“Horee …!” Aku Dapat Hadiah
: Kharir Hatta
Mendapatkan hadiah itu menyenangkan, meski bukan hadiah barang-barang mewah. Bukan semata soal apa hadiahnya, namun perasaan diperhatikan dan diapresiasi membuatnya bisa begitu istimewa. Pernah dapat hadiah? Siapa yang memberi Anda hadiah? Tersebab apa Anda dapat hadiah?
Ada banyak jawaban yang bisa dituliskan untuk menjawab semua pertanyan itu. Pertama, pernah dapat hadiah? Tentu ada yang sudah pernah berkali-kali mendapatkan hadiah. Ada juga yang bahkan belum pernah mendapatkannya. Ada juga yang pernah mendapat hadiah istimewa, tapi setelah itu lama ia tak mendapatkan hadiah lagi. Ada juga yang sepanjang hidupnya mendapat hadiah bertubi-tubi, bahkan menjelang ajal pun masih dapat hadiah. Sudah sampai di liang lahat masih juga dapat hadiah. Bahkan kaum muslimin percaya bahwa orang-orang yang sudah meninggal tetap bisa menerima hadiah Alfatihah dari mereka yang masih hidup.
Kedua, siapa yang memberi Anda hadiah? Mendapatkan hadiah bisa dari siapa saja. Kerabat, teman dekat, bahkan para pejabat juga sering mendapatkan dan menerima hadiah, baik yang berupa sesuatu yang remeh sampai hadiah yang memesona. Menerima hadiah akan menjadi pemberian yang berharga, bernilai, dan bermakna bagi yang menerimanya. Hadiah itu mengawetkan kenangan kita kepada sang pemberinya. Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Pernahkah Anda memberi hadiah? Lalu, siapa saja yang pernah mendapatkan hadiah dari Anda?”
Ketiga, tersebab apa mendapatkan hadiah? Orang mendapat hadiah bisa saja karena mengikuti perlombaan, sebab ia berulang tahun, atau karena kesyukuran dan kemurahan hati, juga sebagai bentuk apresiasi atas suatu pencapaian. Kala mengikuti perlombaan misalnya, ada semacam harap di hati kita untuk mendapatkan kemenangan dan hadiah. Kemenangan sebagai hadiah abstrak berupa pengakuan, sementara hadiah materilnya berupa barang. Dan ternyata di balik suatu hadiah, bisa ada beragam motif di belakangnya.
Bagi anak-anak kecil, sebuah hadiah yang sekalipun berupa barang atau benda sederhana bisa besar nilainya. Meskipun barang atau benda itu bisa ia minta dibelikan kapan saja kepada orangtuannya. Contohnya, putra bungsu saya.
Suatu ketika ia mendapatkan hadiah sepaket masker dan handsanitizer dari bapak Gurunya. Hadiah itu ia dapat dari mengikuti perlombaan menulis puisi dalam rangka HUT RI ke-76 di sekolahnya. Menang juara dua, betapa gembiranya dia saat membuka bungkusan hadiah kecil itu. Dirobeknya kertas pembungkus perlahan dan hati-hati. Semula dia menduga hadiah itu berisi snack atau jajanan kesukaannya. Tapi begitulah…, pak Guru selalu punya kejutan. “Masker! Handsanitizer!” sorai bocah itu.
Yuk, kita baca puisinya:
Indonesiaku
: Abdullah Nawwalel Hakim Asy-Syakur
Indonesia negeriku
Indonesia bumi pertiwiku
Indonesia bahasa persatuanku
Merah putih bendera negaraku
Majulah negeriku, majulah bangsaku
Bersatulah wahai saudara-saudaraku
Mari berkarya untuk pembangunan bangsa
Semangat terus kita jaga
Berkreasi untuk bangsa, berinovasi untuk negara
Demi bangsa dan negara kita
Wahai pemuda-pemudi Indonesia
Songsong masa depan bangsa
Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh
Jagalah Indonesiaku
Jayalah negaraku
Merdeka bangsaku
* * *
Kendal, 7 September 2021
https://kharirhatta.blogspot.com/













