
Si Kecil Demam Ikan
Beberapa minggu ini anak bungsu saya memiliki kesenangan yang membuat saya gregetan. Setiap mau tidur selalu merengek meminta dua ribu rupiah untuk membeli beberapa ikan kecil. Pagi hari tiba sebelum berangkat sekolah sikecil (Dipa) mendapatkan uang saku sebesar lima ribu rupiah. Dari uang saku lima ribu rupiah Dipa bisa membeli makanan kecil untuk sarapan.
Sesampainya di sekolah Dipa langsung masuk kelas dan mendapatkan pembelajaran dari ibu guru kelas. Jam pembelajaran kesatu sampai ketiga selesai. Saatnya jam istirahat baginya. Dipa langsung berlari keluar ruang kelas dan menuju pedagang ikan. Dia mengeluarkan uang sakunya dan membeli beberapa ikan cupang.
Lima belas menit kemudian jam istirahat selesai Dipa langsung masuk ke dalam ruang kelas sambil membawa dua buah kantong plastik berisikan dua ikan cupang. Setelah itu Bu guru Rizki bertanya,”Mas Dipa! uang sakunya kemana?. “Bu guru- bu guru tadi uang sakunya saya belikan ikan,” Sambil menggelengkan kepala bu guru berkata,”Terus kamu sarapannya pakai apa?. “Tidak ada bu guru”. Dita menjawab dengan lugunya.
Ketika pembelajaran selesai dan saatnya pulang ke rumah, bu guru menelpon kepada saya. Dia menyampaikan bahwa uang sakunya Dipa digunakan untuk membeli ikan cupang. Dan Dipa belum makan sampai dengan pulang sekolah. Saya langsung gregetan dan tertawa dalam hati.Sesampainya di rumah mas Dipa langsung laporan kepada Yayu (Pengasuh mas Dipa). Dia mengatakan bahwa
uang sakunya digunakan untuk membeli ikan cupang. Yayu pun langsung membuatkannya sarapan sekaligus makan siang. Ikan yang dibeli Dipa dibawa pulang untuk dimasukan kedalam toples yang disediakan. Setelah selesai mas Dipa langsung membawa ikan cupang dan mulai beradu dengan cermin dari ikan yang satunya.
Satu hari berlalu mas Dipa sudah siap-siap kembali ke sekolah tak lupa mengantongi uang saku kali ini sebesar sepuluh ribu rupaiah. Sambil tersenyum dan berlari dia memasuki ruang kelas. Beberapa menit kemudian mas Dipa mendapatkan pembelajaran dari bu guru.
Setelah dua jam pelajaran selesai waktunya istirahat untuk mas Dipa. Mas Dipa bergegas lari ke luar ruang kelas lagi-lagi menuju pedagang ikan. Kali ini mas Dipa membeli ikan bogo seharga lima ribu rupiah. Sisa uang mas Dipa gunakan untuk membeli jajanan di kantin. Teng … teng … teng… waktu istirahat telah usai. Mas Dipa langsung memasuki ruang kelas.
Kegiatan berikutnya dilanjutkan pembelajaran sampai jam terakhir selesai. Mas Dipa pulang dan memberikan ikan pada Yayu untuk dimasukan ke dalam aquarium. Kini ikannya menjadi bertambah satu. Semua ikan dimasukan kedalam panci. Sambil bermain ikan dengan Yayu mas Dipa berkata bahwa dia telah memesan aquarium kecil seharga lima puluh ribu.
Sepulangnya saya dari kantor Yayu berkata bahwa mas Dipa telah memesan aquarium kecil besok harus dibayar. Waduhhhhh! ada-ada saja sikecilku ini. Kemudian saya memberi nasihat pada sikecil wajahnya hanya mengangguk. Dan besok tidak akan membeli apa-apa lagi katanya berjanji.
Keesokan harinya mas Dipa berangkat sekolah dengan semangat. Kali ini hanya memegang uang saku lima ribu rupiah. Lagi-lagi sikecil berulah, dia membelikan teman-temannya ikan bogo dengan uang tabungannya seharga lima puluh ribu rupiah. Bu guru langsung bertanya kepada mas Dipa,” Mas Dipa uang tabungannya kemana?, dengan lugunya mas Dipa menjawa.”Saya bagikan teman-teman buat beli ikan.”
Tidak lama kemudian bu guru menelpon saya dan berkata bahwa hari ini mas Dipa tidak nabung. Saya berkata pada bu guru tadi saya nabung dan saya simpan di tas bagian depan bawah. Bu guru menginformsikan bahwa uang tabungannya dibagikan teman-temannya untuk membelikan ikan bogo. Dan menurut mas Dipa ikan bogo itu ikan channa.
Saya merasa gemes dan menggelengkan kepala. Lagi-lagi sikecil bikin gregetan. Akhirnya saya meminta maaf kepada bu guru dan bu guru juga meminta maaf. Keluguan sikecil membuat hati ini jadi semakin gregetan. Telepon dari bu guru baru saja berhenti. Eh! ini ada lagi karyawan saya bilang bu mas Dipa jajan belum bayar dua puluh ribu ke warung depan sekolah.
Terus saya tanya mas Dipa dan menjawab,”Kata bakulnya ambil dan ngebon dulu dan nanti bundanya mas Dipa yang bayar.” Pedagang depan sekolahan anak saya memang saya mengenalnya jadi mereka sangat senang kalau mas Dipa jajan meski harus ngebon. Ada-ada saja sikecil ulahnya. Keluguannya membuat banyak orang tertawa.
Kekacauan ini selesai eh datang lagi yang satu bu kata tukang ikan mas Dipa pesan aquariun dengan harga seratus ribu rupiah. Duh! apa lagi ini sikecil. Yang ini sudah selesai eh ini nambah lagi. Gegara deman ikan uang saku habis buat beli ikan bahkan sampai harus ngutang dan pesan barang kepada tukang ikan. Kecil-kecil ada saja keluguan yang membuat hati ini gregetan.














Bagus bu ceritanya. Semangat berkarya…
matursuwun komennya bu