“Mohon ijin share ya, ungkapan hati, nih,” tulisku. (Di bawah ini tulisan yang saya share)
Silence is Golden
Silence is golden merupakan salah satu quote terkenal, sarat nasihat. Tak heran bila kemudian ia dijadikan judul lagu oleh The Tremeloes pada tahun 1960an. Sementara tahun lalu The Beths (grup band dari Selandia Baru) menjadikannya sebagai judul untuk album baru mereka, yang di dalamnya juga ada lagu Silence is Golden, meskipun liriknya jauh berbeda dengan lirik lagunya The Tremeloes.
Diawali dengan “huuu uuuu” dua kali, dalam tempo sedikit cepat, The Tremeloes langsung masuk pada bait pertama lagu: “Oh don’t it hurt deep inside/To see someone do something to her/Oh don’t it pain to see someone cry/How especially if that someone is her” disusul Refrain yang berbunyi, “Silence is golden/But my eyes still see/Silence is golden, golden/But my eyes still see”.
Selanjutnya pada stanza kedua, grup band itu mengatakan, “Talking is cheap people follow like sheep/Even though there is no where to go/How could she tell he deceived her so well/Pity she’ll be the last one to know”.
Lagu ini sangat terkenal dan mudah sekali dikenali oleh generasi yang sekarang sudah pada tua, bahkan mungkin sudah tidak ada. Didirikan di Dagenham, Essex, Inggris pada 1958, The Tremeloes adalah grup band rock and roll yang tergolong paling lama bertahan dalam kancah permusikan dunia. Mereka aktif selama lebih dari 50 tahun, dengan menghasilkan 14 single hit UK dan dua US Top 20. Menurut YouTube, mereka adalah grup Inggris selatan pertama yang menduduki puncak tangga lagu pada era beat.
Sedangkan The Beths berekspresi dengan, I wish that I could freeze time/Go to the wild/Soak up the quiet/’Til I’m dripping wet with it/Then I would drive home/Go to my room/Wring myself out/That would be the end of it./Instead it’s white noise/Sufferingly loud/It’s wearing me down/I’m up to my ears in it/It’s like a wave break/Into my head/Again and again/How are you not hearing it?
Berbeda
Benar, agak berbeda ya. The Tremeloes ingin berbagi perasaan. Betapa sakit di dalam, kata mereka, ketika harus menahan perasaan sedih, saat melihat dia (kayaknya perempuan yang diam-diam dikasihi) menderita, sedih, menangis karena disakiti oleh orang lain. Tetapi, mau bagaimana lagi, kata The Tremeloes, bukankah “diam itu adalah emas”. Bukankah untuk berkata-kata itu gampang banget, cuma memang mengandung risiko karena bisa dianggap “ikut-ikutan” kayak domba (kalau di Indonesia sering dibilang kayak “bebek”). Atau, jangan2 nanti malah kecipratan kata-kata, “urus saja diri sendiri, gak usah ikut campur”. Jadi, The Tremeloes seperti merasa tidak berdaya. Mereka melihat, diam itu lebih baik, meskipun hati berontak karena menahan pedih, karena dia seakan “tidak ke mana-mana” alias tidak melakukan sesuatu yang berarti untuk menolong perempuan itu.
Menariknya. The Beths justru melihat silence sebagai bentuk pelarian yang berguna untuk tidak menambah stres. The Beths melihat stres dan kecemasan merupakan manifestasi dari intoleransi terhadap kebisingan, di mana setiap suara yang baru bisa membuat orang semakin stres. Lari ke alam liar, menyerap keheningan sebanyak-banyaknya, sampai basah kuyup dengan keheningan itu, baru setelah itu pulang, memerasnya. Waaah, itu melegakan sekali menurut mereka, ketimbang mendengar white noise yang cuma menambah stres, bikin kepala seperti mau pecah saja. The Beths malah bertanya, kamu gak denger ya, itu begitu ‘bisingnya’?. Ungkapan white noise mereka bisa saja diartikan sebagai keluarga yang gak harmonis, orangtua yang ngomel atau ribut melulu, politikus yang banyak berpropaganda tapi gak jelas, atau lainnya.
Tapi, kalau dilihat dari arti kata white noise sendiri, sebenarnya lirik lagu grup band itu bisa dibilang agak ekstrem. (Kata white noise sebenarnya berarti kombinasi berbagai suara dari seluruh frekuensi yang dapat didengar oleh telinga manusia. Kombinasi berbagai suara ini akan menciptakan suara mendengung atau mendesis yang terdengar konsisten, stabil, dan merata. Dalam dunia medis, white noise bisa berkonotasi positif, misalnya untuk bayi justru dianggap bebunyian yang bisa menambah ketenangan sehingga bayi mudah terlelap.)
Password to Creativity
Makin menarik ketika kita kemudian menyimak komentar sejumlah orang mengenai silence.
“The password to creativity is SILENCE”, kata Michael Bassey Johnson.
Sementara Tamerlan Kuzgov mengatakan, “If silence were golden, everyone would be rich.” Karena ada kata “if” dalam kalimat Kuzgov, bisa berarti dia sedang mempertanyakan manfaat dari silence atau cuma berkelakar untuk meramaikan ruang komen. Namun, jika kata “if” itu kita coret dan kita membentuk kalimat baru menjadi “Silence is golden, and with it everyone will be rich”, saya yakin para ahli Psikologi Kognitif bersemangat untuk sependapat dengan saya, bahwa memang ada koneksi antara silence sebagai password untuk kreativitas dan antara kreativitas dengan kesuksesan materi (dalam artian, orang yang kreatif akan bisa memunculkan karya-karya baru yang bernilai jual). Premis mayor-minornya bisa bermuara pada konklusi bahwa benar “silence is golden”.
“Merespon sepinya ruang ini, lebih sepi dari sebelum-sebelumnya, mudah-mudahan itu karena masing-masing lagi mencipta, berkreasi. Amin,” kata saya mengakhiri WA.
Sampai tulisan itu akhirnya saya muat di situs YPTD ini, WA grup itu kadang kembali ramai seperti biasa, kadang sepi-sepi seperti hari itu. Hmmmmm … redundansi. ***







1 komentar