Dua Puluh Delapan
Penyabar Terbayar Mahal
Suatu hari di sebuah desa tinggalah seorang anak putri bernama Putri Malu. Putri Malu adalah seorang anak desa yang cantik dan rajin. Dia lahir dari seorang janda yang bernama Ne I’ah. Mereka berdua tinggal di sebuah rumah kontrakan yang sempit dan kumuh. Kehidupan mereka jauh dari kata sejahtera.
Setiap harinya Ne I’ah bekerja serabutan demi memenuhi kebutuhan keluarga. Berawal menjadi asisten rumah tangga, menjual barang rongsokan, hingga mencari kayu bakar demi dapurnya tetap menyala.
Tidak seperti kebanyakan anak remaja, Putri Malu hanya bisa menyelesaikan sekolahnya sampai Sekolah Dasar. Ini dikarenakan kondisi ekonomi yang minim. Namun demikian tidak mengecilkan semangat Putri Malu untuk berusaha belajar sendiri. Disela-sela waktu dia selalu menyempatkan diri untuk belajar membuat tulisan.
Melihat kondisi ini Ne I’ah merasa bersalah. Dia belum bisa memberikan kebahagiaan untuk anak semata wayangnya. “Maafkan ibu ya nak belum bisa membahagiakanmu”, kata ibu dengan suara lirih.
”Jangan begitu bu, bagiku ibu adalah segalanya”, Jawab Putri Malu dengan mata berkaca-kaca dan memeluk ibunya. Sesaat kemudian Ne I’ah beranjak pergi ke kebun tetangga untuk mencari ranting-ranting kering sebagai bahan bakar untuk memasak.
Tiba-tiba hujan turun hingga membuat tubuh Ne I’ah basah kuyup. Setibanya di rumah, Putri Malu langsung memberi ibunya air hangat untuk mandi. Lalu ia meminta ibunya mandi dan beristirahat.
Seketika itu badan Ne I’ah panas dan menggigil. “Loh! badan ibu kok panas. Jangan-jangan Ibu sakit?”, Putri Malu berkata dengan rasa khawatir. Sambil menggigil Ne I’ah berkata,”Nak, sepertinya ibu tidak bisa berangkat kerja besok. Bisa tidak kamu menggangtikan ibu?.”
“Ibu tenang saja semua biar saya yang urus, yang terpenting sekarang ibu sembuh”, jawab Putri Malu sembari memberi obat ibunya. Keesokan harinya Putri Malu menggantikan ibunya sebagai asisten rumah tangga di rumah Bu Tejo.
Bu Tejo adalah tetangga rumah yang profesi sebagai seorang penerbit. Selama melakukan pekerjaan Putri malu menyempatkan diri untuk membuat tulisan. Hingga akhirnya dapat membuat sebuah novel. Tanpa disengaja Bu Tejo melihat novel karya Putri Malu.
Dengan wajah bijaksana Bu Tejo berkata, “Nak! ternyata novelmu bagus juga. Bagaimana kalau Ibu terbitkan mejadi buku?.” Sambil tertegun Putri Malu pun menjawab, “Sepertinya karya saya kurang bagus bu.” Bu Tejo tetap saja memaksa untuk menerbitkan novel Putri Malu yang berjudul Penyabar Terbayar Mahal. Hingga akhirnya novel pun tercetak banyak dan laku keras di pasaran.
Semenjak novelnya laris di pasaran Putri Malu bisa memberikan ibunya sebuah rumah sederhana beserta isinya. Kini Putri Malu menjadi penulis terkenal dan bisa hidup bahagia bersama ibu selamanya.













