Momen Langka dalam Hidupku, 2 Rakaat di Raudhah untuk Ibunda Tercinta

Humaniora, Terbaru, YPTD72 Dilihat

Semua umat Islam sangat mendambakan bisa melakukan salat dua rakaat di Raudhah pada saat mereka melakukan ibadah Haji atau Umrah.

Terutama ibadah haji yang wajib dilakukan umat muslim hanya satu kali selama hidup, maka momen tersebut memiliki arti sangat berharga bagi sosok seorang muslim pada saat beribadah di area Raudhah. 

Raudhah adalah sebutan untuk suatu tempat suci di dalam Masjid Nabawi Madinah, yang terletak di antara makam Nabi Muhammad SAW dan mimbarnya, dan diyakini sebagai taman di antara taman-taman surga.

Lokasi Raudhah ini tepatnya berupa area seluas 144 meter persegi. Ditandai dengan pilar warna putih dan dilengkapi lampu gantung khusus, berbeda dengan lampu gantung lainnya.

Umat Muslim meyakini bahwa Raudhah adalah area yang sangat mustajab untuk berdoa dan memiliki keutamaan, sehingga menjadi tujuan berharga bagi jamaah haji dan umrah.

Nama Raudhah berasal dari bahasa Arab yang berarti taman. Oleh karena itu Raudhah ini sering disebut sebagai “Taman Surga” seperti disabdakan dalam sebuah hadis sahih Bukhari-Muslim.

Ketika jamaah yang duduk, beribadah, dan bermunajat di dalam Raudhah, sering kali mereka merasakan ketenangan dan kedamaian yang sangat mendalam karena keistimewaannya yang sarat dengan keberkahan.

Perasaan yang demikian ini mencerminkan suasana yang diyakini mirip dengan ketentraman dan kebahagiaan di taman-taman surga.

Bagi siapa saja yang pernah mengunjungi Raudhah, suasana ini tidak hanya membawa ketenangan fisik tetapi juga spiritual, menjadikannya tempat yang sangat dicari oleh jamaah dari seluruh dunia ketika mereka berkunjung ke Masjid Nabawi.

Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda: “Apa yang berada antara rumahku dan mimbarku merupakan salah satu taman dari taman-taman surga ( Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas menunjukkan keistimewaan lokasi tersebut yang memberikan makna spiritual yang mendalam bagi umat Islam, menjadikan Raudhah sebagai tempat yang tidak hanya penuh kedamaian tetapi juga penuh rahmat.

Dari ulasan tersebut betapa penting dan berharganya Raudhah, tempat yang menjadi idaman jemaah haji dan umrah. Pada musim haji kunjungan ke Raudhah jauh lebih padat dibandingkan pada momen saat umrah karena musim haji jutaan umat Islam datang Mekkah dan Madinah dalam waktu yang bersamaan.

Waktu yang paling ramai dimana jamaah berebutan masuk ke area Raudhah berlangsung setelah salat Isya. Bahkan pada musim haji hampir sepanjang waktu, jamaah selalu berebutan masuk ke area Raudhah.

Berebutan memasuki area Raudhah bersaing dengan orang-orang dari Afrika atau Arab yang badannya tinggi dan kekar adalah sebuah perjuangan tersendiri.

Penulis yang berperawakan kecil seperti kebanyakan orang dari Indonesia sudah berapa kali selalu gagal bersaing dengan mereka. Askar-Askar yaitu petugas keamanan dan ketertiban di Masjid Nabawi yang menjaga pintu masuk Raudhah, sangat ketat membatasi jumlah pengunjung.

Penulis yang selalu gagal bersaing berupaya sekuat tenaga dan pikiran berdesakkan dengan orang-orang dari Afrika yang tinggi besar, akhirnya pasrah dan hanya mampu berdoa lirih agar diberikan kemudahan oleh Allah sehingga bisa salat dua rakaat di Raudhah.

Dengan berjalan gontai menjauhi pintu masuk Raudhah menuju arah tempat Imam salat di depan Masjid Nabawi dekat pintu keluar Raudhah. Penulis berdiri di depan pintu Raudhah sambil menyaksikan jamaah di dalam yang khusyu salat dan berdoa.

Di depan pintu itu ada dua orang Askar berdiri menjaga pintu keluar Raudhah. Salah satu dari mereka melihat ke arah penulis sambil berkata: “Indonesia?” Sambil matanya memandang tanda pengenal khas tas kecil dengan bendera Merah Putih yang selalu dibawa jemaah Indonesia kemanapun mereka beraktivitas selama di Mekkah dan Madinah.

Penulis mengangguk sambil tersenyum menyambut sapaan Askar tersebut. Ketika ada satu dua orang jamaah selesai berdoa dan keluar dari area Raudhah, tanpa diduga tangan penulis diraih oleh Askar itu lalu dipersilakan masuk melalui pintu keluar Raudhah untuk mengisi tempat kosong yang ditinggalkan jamaah tersebut.

“Allahu Akbar!” Penulis mengucapkan Taqbir sambil terharu karena doa langsung dikabulkan Allah. Malam itu penulis salat sunah dua rakaat di Raudhah sambil mendoakan Ibunda di Tanah Air yang sedang berjuang melawan kanker. Selama berdoa untuk Ibunda tidak terasa air mata menetes di kedua pipi. Terharu akhirnya bisa salat di Raudhah dan berdoa kepada Allah.

Doa penulis untuk kesembuhan Ibunda mungkin tidak dikabulkan Allah di dunia ini karena Ibunda akhirnya wafat saat penlis masih berada di Tanah Suci. Namun keyakinan bahwa Allah mengabulkan doa penulis agar Ibunda dalam keadaan husnul khotimah, insya Allah terkabul.

Tidak ada yang paling berharga bagi hamba Allah kecuali husnul khotimah saat menjalani momen terakhirnya di dunia ini. Akhir yang baik adalah semua tujuan terbaik bagi umat manusia menuju jalan pulang.

Salam bahagia @hensa17.

Tinggalkan Balasan