SABAR
Oleh: Lili Suriade, S.Pd
Windu tak pernah menyangka akan tinggal di rumah mewah seperti ini. Sebelumnya Windu dan ibunya tinggal di sebuah gubuk reot di tengah ladang karet majikan ibunya. Ayah Windu sudah tua, usianya sudah 59 tahun, Ia sudah kelelahan disaat mengerjakan pekerjaan berat. Makanya Windu selalu bekerja keras untuk meringankan beban orang tuanya. Sementara ibunya sendiri mengalami depresi sejak meninggalnya Wendi, adik kandung Windu dua tahun yang lalu. Ibunya selalu menangis, terkadang berteriak histeris sehingga Windu begitu sedih melihatnya. Namun ayah selalu menguatkan Windu. Hari-hari yang begitu sulit dijalani Windu dengan penuh kesabaran. Tak jarang, ia harus berurai air mata menghadapi semuanya.
Setiap hari, Windu pergi bekerja menggantikan Ibunya, ke rumah majikannya. Sejak pagi sehabis subuh, sebelum berangkat ke sekolah ia selalu membantu merawat bu Rina yang kaya raya namun terserang stroke. Windu membantu segala pekerjaan rumah bu Rina, seperti memasak, membenahi rumah dan mengurus bu Rina. Selain itu, sore harinya Windu akan datang lagi untuk memandikan dan menyuapi bu Rina. Pekerjaan itu selalu dijalaninya dengan tekun dan ikhlas selama dua tahun terakhir.
“Kasihan bu Rina, ia sangat menderita sementara anaknya 2 orang tengah berada di Amsterdam. Mereka bahkan sudah berkeluarga di sana.” Komentar tetangga bu Rina. “iya.. waktu masih sehat Bu Rina selalu dikirimi uang yang banyak dari anaknya. Bahkan sudah beberapa kali bu Rina pergi naik haji ke tanah suci.” Ungkap pak lurah.
“Bu Rina..aku sudah selesai. Aku pamit dulu ya Bu.” Ucap Windu sambil menyalami bu Rina yang masih duduk di kursi rodanya. Tak lupa Windu mengantarkan bu Rina ke kamar nya.
“Ibu baik-baik ya. Jangan lupa makan yang banyak bu.” Ucap Windu yang berlutut di hadapan bu Rina, sambil menyalami bu Rina seperti seorang anak yang pamit pada orangtuanya. Biasanya, bu Rina hanya diam dengan sedikit senyuman, namun kali ini dia justru menggenggam erat tangan Windu. Windu merasakan getaran yang berbeda dari tangan bu Rina. Ia seolah enggan melepaskan genggamannya.
“Ibu..Windu harus pergi sekolah, nanti setelah pulang Windu kesini lagi ya.” Ucap Windu dengan tatapan penuh kasih kepada bu Rina.
“Assalamualaikum Bu…” Ucap Windu sambil melepas genggaman tangan bu Rina. Bu Rina pun melepas kepergian Windu dengan tatapan penuh kesedihan.
Windu segera pulang. Jarak rumahnya dengan ladang bu Rina adalah sekitar 1 km. Jalan setapak itu sudah sangat akrab dengan kaki kecil Windu sejak dulu. Dari kecil ketika ibunya masih sehat, Windu sudah terbiasa melintasi jalanan ini sendirian. Hanya dalam waktu 7 menit, Windu pun sampai di gubuknya.
“Gimana keadaan bu Rina?” itulah pertanyaan yang selalu dia dengar dari kedua orangtuanya pertama kali.
“Alhamdulillah.. sudah mulai mendingan bu. Cuma tadi bu Rina seperti gak mau melepaskan tangan Windu.” Jawab Windu.
“Wajarlah nak..mungkin bu Rina ingin tetap Windu ada di sana. Ya sudah, sekarang pergilah sekolah. Nanti malam Windu tidur di tempat bu Rina saja.” Jawab ayahnya.
“Iya nak..Ibu juga mulai mendingan kok. Nanti Windu temani bu Rina saja. Kan di sana juga ada pak Satpam.” Ungkap Ibu lagi.
“Baiklah ayah..Ibu..!.” Jawab Windu sambil bergegas mandi.
Dalam waktu setengah jam dia sudah siap dengan seragam sekolahnya. Ia kembali berlarian menelusuri jalanan setapak menuju jalan raya. Kemudian, ia pun menunggu mobil angkutan umum di pinggir jalan.
Sesampainya di sekolah, Windu masuk ke kelas. Ia langsung mengikuti pembelajaran dengan tekun. Ia bertekad untuk bisa lulus dengan nilai terbaik, agar orangtuanya bangga dan bahagia.
Sumpur Kudus, 6 Februari 2021









