Setiap orang butuh sesuatu yang pasti. Termasuk saya. Apalagi soal masa depan.
Krisis identitas di tengah situasi bangsa yang tidak kondusif, akibat ketakutan, kecemasan akan masa depan, menyebabkan setiap orang lari pada tukang peramal.
Tak ada yang salah kok, kita memastikan masa depan di tukang peramal. Tapi, apakah tukang peramal adalah Tuhan? Oh, tentu saja tidak, sobat! Karena tukang peramal juga seorang manusia seperti kita. Lalu, apakah ini berkaitan dengan sensasi? Barangkali tepat sobat!
Ya, mengingat krisis identitas yang terus mengejar kita, lebih baik kita mencari sensasi di dalam kehidupan bersama. Ya, setidaknya mengobati rasa ketakutan kita akan segala sesuatu yang tak pasti.
Saya memahami bahwasan kita sekarang sudah memasuki absennya pikiran untuk mengenali diri. Akibatnya, kita takut untuk mengakui siapakah diri kita? Apa tujuan hidup kita? Bagaimana keadaan keluarga kita, bila tak ada pekerjaan?
Pertanyaan-pertanyaan di atas merupakan kecemasan universal. Universal berarti setiap orang pernah berada diposisi tersebut.
“Common sense” atau pikiran sehat di era 21 memang mengalami kemunduran. Ya, penyebab utamanya adalah Pandemi yang belum berakhir. Akibatnya, kita tercerabut dari pikiran sehat.
Pikiran sehat yang tak dipakai, akan berakibat pada tendensi kita untuk memastikan kehidupan masa depan kita di tukang peramal. Jadi, tak salah bila profesi tukang peramal saat ini memiliki potensi yang besar dalam dunia bisnis.
Wow, menarik ya. Karena kesempatan ini mendatangkan profesi baru loh di tengah krisis identitas. Pofesi ini digandrungi oleh orang-orang yang memanfaatkan kesempatan, demi mengenyangkan saldo ATM-nya.
Tengok saja tukang ramalan yang menjamur di media sosial saat ini. Ada yang meramalkan kapan Pandemi berakhir? Ada yang meramalkan bangsa Indonesia 3-5 bulan ke depan seperti apa? Dan masih banyak lagi tukang peramal yang mengaku sebagai tangan kanan Tuhan, dewa, dsb.
Bukannya kita pesimis, tapi terlalu memercayakan masa depan kita di tangan peramal, sama saja kita bunuh diri filosofikal. Artinya, apa yang kita cari, hanya akan menemui jalan buntut. Ya, karena kita tak menggunakan lagi pikiran sehat. Diri kita sudah dihipnotis oleh tukang peramal untuk mengikuti logika muslihatnya.
Solusinya adalah kita kembali menggunakan akal sehat atau “common sense.”














