CerBung : Han! Aku Cinta Padamu (36)

Cerpen, Fiksiana599 Dilihat

Cerbung ini khusus persembahan penulis untuk mereka para mahasiswa. Namun juga untuk mereka yang masih berjiwa muda. 

TIGA PULUH ENAM 

Perasaan-perasaan seperti itu seolah kini berulang. Getaran-getaran hati ini juga demikian. Tidak salah mungkin benar saat ini aku memang sedang jatuh cinta kepada Aini.

Tanpa sadar aku sudah demikian lama memandangi Aini ketika tiba-tiba saja Aini mengangkat wajahnya. Dia tersenyum memandangku dan aku sudah pasti terkejut karena kepergok sedang memandangnya. Tapi aku segera membalas senyumnya. Kami berpandangan sambil tersenyum.

Acara syukuran malam itu ditutup dengan pembacaan do’a oleh Pak Bachtiar. Para tamu lalu beramah tamah dengan menikmati makan malam yang sudah tersaji. Acara sederhana ini selesai tidak terlalu larut malam. Para tamu satu-demi satu mulai berpamitan.

Saat itu sebenarnya aku juga ingin segera berpamitan ketika tiba-tiba Aini mencegahku agar aku sebaiknya jangan pulang dulu. Kulihat Alanpun sudah pamit duluan. Akhirnya semua tamu-tamu sudah pulang tinggal aku sendiri menemani Aini.

“Han kita duduk di teras depan saja!” Ajak Aini. Kami berdua menuju ke teras depan. Memang lebih nyaman karena di teras depan ini bisa langsung memandang jalan Bangka yang malam itu sudah mulai sepi.

Biasanya dari pagi sampai sore jalan ini super ramai karena dilalui angkutan kota dari Terminal Baranang Siang pulang pergi ke arah penjuru kota Bogor seperti jalan Merdeka, Pasar Anyar, Pasar Bogor, Jalan Surya Kencana, Tajur sampai ke arah Ramayana, Pangrango, Raya Pajajaran, jalan Salak, Gunung batu, Sindang Barang, Demaga dan entah kemana lagi.

“Han ada kabar baik lagi hari ini,” suara Aini mengejutkanku.

“Berita apa Aini?” Tanyaku terheran-heran.

“Aku sudah mendapat izin dari Papa. Insya Allah berencana mengambil S2 di salah satu Universitas di Brisbane. Saat ini masih mencari bea siswa dan meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris,” kata Aini dengan wajah bercahaya penuh kegembiraan.

“Aku ikut senang Aini jika akhirnya bisa melanjutkan S2 di sana dan itu pantas untukmu. Jangan sampai kepandaianmu menjadi sia-sia.” Kataku sambil menjabat tangannya yang lembut.

“Terimakasih. Lalu Hen apa rencanamu nanti?” Tanya Aini.

“Profesor Soetrisno telah memintaku untuk tetap membantu beliau dalam praktikum kimia dasar, organik, analisis dan instrumen sambil aku menunggu adanya formasi tenaga dosen.”

Aku memang ingin menjadi Aparat Sipil Negara, seorang Dosen di Perguruan Tinggi. Sebelum itu aku harus mendapatkan bea siswa untuk mengambil S2 di dalam Negeri saja. Hal ini juga saran dari Prof Soetrisno yang selalu memberikan semangat agar aku segera mengambil kuliah jenjang S2 sampai dengan S3. Dengan jenjang tersebut bisa lebih mudah mendapatkan formasi tenaga dosen nanti.

“Syukurlah Hen. Itu berarti kau masih mau tetap tinggal di Bogor. Nanti kalau aku sedang liburan kuliah tidak perlu bersusah payah mencarimu, iya bukan?” Kata Aini sambil tertawa.

Mendengar kata-katanya terus terang aku bisa menyalahartikan. Apakah itu berarti ia akan merindukan aku selama dia di Australia. Namun aku harus sadar tidak boleh lagi melayang-layang di Angkasa dengan angan-angan yang kosong.

Kata-katanya ini bagiku seperti sebuah angin surga lagi. Beberapa hari ini banyak tingkah dan perkataan Aini yang menjadi angin harapan bagiku. Aku semakin merasakan banyak pertanyaan yang harus mencari jawabannya.

BERSAMBUNG Bab 37. 

@hensa.

Ilustrasi Foto by Pixabay.

Teman-teman bagi penggemar novel atau cerbung sila baca novel di bawah ini, klik saja tautannya.

BACA JUGA Kisah Cinta Jomlo Pesantren.

 

Tinggalkan Balasan

1 komentar