
Mengulik kebahagiaan adalah sesuatu yang penting bagi setiap orang. Karena setiap orang butuh kebahagiaan.
Ada yang bahagia, bila menjatuhkan rekan kerjanya! Ada juga yang bahagia, bila merebut hak milik orang lain! Ada pula yang bahagia, tatkala ada mega konspirasi.
Ah jadi mumet, artikel apa ini! Kok inti pembicaraannya hanya satu kata kunci sih! Ya, betul sobat. Di sini saya hanya fokus mengulik, menata, merias, mengemas arti kebahagiaan.
Meminjam ajaran filsuf Plato dalam etika “Nikomachea” mengatakan bahwa, “tujuan tertingi dan terakhir dari pencarian manusia adalah kebahagiaan.”
Setiap dari kita rela meninggalkan kampung halaman, orangtua, sanak family, serta orang-orang tercinta hanya untuk mengejar kebahagiaan semu.
Kebahagiaan dalam versi saya itu seperti kita tersesat di tengah hutan belantara. Di mana kita kehilangan segalanya dalam diri kita. Lalu, kita selalu mencari dan terus mencari jalan keluarnya. Tapi, kita selalu berada di lingkaran hutan belantara.
Tebak apa yang terjadi dengan diri kita? Yang kita dapatkan hanyalah luka, stres, depresi, trauma, dll.
Nah, begitulah potretan kehidupan kita. Di mana, demi kenikmatan semu, kita merelakan keharmonisan rumah tangga, hubungan dengan pacar, untuk mengejar lelaki atau perempuan lain. Tapi, tahu enggak, bahwa setiap perbuatan yang kita lakukan, memiliki dampak besar bagi kondisi psikologis kita.
Salah satu dampak yang kita alami adalah luka batin. Setiap orang mengalami luka batin dalam mencari arti dan makna kebahagiaan.
Luka karena dikhinati oleh sahabatnya, rekan kerjanya. Ya, kita selalu berhadapan dengan hukum kausalitas (sebab-akibat), bila dikaji dari sudut pandang Filsafat Kosmologi.
Hukum sebab-akibat, artinya apa yang kita ambil dari orang lain secara paksa, akan kembali diambil orang dengan cara paksa juga. Karena apa yang kita tabur, itulah hasil panen kita di masa yang akan datang (sisi negatifnya).
Sebaliknya, bila kita meninggalkan jejak baik bagi sesama, kita akan memanen karma yang baik pula (sisi positifnya).
Namun, kita sebagai manusia, selalu cenderung mengarah kepada sisi negatif. Karena pada dasarnya, kita adalah manusia serigala bagi sesamanya (meminjam ajaran Thomas Hobbes).
Lalu, apa yang harus kita lakukan?
Yang kita lakukan adalah merekonsiliasi relasi kita yang sudah retak bersama pasangan, orangtua, sahabat, rekan kerja, dan setiap orang yang pernah kita sakiti. Inilah bagian rekonstruksi karakter kita di era 21.
Tujuan dari rekonstruksi adalah kita menemukan arti dan makna kebahagiaan sesuai versi kita. Mengenali diri berarti mengenali kelebihan dan kekuarangan. Inilah arti dan makna kebahagiaan yang sejati.











