Cerpen 10 Bagian 2

Terbaru761 Dilihat

Menulis PGRI

 

February 20, 2021

 

KESETIAAN SEORANG WANITA (Bagian 2)

Oleh: Lili Suriade, S.Pd

Sore hari, kembali dia dibangunkan oleh nada dering HP nya. Dengan mata yang masih mengantuk, tangannya menggapai-gapai HP nya.

“ Hallo bang..?” Licha memulai pembicaraan.

“Hallo..Cha, abang gimana sih, ini gw lho Indah..”

“Ups..sorry, gw masih mengantuk nih.”

“Kamu gak masuk?..kita lagi diskusi nih dengan pak Rolindo.”

“Apa?  Kita ada kelas ya sekarang?” Tanya Licha kaget sambil bangkit dari tempat tidurnya.”

“Iya..cepatlah, mumpung pak Rolin belum mengambil Absen, sebentar lagi kelompok kita tampil! Jangan lupa lu bawa makalah kelompok ya.”

“Ya sudah,gw siap-siap dulu deh. Nanti sampai di depan lokal gw telphon lu ya.”

“Siip.” Licha langsung mematikan Hp. Setelah itu, dia bergegas ke kamar mandi. Dalam hitungan menit, dia sudah selesai berdandan. Licha cepat-cepat memanggil gojek melalui aplikasinya. Sebenarnya, ia merasa gamang selama ini kemana pun pergi Licha selalu di antar jemput Marlon.

Setengah berlari Licha menelusuri gang sempit di depan kosnya menuju jalan raya. Selang 2 menit dia sudah mendapatkan gojek yang dipesannya.

“Ke Mipa pak..” Ucapnya sambil naik ke atas gojek.

Tukang gojek hanya diam dan langsung melaju menuju Fakultas MIPA.

Turun dari gojek, Licha langsung memberikan uang 10 ribuan sesuai dengan tarif yang ia baca tadi.

“terima kasih Pak.” Ucap Licha sambil kemudian berlalu meninggalkan gojek itu.

Di depan  ruang kelas A2, Licha mengintip dari balik jendela, terlihat pak Rolin berdiri di depan kelas menerangkan materi perkuliahan.

Dia menelpon Indah, tapi Indah malah merejek panggilannya. Licha terpaksa berdiam diri di depan pintu sambil menunggu aba-aba masuk dari Indah.
Pak Rolindo sangat disiplin, ia tidak akan membiarkan mahasiswa masuk kelas, kalau terlambat lebih dari 5 menit. Makanya Licha harus bisa masuk kelas di saat pak Rolin lagi lengah.

Beberapa saat kemudian, Indah keluar.

“Cepatlah..kita masuk aja. Langsung duduk di kursi depan. Giliran kelompok kita tampil.” Bisik Indah kepada Licha.

“Terus gimana kalau gw ketahuan?” Tanya Licha.

“Santai aja, kalau bapak nanya, Lu bilang aja tadi lu permisi ke WC. Ayo…!” Ajak Indah sambil menarik tangan Licha.

Semua mata teman-teman kelas A mengarah ke arah Licha. Licha berusaha bersikap santai dan tenang. Ia segera duduk di kursi depan sambil memegang makalah kelompok yang sudah hampir seminggu ditulisnya.

“Silahkan kelompok tiga..” ucap pak Rolin tanpa curiga sedikit pun. Meski tampak cemas, akhirnya Licha bisa lega setelah berhasil tampil dalam diskusi kelompok sore itu.

Pulang kuliah, tepat pukul 17.00 WIB, Licha mampir ke kantin kampus bersama Indah dan Dessi. Licha merasa sangat lapar, sejak siang tadi belum makan apa pun.

Ketika sedang menikmati makanannya, Seseorang memanggil Licha dari kursi bagian belakang di kantin itu.

“Dik..makan soto yuk?”

Licha hanya diam. Ia tak menyangka dirinya lah yang dipanggil.

“Cha..ditawarin tuh makan soto sama cowok ganteng..!” bisik Dessi sambil menyenggol tangan Licha yang sedang menikmati ayam goreng.

“Apaan sih, mana ada?” Jawab Licha cuek.

“Adik yang berbaju kuning…!” Seketika Licha baru sadar bahwa benar dirinya yang dipanggil. Dengan sedikit malu-malu dia menoleh ke belakang.

“Iya..ada apa kak?” Tanya Licha.

“Makan soto yuk..” ucap seorang cowok yang memang di akui Licha sangat gagah.

“Ehe, iya terima kasih. Lanjutlah kak.” Jawab Licha sungkan. Licha kembali pada makanannya. Ia tak mau berpikiran macam-macam, Ia ingat janji setianya kepada Marlon.

Tiba-tiba cowok itu menuju meja kasir, lalu ia pun membayar makanannya. Beberapa saat kemudian, ia kembali ke meja Licha.

“Dik..makanannya sudah kakak bayar. Tiga kan?”

“Aduh jangan kak, terlalu banyak.” Jawab Licha.

“Gak apa-apa, hitung-hitung sebagai tanda perkenalan. Adik namanya siapa?” Cowok itu langsung mengulurkan tangannya dengan sopan. Dari wajah dan penampilannya sepertinya dia adalah sosok intelektual yang mapan. Dia memakai kemeja cream dengan dasi coklat dipadu dengan celana dasar hitam. Sepatunya hitam mengkilap.

Sesaat Licha tercenung memandang si cowok. Beberapa saat kemudian, perlahan Licha pun menjabat tangannya.

“Licha..” jawab Licha sambil tersenyum.

“Licha, nama yang sangat cantik. Nama kakak Mulyan.” (Bersambung)

 

Comments

 

 Powered by Blogger

Theme images by Michael Elkan

LILI SURIADE LOMBA PGRIVISIT PROFILE

Archive

Report Abuse

Tinggalkan Balasan