Kontekstualisasi Tradisi “Wiwitan”: Bertani Menjaga Keutuhan Ciptaan

Foto ritual tradisi wiwitan (Kompas/Ferganata Indra Riatmoko)

 

 

Bertani wujud ibadah kehidupan

Bagi masyarakat agraris, bertani adalah kehidupan. Bukan hanya sebagai sumber utama penghasilan. Namun sungguh bertani sebagai ritme dan nafas kehidupan.Harmoni antara teknologi dan ritual tradisi. Bertani wujud ibadah kehidupan.

Wiwitan merupakan ritual tradisional petani padi. Berlaku secara umum di pulau Jawa dengan aneka sebutan. Bahkan juga merata di persada Nusantara dengan aneka variasi sesuai budaya lokal setempat. Keberagaman cara menyambut panen padi.

Masa kecil kami, begitu padi menguning keemasan, keceriaan seolah tercurah di kawasan masyarakat. Teriakan penghalau burung ditingkah suara plok-plok… Tepukan bilah bambu maupun anggukan wong-wongan (orang-orangan) sawah menjadi salah satu hiburan menarik.

Secara arif, petani mengerti bahwa keluarga burung emprit juga membutuhkan pakan dengan cara menotol malai padi. “Hai burung emprit, ayok sudah cukup ya, keluarga kami di rumah (yang berukuran besar versus badanmu) juga butuh makan….”

Petani padi memandang hamparan sawah dan kegiatan sebagai bagian semestanya. Menjelang panen padi seluruh jiwa raganya melantunkan syukur. Mewujud dalam ritual persembahan sebagai wujud terima kasih.

Memakai dasar perhitungan hari baik disesuaikan dengan kondisi tanaman. Ritual wiwitan dilakukan secara mandiri di petak persawahan. Maupun bergabung beberapa petani pada suatu blok persawahan yang ditanam serempak.

Pemimpin ritual oleh orang sepuh atau seseorang yang dituakan. Rombongan pelaku ritual menuju petak sawah dengan laku khidmat. Bukan dengan tangan kosong. Ada perlengkapan sesaji maupun rangkaian sega wiwit.

Berawal dari menilik kesiapan lahan untuk dipanen. Pimpinan ritual dengan cara budayanya mengucap syukur. Meletakkan sesaji pada ke empat sudut penjuru sawahnya.

Dilanjutkan melakukan panen perdana yang menjadi panenan sulung. Diakhiri dengan sukacita kebersamaan menikmati hidangan sega liwet yang sudah dipersiapkan dengan lengkap. Setelah acara doa syukur, petani beserta kerabat dan tetangga saling berbagi. Nasi tumpeng dibagikan, ingkung utuh di’cuwil’.

Hasil panen wiwitan dengan takzim diiring ke rumah. Masyarakat menyebutnya menjemput pengantin padi. Ada yang disimpan di senthong atau kamar tengah bersama pusaka yang dimiliki keluarga. Panenan yang disakralkan.

Beberapa mengambil sebagian kecil untuk diikatkan di saka guru tiang utama rumah. Bahkan ada yang digantungkan di bandar kayu utama penyangga atap rumah. Keluarga merasakan penyertaan Sang Maha melalui panen. Menghadirkan rasa tenang dan pengharapan saat menghadapi masa sulit.

Bagaimana dengan rupa perlengkapan sega wiwit? Terdapat variasi sajian. Mengikuti kekhasan setiap wilayah sesuai dengan potensi kelokalannya.

Ritual ini kini mulai jarang dilakukan. Menarik mengulik Festival Sega Wiwit saat peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) 2016. Panitia melibatkan perwakilan kelompok tani di Kabupaten Boyolali.

Foto sega wiwit (dokpri Suprihati)

 

Sungguh meriah dengan peserta mencapai ratusan. Setiap kelompok berupaya tampil maksimal melalui kekhasan busana. Peserta mengenakan aneka lurik, ada batik, iket udheng yang semarak.

Kelengkapan uba rampe sega wiwit ditata dengan artistik pada tempat yang disebut jodang (seperti meja dari bilah bambu). Kreativitas peserta festival tecermin dari keanekaan cara menyusun pun kelengkapannya. Upaya meneruskan nilai kearifan lokal dari sega wiwit.

Ada tumpeng merah putih, ada ani-ani alat panen padi tradisional, pun aneka penganan jajan pasar. Aneka wujud dari tumpeng, sega golong, urap pun ingkung ayam wutuh. Menghadirkan aneka simbol Dewi Sri, penjaga kesuburan tanah.

Kontekstualisasi Tradisi “Wiwitan”:  Bertani Menjaga Keutuhan Ciptaan

Tradisi wiwitan bukan sekedar tradisi yang dianggap kuna. Mengandung makna kearifan lokal. Bagaimana bertani bagian dari menjaga keutuhan ciptaan. Tentunya diperlukan kontekstualisasi nilai agar tidak tertinggal oleh peradaban budaya.

Saat petani melakukan ‘nyulik’ bagian dari sampling mengetahui tingkat kematangan padi. Inilah panen perdana. Bila semuanya sudah siap petani akan mulai panen. Bagian dari proses penjaminan mutu.

Hasil awal yang berupa malai sulung diboyong ke ruang tengah alias (senthong tengah) posisi yang disakralkan dalam rumah Jawa. Bulir bernas dari malai mengemas akan disimpan sebagai benih penanaman berikutnya. [Tentunya tidak berlaku pada penanaman padi hibrida yang mengalami penurunan performa hasil dari turunan benih asli.]

Panen adalah saatnya petani bersuka ria, mengucap syukur atas anugerah Sang Maha Pemurah. Syukur atas pemeliharaan. Syukur atas karunia lahan yang subur. Juga syukur atas kesatuan komunal yang terbuhul.

Tradisi wiwitan memuat spiritual transedental. Pengakuan atas kuasa Sang Maha Pencipta. Mewujud melalui simbol tumpeng. Simbol tumpeng yang mengerucut ke atas. Tumpeng… tumuju mring Pangeran (mengandalkan pertolongan Tuhan).

Spiritual ekologis juga diwujudkan melalui tradisi wiwitan. Pengakuan bahwa manusia bagian dari alam. Setiap sudut empat arah mata angin mendapat kembang setaman. Sisa dedaunan alas makanan dan tulang didaur ulang dalam tanah. Sikap sedia menjaga kelestarian alam.

Begitupun spiritual humanistik, pewujudan nilai manusia sebagai ciptaan sosial. Mari bersama bersuka syukur, mengambil dari suatu kesatuan tumpeng dan ingkung. Membagi dari sumber yang sama.

Menarik sebutan wiwitan atau permulaan untuk ritual syukur panen. Kearifan memaknai bahwa panen bukan akhir namun awal. Terasa pemahaman bertani secara lumintu (sustainable). Suatu siklus yang berulang seraya meningkat. Laiknya model peningkatan mutu model Kaizen.

Wiwitan menggambarkan rasa syukur diberkati dan menjadi berkat. Berkat sulung yang diteruskan untuk generasi penanaman berikutnya. Meluas menjadi bertani untuk generasi selanjutnya. Menjaga kelestarian.

Keberlanjutan penyediaan pangan melalui pengelolaan hasil panen. Sebagian hasil panen untuk benih. Ada yang menjadi sediaan masa paceklik. Begitupun untuk aksi sosial. Panenan bukan untuk dihabiskan seketika.

Kesadaran bahwa bertani menjaga kesatuan ciptaan. Merangkum spiritual transedental, ekologis dan humanistik. Senang sekali dengan pelestarian tradisi sega wiwit ini. Kearifan lokal yang membuhul tri spiritual kepada Tuhan, sesama dan alam.

Terasa ada benang merah dengan hakekat Tri Hita Karana yang menjadi semangat jiwa para sedulur di Pulai Bali. Betapa kita tidak bersyukur…bertanah air kaya dan makmur… Kekayaan budaya sebagai pemersatu.

Wasana kata

Tradisi ritual wiwitan sebagai warisan budaya nuansa kearifan lokal tetap bermakna. Kontekstualisasi nilai pewujudan spiritual transedental, ekologis dan humanistik secara utuh. Dasar kajian dan teknologi bertani menjaga keutuhan ciptaan.

Suprihati untuk Komunitas Inspirasiana

 

Tinggalkan Balasan

1 komentar