Kasus c
ovid dalam beberapa bulan terakhir sudah sangat rendah dan melandai, namun kita mesti menyadari bahwa situasi pandemik ini belum berakhir, dan saat ini muncul varian baru dari covid19 yaitu Omicron, dan penyebaran dari virus Omicron ini sangat cepat sehingga perlu kita waspadai bersama, khususnya bagi tenaga keperawatan dimanapun berada, baik saat bertugas maupun disaat tidak sedang bertugas.
Pada tanggal 6 Januari 2022 sudah lebih dari 149 negara yang melaporkan adanya transmisi local dari varian omicron ini, dan berdasarkan data dari Global Initiative on Sharing all Influenza (GISAID) pada tanggal 14 Januari 2022 bahwa dari bulan Juli 2021 di Indonesia sudah berkembang covid varian Delta, namun sejak desember 2021 sudah ditemukan omicron di populasi masyarakat Indonesia, dan situasi ini menuntut kita untuk selalu waspada. Bila kita lihat update data pada tanggal 13 Januari 2022 terjadi tren peningkatan angka kejadian covid-19 dan situasi ini menjadi peringatan bagi kita untuk mengantisipasi agar tidak terjadi seperti situasi pada varian delta.
Mutasi virus sebenarnya adalah sesuatu yang alamiah terjadi karena virus covid-19 ini merupakan RNA yang mudah sekali bermutasi atau delesi, dan bermutasinya virus tidak selalu membuat virus itu menjadi lebih ganas dan mudah menular, ada juga yang menjadi lebih lemah. Mutasi virus covid-19 ini selalu dilakukan pemantauan dan tracking genomic varian oleh WHO dimana diwaspadai yang menimbulkan masalah dan saat ini salah satunya adalah varian virus omicron, mulai dari varian alpha, Beta, Gamma, dan Delta, dan terakhir yaitu Omicron.
Pada virus varian omicron ditemukan mutase pada D614G, N501Y, dan K417N dan kesemua mutasi ini transmisinya lebih mudah karena afinitas atau kekuatan ikatan atau reseptor virus terhadap reseptornya 10 kali lipat dari pada varian sebelum, serta virus omicron ini juga bisa lolos dari antibody yang sudah terbentuk di tubuh kita.
Karakterisitik varian omicron dilaporkan lebih mudah menular 5 kali lebih cepat dari varian delta, namun severitasnya lebih rendah, pada individu yang memiliki penyakit penyerta atau comorbid bisa memberikan dampak yang fatal. Terkait dengan efektifitas dari vaksin yang sudah diberikan disinyalir efektifitasnya menurun dengan adannya varian omicron ini oleh karena itu perlu dilakukan booster untuk meningkatkan kembali efektifitasnya.
Gejala klinis pasien individu yang terpapar omicron mirip dengan varian sebelumnya namun demam tidak lagi menjadi gejala utama, namun gejala utamanya lebih mengarah pada gejala kelelahan atau fatigue, nyeri otot sehingga kemampuan dan kejelian saat screening awal pasien sangat diperlukan.
Cara penularan virus varian omicron menjadi penting untuk kita ketahui bersama agar kita tidak bingung atau panik. Pada informasi yang dikeluarkan oleh badan kesehatan dunia (WHO) pada tanggal 21 Desember 2021 bahwa cara penularan varian omicron masih sama dengan varian virus delta yaitu port to the entrynya masih sama yaitu melalui mulut, hidung dan mukosa mata dan penyebarannya masih sama yaitu melalui sebagian besar adalah droplet, bisa aerosol pada kondisi tertentu yaitu pada ruangan dengan ventilasi yang buruk dan pada tindakan aerosol dan bisa melalui kontak dengan permukaan baik kontak dengan pasien maupun kontak tidak langsung dengan pasien yang terpapar omicron seperti di permukaan tempat tidur, meja dan lain-lain yang terkontaminasi.
Bagaimana cara pencegahannya, ini yang paling penting untuk diketahui bersama, pencegahannya tetap sama, dimana apa yang sudah kita lakukan sebelumnya dengan protocol kesehatan harus kita kerjakan dan kita perkuat kembali agar kita dapat mencegah terjadinya penularan atau menularkan varian omicron ini. Sehingga apapun varian virusnya karena trasmisinya adalah sama maka pencegahannya sama yaitu patuhi protocol kesehatan dan lakukan vaksin.
Bagaimana m
endeteksi adanya virus omicron ?, untuk pemeriksaan laboratorium yaitu kita mulai dari test antigen, test covid antigen tidak terdampak oleh adanya mutasi varian virus termasuk varian omicron karena sebagian mutasi secara genetic terjadi pada region spike sedangkan antigen yang ditest adanya protein nukleotaksid sehingga tidak terdampak pada perubahan-perubahan dari bermutasinya virus, kalau ada ketidaksesuaian hasil antara test antigen dengan test PCR hal itu semata-mata disebabkan sensitifitas test antigen yang terbatas dimana hasil test covid antigen akan positif bila viral load atau CT value nya dibawah 30 namun apabila viral load atau CT Value nya lebih tinggi bisa saja hasil test covid antigennya negative.
Untuk reagen PCR, terdapat 246 reagen PCR yang beredar di dunia yang mendapat izin dari FDA, dan sebagian besar test PCR tetap bisa mendeteksi apabila kasus pasien positif.
Untuk mendeteksi varian baru omicron tetap menggunakan metode screening yang merupakan metode standar yang tetap menggunakan PCR
Bagaimana strategi untuk menghadapi varian omicron ?
Perubahan strategi baru tidak ada, hanya saja karena beberapa bulan kasus covid sudah turun atau sangat rendah sehingga kepatuhan kita akan protocol kesehatan dikhawatirkan kendor sehingga longgar dalam melakukan pencegahan terhadap virus covid, sehingga yang direkomendasikan oleh WHO pada tanggal 23 Desember 2021 adalah :
- Melakukan evaluasi dan meningkatkan kepatuhan terhadap pedoman atau prosedur pencegahan covid-19 dengan selalu menerapkan protokol kesehatan secara ketat
- Memperkuat implementasi pengendalian yang berjenjang di semua tatanan, seperti
- Pengedalian terkait dengan tata udara terutama pada ruang-ruang tertutup
- Pengendalian akses keluar dan masuk di ruang-ruang publik, sehingga memungkinkan untuk dilakukan skrining aktif dan mengendalikan kepatuhan dalam menggunakan masker dan menjaga jarak serta protocol kesehatan lainnya
- Pemberian vaksin lengkap terhadap petugas kesehatan dan masyarakat termasuk vaksin booster
- Untuk petugas kesehatan agar meningkatkan dan memperketat kepatuhan penggunaan APD
- Menjaga lingkungan agar tetap bersih atau disinfeksi lingkungan
- Perketat skrining dan kontak tracing serta pelaporan
- Strategi bagi tenaga kesehatan yang bekerja di Faskes, yaitu;
- Meningkatkan kepatuhan terhadap protocol kesehatan baik didalam maupun di luar faskes
- Pada ruang pelayanan agar diatur kembali terkait dengan physical distancing
- Untuk area pelayanan lakukan pembatasan pendamping pasien, kecuali untuk pasien yang berisiko jatuh, dan bagi pendamping yakinkan aman atau negatif covid
- Perhatikan alur keluar dan masuk ruangan
- Berperan dalam pengawasan kepatuhan terhadap hand hygiene, masker pada petugas dan semua pengunjung.
Kunci utama untuk kita bisa menghadapi pandemi ini adalah kepatuhan diri akan protokol kesehatan, selalu bersihkan tangan saat kontak dengan apapun, selalu menggunakan masker dengan baik, dan selalu menjaga jarak saat berinteraksi. Kelalaian yang sering terjadi adalah ketika kita menggunakan masker, tangan kita selalu menyentuh masker yang kita pakai baik dengan sengaja saat memperbaiki posisi masker atau dalam keadaan tidak sengaja saat terasa gatal dikulit atau rasa tidak nyaman pada area masker, sehingga dengan menyentuh masker atau area sekitar masker sebaiknya kita membersihkan tangan dengan sanitizer. Selanjutnya adalah kesadaran dan kepatuhan pada diri kita masing-masing adalah penentu bisa atau tidaknya kita menghadapi pandemi ini. Salam Sehat, tetap semangat dan salam tangguh.
Erwin
- Ketua Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia (DPP PPNI) Bidang pelayanan
- Tim Satgas Covid DPP PPNI


