
Redundant 20: Playing the Victim
Oleh Erry Yulia Siahaan
“There are lines that cannot be crossed, there are relationships that can’t be meddled with. Only a truth can make it understandable.”

Tulisan itu terpampang pada hari Rabu, 1 Februari 2023, pada status WhatsApp (WA) seorang teman. Saya tertarik pada kata-kata itu, tetapi tidak ingin menelusuri lebih dalam. Apalagi konotasinya bisa beragam.
Sepuluh hari kemudian, teman yang sama menuliskan, “I’m not enough. And … It’s OK.”
“Hello. Kenapa nih, Dik?” tanya saya. Saya memang sudah menganggapnya seperti adik.
“Sedihhhh, marahhhhhh ..,” katanya. “Ngadepin orang playing fictim.”
Yang dimaksud adalah playing the victim. Mungkin, teman saya itu memang benar-benar lagi bete sehingga menuliskannya jadi typo seperti itu.
“Waaah, jangan mau, rugi,” tandas saya. Maksud saya, jangan mau menjadi sedih dan marah hanya gara-gara bertemu dengan orang yang suka playing the victim.

Playing the Victim
Playing the victim adalah istilah untuk menjelaskan karakter seseorang yang manipulatif. Maunya dimengerti terus, tetapi kurang introspektif terhadap kekurangan diri. Tidak mau mengaku kalau sudah bersalah. Malah, cenderung menyalahkan orang lain. Juga, mungkin saja yang bersangkutan suka memainkan peran sebagai korban untuk mendapatkan apa yang diinginkannya alias secara aktif memanipulasi orang lain dengan mencari perhatian, menimbulkan rasa bersalah, dan menghindari tanggung jawab. (Baca besok: Redundant 21: Menghadapi Kepribadian Playing the Victim)
“Naĥhhhh, gak bisa,” balas teman saya. Alasannya, dia dan pelaku playing the victim itu adalah team work. Teman saya itu atasan, si pelaku bawahan.
Menurut teman saya, yang bersangkutan sudah bukan sekadar playing the victim, melainkan lebih dari itu: Narsistik. Memfitnah. Menyerang hal-hal yang sifatnya sangat pribadi. Sungguh tidak profesional. Sampai-sampai sebagai atasan, teman saya itu “menyerah”, tidak tahu harus bagaimana lagi. Padahal, katanya, sebagai atasan dia merasa sudah melakukan hal-hal yang diperlukan untuk menciptakan iklim kerja yang kondusif. Misalnya, melakukan tugas dan tanggung jawab sebaik-baiknya, berkinerja lebih baik, on time, menghindari conflic of interest, tidak suka ribut-ribut, menjadi mediator jika ada masalah antarbawahan, dan sebagainya.
Sebagai teman sekaligus kakak, saya tidak mau bahwa teman saya itu terpecah perhatiannya pada hal-hal sepele hanya karena ada orang yang seperti diceritakannya itu. Saya bilang, orang seperti itu pasti selalu ada di mana saja. Tinggal bagaimana kita menghadapinya, untuk membentuk kita menjadi lebih baik sebagai pribadi.
Jadi, kata saya, anggap saja seperti ajang penempaan diri. Firman dalam Alkitab mengingatkan pentingnya kita untuk hidup dengan buah-buah roh, yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.

Jadi Pemimpin
Bukan suatu kebetulan bahwa pada siang harinya, pada hari yang sama, saya bertemu dengan pendeta, yang berpesan agar kita tidak menutup diri pada interaksi dengan orang-orang yang kita anggap “menyebalkan”. Pendeta mengatakan hal itu, merespon seorang teman yang mengungkapkan kecenderungannya untuk menutup diri terhadap orang-orang yang menurutnya suka “menyebalkan”. Misalnya, tidak mau kalah, sombong, tidak introspektif, dan semacamnya. Menurut pendeta, kita justru harus bisa berbaur dengan berbagai tipe orang, jika kita ingin bisa menjadi pemimpin.
“Wah pas banget ini, tadi ada pertemuan dan sharing,” kata saya. “ Ternyata, kita harus mau dan mampu ngadepin berbagai tipikal orang. Jangan menghindar, itu kalau mau jadi pemimpin.”
“Itu pendeta yang bilang ke teman. Iya juga ya,” tambah saya.
Saya akhirnya berani menanyakan lebih dalam masalahnya ke teman itu, karena saya yakin, bukanlah suatu kebetulan bahwa saya harus bertemu dengan istilah itu dan berjumpa dengan teman-teman yang menghadapi persoalan serupa.
Distraction
Juga, bukan suatu kebetulan bahwa tadi pagi, sepulang gereja, saya nge-chat teman itu lagi untuk urusan aplikasi komputer. Dia langsung bilang lagi pusing, karena ulah orang yang tempo hari diceritakannya itu. Puji Tuhan. Saya tahu apa yang harus saya katakan tadi, “Avoid the bad distraction”. Jangan mau kita sampai hilang fokus pada hal-hal yang penting dan prioritas lantaran memikirkan karakter seseorang yang terlalu mengganggu.
(Bukan suatu kebetulan bahwa saya menemukan kata “distraction” tadi pagi di gereja. Di ujung khotbah pendeta, pendeta mengingatkan, benturan bisa terjadi dalam proses pembaruan menuju yang lebih baik. Tapi, katanya, kita jangan sampai mau teralihkan oleh adanya benturan itu. Usai ibadah, tiba-tiba muncul kata “distraction” dalam benak saya. Jemaat mulai berdiri dan menuju pintu keluar, sementara saya merogoh-rogoh isi tas saya dan mengambil lagi buku dan pulpen, kemudian menuliskan kata tersebut pada salah satu halaman. Maksud saya sebagai penanda, jika nanti kata itu ternyata ada kaitannya dengan peristiwa berikutnya.)

Distraction atau pengalihan didefinisikan sebagai suatu hal yang menghalangi seseorang untuk memberikan perhatian penuh pada sesuatu yang lain. Memang, distraction tidak selamanya berkonotasi negatif. Namun, ketika sesuatu itu sudah membuat kita menguras energi dan waktu, apalagi bikin kita tidak mampu mendahulukan mana yang lebih penting, itu distraction yang buruk.
Usai chat, saya melihat-lihat update status WA. Biasanya, saya cuma numpang lewat. Melihat sekilas. Nah, tadi itu saya langsung mampir di status WA teman itu lagi. Saya lihat ada tulisan. Ternyata, itu link Instagram. Ada video tentang acara makan-makan.
Karena sudah sempat mampir di Instagram, saya menggeser cursor ke bawah. Berjumpalah saya pada akun kedua dari tayangan tadi. Akun seorang anak muda. Saya klik. Loh, ternyata dia membahas soal menghadapi karakter manipulatif, salah satu ciri karakter playing the victim.
Sekali lagi, bukan kebetulan. ***












Hanya bisa ngelus dada ketemu orang2 itu … Dan belakangan juga bersahabat dg orang spt itu … akhirnya lariiiiiii …. gak deh …. lebih baik menjauuuuuuuuuuuuuuh …. heheheheee
Semangat, Ibu There…..