
Sudah dua tahun festival bakar tongkang di Bagansiapiapi ditiadakan. Bakar tongkang adalah tradisi tahunan untuk memperingati kedatangan pertama masyarakat Tionghoa di kota yang juga berjuluk Ville Lumiere (kota cahaya) ini.
Sejarah bakar tongkang
Melansir Wikipedia, sekelompok orang dari Provinsi Fujian di Cina memutuskan pergi merantau demi mencari penghidupan yang lebih baik. Mereka menyeberangi lautan dengan menggunakan kapal kayu sederhana.
Dalam kebimbangan dan kehilangan arah, mereka berdoa memohon penuntun arah menuju daratan kepada penguasa laut, Dewa Kie Hu Ong Ya. Di tengah malam yang hening, tiba-tiba mereka melihat adanya cahaya yang samar-samar.
Para perantau ini berpikir bahwa cahaya tersebut berasal dari api di daratan. Dengan mengikuti arah cahaya, mereka tiba di daratan. Daratan tersebut ternyata adalah pesisir Bagansiapiapi.
Cahaya terang yang mereka lihat pada saat kehilangan arah adalah cahaya yang dihasilkan oleh kunang-kunang di atas bagan (tempat penampungan ikan di pelabuhan). Mereka melihat bahwa di sana terdapat banyak ikan laut. Dengan penuh sukacita mereka menangkap ikan untuk kebutuhan hidup.
Sebagai wujud terima kasih kepada Dewa Kie Hu Ong Ya, mereka membakar tongkang yang mereka tumpangi sebagai sesajen. Hal itu terjadi pada penanggalan Imlek bulan ke-5 (go ge) tanggal 16 (cap lak).
Prosesi upacara bakar tongkang
Pada malam menjelang upacara, replika tongkang disimpan dan diberkati di kelenteng induk (Ing Hok Kiong). Sepanjang malam sampai tengah malam, umat Budha membawa persembahan ke Ing Hok Kiong untuk sembahyang. Bau dupa dan asap memenuhi sekitar kelenteng.
Pada siang hari esoknya, satu per satu tangki (dukun yang kemasukan arwah dewa dari masing-masing kelenteng) akan menuju ke Ing Hok Kiong. Uniknya, mereka bisa dibariskan sesuai urutan.

Kemudian drum band akan memulai perarakan diikuti oleh tangki-tangki tersebut dan diakhiri dengan arak-arakan patung-patung dewa yang terbuat dari kertas serta replika tongkang yang dibuat dari kombinasi kayu, bambu, dan dihias kertas.
Tingginya tongkang yang diarak seringkali akan menyentuh kabel-kabel listrik di sepanjang jalan. Ada petugas yang mengangkat kabel-kabel listrik atau telepon menggunakan tongkat supaya tidak menyentuh tongkang.
Perarakan akan berhenti di lokasi pembakaran yang diyakini sebagai titik pendaratan pertama leluhur orang Bagansiapiapi. Lapangan ini telah dipenuhi dengan tumpukan kertas kuning. Tepat pukul 4 sore, replika tongkang mulai dibakar.
Biasanya ada menteri atau gubernur yang hadir dan akan naik ke atas tongkang. Kemudian tongkang akan dibakar. Kertas-kertas sembahyang yang ditebar di sekeliling tongkang membumbung tinggi ketika terbakar. Pemandangan yang sangat magic untuk diabadikan dengan kamera.

Pada saat terakhir, tiang utama tongkang yang terbakar akan jatuh ke tanah. Masyarakat percaya, bila tiang jatuh ke arah darat maka keberuntungan tahun berikut akan ada di usaha-usaha yang di darat. Sebaliknya kalau ke arah laut, usaha-usaha yang berhubungan dengan perikanan dan kelautan yang akan mendapat keberuntungan.
Indahnya keberagaman
Penulis mencoba melakukan survei kecil-kecilan melalui formulir google. Survei ini mendapat respons dari 70 responden lintas generasi.
Terdapat 8 baby boomers, 48 Gen X, 7 Gen Y dan 7 Gen Z. Sebanyak 63 orang responden lahir di Bagansiapiapi, 3 orang lahir di Medan, serta masing-masing 1 orang lahir di Pekanbaru, Sinaboi, Pulau Halang, dan Jakarta.
Hanya 11 orang responden yang saat ini berdomisili di Bagansiapiapi, selebihnya tersebar di Bali, Bandarlampung, Bandung, Medan, Jambi, Jawa Timur Makasar, Surabaya, Tangerang, Serpong, dan Jakarta.
30 responden memandang ritual bakar tongkang sebagai upacara keagamaan, 30 yang lain memandangnya sebagai wisata budaya dan 10 orang tidak menjawab. Beberapa responden memberi catatan tentang indahnya keberagaman yang tampak dalam festival ini.
Mardi Wu, Gen X kelahiran Bagansiapiapi yang kini berdomisili di Jakarta, bercerita tentang akulturasi budaya yang dipandangnya sebagai keunikan festival bakar tongkang beberapa tahun terakhir sebelum datangnya pandemi.
Menurut Mardi, pentas pada malam sebelum perarakan pada tahun-tahun terakhir selalu dibuka dengan tarian Melayu Sekapur Sirih. Selain itu, kertas yang digunakan sebagai pakaian patung-patung dewa, sebagian bermotif batik.
Yusuf, Gen Y kelahiran Pekanbaru yang kini bekerja di Bagansiapiapi, bercerita tentang pengalamannya diberi kesempatan sebentar untuk ikut serta mengangkat tongkang yang diarak menuju tempat pembakaran.
“Pada festival bakar tongkang tahun 2017, saya dan seorang teman berdiri tepat di sebelah tongkang pada saat prosesi akan dimulai. Kami berdua diperkenankan ikut mengangkat tongkang, suatu kesempatan yang tidak kami sia-siakan.” cerita Yusuf. “Ini menjadi sebuah nilai yang baik bahwa budaya bakar tongkang telah menjadi bagian bagi seluruh masyarakat, tanpa melihat suku atau agama. Saya yang Batak dan Katolik juga diperkenankan ikut ambil bagian.”
Sasmalita, Gen Z kelahiran Bagansiapiapi yang saat ini sedang kuliah di Medan, bercerita bahwa pada festival bakar tongkang tahun 2018 dia bersama anak-anak muda katolik diberi kesempatan menjadi sukarelawan dalam membersihkan sampah di jalan.
Seorang responden yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan bahwa bagi umat Budha dari Bagansiapiapi maupun pendatang dari luar daerah, go ge cap lak adalah kesempatan bersembahyang untuk mengucap syukur dan meminta keberkahan. Bagi yang beragama lain, menyaksikan festival bakar tongkang adalah untuk melihat keramaian dan menimba wawasan terkait kegiatan keagamaan yang sudah berkembang menjadi wisata budaya.
Sebuah harapan
Para responden berharap pandemi COVID-19 akan segera berakhir dan festival bakar tongkang dapat dilaksanakan kembali. Banyak perantau dari Bagan yang pulang kampung untuk menghadiri festival ini, demikian juga wisatawan dari mancanegara.
Hampir semua responden setuju bahwa event ini menyejahterakan ekonomi masyarakat Bagansiapiapi dan sekitarnya, mulai dari penginapan, kuliner, jasa, hingga oleh-oleh.
Siska Dewi untuk Inspirasiana








