Pasang bendera, tradisi tanpa makna yang memalukan negeri

Terbaru538 Dilihat

Agustus tahun ini terasa berbeda. Hampir 2 tahun kemarin, jangankan bulan Agustus, bulan – bulan yang lain pun terlewati begitu saja. Ini terjadi karena Indonesia kedatangan tamu bernama virus Covid 19. Dimana hampir seluruh pelosok desa, kampung, dukuh,,semua dirumah saja.

2 tahun lebih terlewati dengan penuh perjuangan agar tetap hidup.

Indonesia ini merdeka, tapi kok nasib negeri ini kian terpenjara.

Hampir 2 tahun lebih kemarin, semua aspek turun drastis. Yang terpenting, masih bisa makan. Mulai dari ekonomi, pendidikan bahkan sosial budaya.. Semua hancur berantakan.

Kondisi ekonomi yang kian melemah, yang susah tambah susah. Cari makan untuk tetap hidup, target utama rakyat kala itu. Sementara Yang Kaya, tetap berjaya. Miris banget.

Kondisi pendidikan yang makin mengerikan. Guru dipisahkan oleh murid. Murid dipisahkan dengan guru dan sekolah. Murid dipisahkan dengan teman.

Adab dan ilmu..belajar hanya lewat HP.

Jika tak punya HP, maka tak bisa belajar. Belum lagi dengan tuntutan aplikasi HP dari sekolah, yang tentunya mengharuskan punya HP android yang bagus dan memadai untuk aplikasi tersebut.

Hal ini, menyebabkan terjadi nya pencurian HP bagus di beberapa toko HP di Indonesia, yang pelaku nya rata rata adalah orang tua siswa atau kerabat siswa yang tidak mampu.

Ohhhh…merdeka nya negeri ku saat itu.

Siapa yang salah…?

Pastinya pemerintah tak mau di salahkan.

merdeka banget negeriku ini..keren kan? 

Yang lebih miris, ada seorang kakek, yang membeli HP bagus untuk cucunya agar bisa  sekolah, dengan cara mengumpulkan gelas plastik yang di buang di selokan dan pinggir jalan. Recehan demi recehan terkumpul, sampai 1 karung. Lalu di bawa ke konter HP, untuk membeli HP bagus demi tetap bisa belajar meski di rumah saja..bukan nya menjadi motivasi bagi yang malah di viralkan di televisi. Dan jadi bahan tertawaan.

masih pantaskah bendera merah putih itu berkibar? Jika kondisi Adab negeri ini kian hancur? 

Belum lagi aspek sosial budaya. Istilah social distancing, yang memutuskan sillaturrahim semua. Keluarga terputus dengan keluarganya. Tetangga terputus dengan tetangganya. Teman terputus dengan temannya.

Alasannya harus jaga jarak. Dan saling mencurigai. Batuk dikit, langsung di jauhi. Baru bersin, langsung di isolasi dirumah saja.

ohh kian merdeka negeriku.

Pasti nya yang kaya waktu itu, tukang bikin HP, tukang bikin masker dan penjualnya, sama tukang obat batuk.

Wahh..mereka kaya raya waktu itu. Bahkan mungkin sampai sekarang. Karena, di negeriku..selalu saja ada virus – virus baru yang terus diviralkan..terus eksis dan dikembangkan.

Ntah…maksudnya buat apa…

Negeri ini adalah negeri yang kaya. Bisa merdeka tentunya dengan perjuangan yang tidaklah mudah oleh pejuang kita. Darah dan air mata telah mereka tumpahkan di tanah negeri ini.

Akankah di hancurkan oleh segelintir nafsu dan keserakahan manusia sejenis Firaun dan Qorun ..?

Teman..jangan kibarkan bendera itu jika hanya sebagai tradisi yang tanpa makna.

Malu, jika merdeka, hanya sebatas ujar saja, sementara kenyataannya hidup negeri ini belum merdeka.

 

               merdeka atau mati

 

Tak ingatkah kau dengan semboyan pejuang kita, demi bisa tegak nya negeri ini.

 

Cianjur,

1 Agustus 2022

 

 

~ raaina darwis ~

 

 

 

Tinggalkan Balasan