Menulis PGRI
JODOH DARI PACAR
Oleh: Lili Suriade, S.Pd
Aku bukan tak tahu alasan apa yang membuatmu datang ke rumahku malam ini. Kabar tentang rencana pernikahanmu sudah heboh hingga ke pelosok kampung. Bahkan, baru tadi siang prosesi pelamaranmu selesai. Aku tahu semua itu, hanya saja aku tak ingin mendengarnya dari mulut orang lain, aku ingin kamu langsung yang mengakui semuanya kepadaku. Walau sangat pahit, semua itu akan kutelan dengan ikhlas.
“Ada apa?” Tanyaku memulai pembicaraan. Aku yakin, kamu sedang bimbang untuk mengutarakan isi hatimu saat ini.
“Aku..aku minta maaf.” Ucapmu terbata-bata.
“Minta maaf? Untuk apa?” Tanyaku masih dengan ekspresi yang pura-pura tidak tahu.
“Kita harus berpisah. Aku akan menikah dengan orang lain.” Kata-kata itu akhirnya meluncur lancar dari mulutmu.
Aku sudah bertekad untuk kuat, aku tak boleh sedih apalagi lemah.
“Baiklah, aku ikhlas melepaskanmu.” Ungkapku dengan suara mulai serak, namun mencoba tetap tersenyum memandangmu.
“Terima kasih..kamu memang kekasih yang luar biasa. Aku berhutang cinta padamu. Suatu saat akan ku balas kebaikanmu ini.” Ucap Juandi siang itu.
Akhirnya perpisahan itu datang juga. Aku tak sanggup hadir di pestamu. Pesta itu pasti akan melukai jiwaku. Aku tak sanggup menjawab beberapa pertanyaan orang-orang kepadaku, atau menatap wajah-wajah yang akan memperhatikanku di sana Aku tak ingin mengingatnya. Akhirnya kuputuskan untuk menghindar. Aku pergi ke rumah Rika, shohibku. Aku ingin menenangkan jiwaku di sana.
“ya Allah..kuatkanlah aku. Berikanlah jodoh terbaik untukku.” Aku melepaskan semua rasa lewat doa di atas sajadah merah yang pernah kau hadiahkan di hari ulang tahunku malam ini.
Aku memandang wajahku di depan kaca. Wajah yang selama ini dikenal oleh teman-teman bahkan hampir semua orang kampung mwngwtahui aku adalah pacar Juandi. Juandi yang kini telah pergi, menikah dengan Putri, salah seorang lulusan PNS di kampung kami.
Berita tentang kelulusan Putri menjadi PNS dengan cepat menyebar ke segala arah. Berbagai tanggapan penuh kekaguman dilontarkan orang-orang kepada Putri.
Aku yang hanya tamatan SMA tercampak begitu saja. Justru kamu dinilai sebagai orang yang paling beruntung saat berhasil meminang Putri.
Semua keluargamu terlihat sangat bahagia, ketika aku menonton ulang siaran langsung prosesi pernikahanmu. Namun aku yakin, kamu tidak sama dengan mereka. Meski tersenyum, adakah sedikit saja kamu ingat kepadaku? Oh…aku terlalu berharap.
“ Selamat siang nak Riyana, ada yang ingin bertemu kamu.” Ucap bi Rere siang itu.
“Oya? Siapa?” Tanyaku penuh keheranan.
“Pak guru, Beliau ada di ruang tamu.” Ungkap bi Rere lagi.
Aku berjalan menuju ruang tamu. Perasaan penasaran mulai merasukiku. Namun aku langsung lega ketika melihat siapa yang datang.
“Eh..pak Alde. Apa kabar?” Aku langsung menyalami pak Alde, seorang guru SMA di kampung kami.
“Alhamdulillah..kabar baik Na. Kamu sendiri?”
“Sama pak, Alhamdulillah saya baik juga.” jawabku.
“Saya kesini ingin mengantarkan sebuah surat. Silahkan dibaca.” Ungkap pak Alde lagi.
Riyana langsung membaca surat yang diberikan pak Alde.
Riyana..maafkan aku melakukan semua ini. Aku ingin kamu menikah dengan kakak sepupuku, Alde. Dia orang yang sangat baik dan bertanggung jawab, tidak seperti aku. Dia juga sudah mapan. Percayalah kepadaku, Alde adalah jodoh terbaik untukmu.
Wasalam,
Juandi (Bersambung)
Sumpur Kudus, 10 Februari 2021
Comments
Theme images by Michael Elkan
LILI SURIADE LOMBA PGRIVISIT PROFILE








