Ingat Kata – Kata Ki Hadjar Dewantara di Hari Guru

Terbaru867 Dilihat
klatenkab.go.id

Sejak tahun 2001 saya menyandang tugas sebagai seorang guru. Mula – mula saya belum percaya ketika akhirnya saya terjun menjadi seorang pengajar. Cita – cita saya awal bukan sebagai guru, lebih kepada dunia entertain, entah artis, pemain drama atau berkecimpung aktif di dunia penulisan karena sebelum menjadi guru saya sempat menjadi kontributor sebuah majalah untuk meliput tokoh, reportase kegiatan.

Tentang Pilihan Menjadi Guru

Tapi dunia guru bagi saya tidak asing. Sebab kehidupan guru itu sangat dekat. Ibu saya seorang guru, bapak saya semula guru sebelum akhirnya menjadi kepala sekolah dan Penilik TK dan SD sampai pensiun. Kakek saya juga guru dan bapak dari ibu saya juga seorang guru.

Semula saya mencoba mencari ladang pekerjaan lain selain guru tapi pada akhirnya ladang pekerjaan saya memang harus menjadi guru. Guru itu sebuah pekerjaan yang membutuhkan kesabaran, butuh panggilan untuk mengabdi dan menjadi contoh dari para siswa atau anak didik. Tidak mudah karena selain sederet stigma bahwa menjadi guru itu hanya sebagai pelarian karena tidak diterima di pekerjaan lainnya, atau pekerjaan guru itu ternyata adalah pekerjaan yang tidak perlu butuh skill yang tinggi.

Pernyataan bahwa penghasilan guru kecil dan jauh lebih menjanjikan jika bisa menjadi pengusaha dan birokrat tidak sepenuhnya benar.  Penghasilan guru mungkin kecil. Sebagai anak pegawai negeri  sebuah desa di daerah Magelang penghasilan guru negeri itu tidaklah seberapa, gaji habis untuk mencicil utang. Potongan banyak hingga tiap bulan kadang minus alias tidak menerima gaji. Untungnya karena hidup di desa, masih punya sawah dan ladang maka makan sehari – hari masih bisa ditutup dengan hasil dari pertanian.

Tapi yang luar biasa dari orang – orang yang berprofesi sebagai guru di desa, sebagian besar bisa menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi. Bahkan ada seorang guru ( kebetulan kepala sekolah SD saya) anaknya 10 dan bisa sekolah sampai ke tingkat sarjana semua.

Perjuangan guru untuk mencerdaskan bangsa tidak mudah, ada banyak guru di pedalaman harus berjuang keras menembus belantara, jalanan yang rusak, jalanan licin untuk mengajar. Tantangan lainnya karena sarana dan prasarana minim membuat guru tidak berdaya memaksimalkan kemampuan untuk terus meningkatkan kemampuan sebagai guru.

Tantangan guru di Indonesia cukup berat karena di tiap rezim biasanya akan selalu membuat peraturan, kurukulum baru sehingga guru mesti menyesuaikan diri terus menerus. Kalau guru berperilaku kurang baik akan menjadi sorotan karena anggapan sejak dulu bahwa guru itu adalah seorang yang harus digugu dan ditiru.

Guru dan Tantangan Era Digital

Tantangan lain adalah bahwa guru sebagai agen perubahan kadang mendapat kritikan tajam karena kurang maksimal sebagai guru, kemampuan yang pas- pasan dan daya adaptasi yang lambat terhadap kemajuan teknologi. Namun diantara banyak kekurangan banyak guru yang sarat dengan prestasi, aktif dalam organisasi, rajin dan berprestasi dalam bidang literasi, bisa menelorkan buku – buku yang berkualitas.

Guru itu sebuah pekerjaan mulia, dalam sebuah ilustrasi diibaratkan guru sebagai alat timbangan dan siswa / pelajar adalah emas dan batu mulia. Untuk mengukur seberapa berat dan berkualitasnya emas maka dibutuhkan timbangan atau alat yang bisa mengukur seberapa tinggi kadar emas. Guru diibaratkan timbangan dan alat ukur tersebut. Meskipun harga timbangan tidak sebanding dengan harga emas, tetap saja dibutuhkan. Tanpa guru potensi siswa yang unggul tidak akan ditemukan. Maka murid – murid yang berprestasi itu harus melalui timbangan dan polesan dari guru untuk menghasilkan emas yang berkualitas.

Di era sekarang ini ketika banyak sekali media yang bisa membuat manusia cerdas tanpa bantuan guru. Ada mesin pencari google, ada Youtube yang bisa mengajarkan banyak hal dengan video tutorialnya, guru tetap belum tergantikan. Seorang guru harus memastikan siswanya berjalan dalam rel yang benar agar ke depan tidak tersesat atau terperosok di jalan yang salah.

Fungsi guru menjadi fasilitator, menjadi jembatan penghubung kesuksesan generasi yang akan datang. Tantangan ke depan akan semakin berat maka guru sangat dibutuhkan untuk memberi timbangan, memberi motivasi dan semangat belajar yang tinggi agar bisa bersaing ditengah persaingan usaha yang semakin ketat.

Saya jadi ingat  perkataan Ki Hadjar Dewantara Ing sung Tulodho, Ing madya mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Di depan memberi teladan atau contoh nyata, di tengah memberi ide,motivasi atau semangat, di belakang memberi selalu menuntun siswanya ke jalan kebenaran. Selamat Hari Guru. Tetap Semangat Membangun Bangsa.

Tinggalkan Balasan